Jadikan Kekasihmu sebagai Rumah Sejati

Jadikan Kekasihmu sebagai Rumah Sejati

Kita perlu memberitahu semua anak muda bahwa mereka rupawan apa adanya; tidak perlu meniru orang lain.

Oleh: Zen Master Thich Nhat Hanh

Thay di New Hamlet

Setiap orang sedang berusaha mencari di mana rumah sejatinya. Kita tahu bahwa rumah sejati ada di dalam diri sendiri, dan dengan energi kesadaran kita dapat kembali ke rumah sejati yang ada di sini dan saat ini. Sanggha (komunitas) adalah rumah sejati kita.

Dalam bahasa Vietnam, suami memanggil istrinya dengan istilah “rumahku”. Istri memanggil suaminya dengan istilah “rumahku”. Ketika seorang lelaki ditanya “Di mana istrimu” Dia akan menjawab, ”Rumahku di kantor pos sekarang.”, Dan jika seorang tamu bertanya kepada istrinya, ”Rumahmu indah; siapa yang mendekorasinya?” Dia akan menjawab,”Rumahku yang medekorasinya”, artinya “Suamiku.” Ketika suami menyapa istirinya, dia berkata, “Nha oi,” rumahku. Dan istri menjawab, “Saya di sini.” Nha oi, Nha toi.

Ketika hubungan Anda seperti demikian, maka sang kekasih adalah rumah sejati. Anda seharusnya menjadi rumah sejati bagi dia juga. Pertama-tama Anda perlu menjadi rumah sejati bagi diri sendiri terlebih dahulu agar Anda bisa menjadi rumah sejati bagi dia dan bagi orang yang dicintai. Bagaimana? Kita membutuhkan latihan sadar penuh.

Di Plum Village, setiap kali Anda mendengar bel, Anda berhenti berpikir, Anda berhenti berbicara, Anda berhenti sejenak dari apa pun yang sedang Anda lakukan. Anda mencurahkan perhatian pada napas masuk sewaktu Anda bernapas masuk, Anda bilang “Saya dengar, saya dengar. Suara yang merdu ini membawa saya kembali ke rumah sejatiku.” Rumah sejatiku ada di dalam diriku. Rumah sejatiku ada di sini dan di saat ini. Sehingga berlatih kembali ke rumah adalah yang kita lakukan sepanjang hari, karena kita hanya akan merasa nyaman berada di dalam rumah sejati kita. Rumah sejati kita selalu tersedia, dan kita boleh pulang ke rumah setiap momen. Rumah kita seharusnya aman, rukun, dan nyaman. Kitalah yang menciptakan suasana seperti itu.

Minggu lalau saya minum teh dengan sepasang suami istri yang datang dari United Kingdom (Inggris). Mereka menginap selama 2 minggu di Plum Village, dengan para Biksu di Upper Hamlet. Wanita tersebut bilang, “Aneh. Ini pertama kali saya tinggal di tempat di mana ratusan pria dan tidak ada wanita, dan saya merasa sangat aman di Upper Hamlet. Saya tidak pernah merasa aman seperti ini.” Di Upper Hamlet dia perempuan satu-satunya, dan dia merasa sangat aman. Dan jika dia merasa aman, tempat itu adalah rumahnya, karena rumah seharusnya memberikan keamanan seperti itu. Apakah kamu bisa menjadi tempat yang aman bagi kekasihmu? Apakah kamu mempunyai stabilitas, kekuatan dan perlindungan untuk kekasihmu?

Dan sang pria itu bilang, “Dua minggu lalu tampaknya adalah hari-hari sangat berkesan dalam hidup saya.” Itulah manfaatnya membangun sanggha. Ketika kamu membangun sebuah sanggha, kamu sedang membangun rumah untuk dirimu dan di tempat inilah kamu merasa nyaman, kamu merasa santai, kamu merasa aman. Jika tidak ada rasa aman di dalam dirimu, kamu bukanlah rumah untuk dirimu sendiri, dan kamu tidak dapat mempersembahkan sebuah rumah untuk orang yang kamu cintai. Itulah alasan sangat penting untuk kembali ke dirimu sendiri dan membantu diri sendiri menjadi aman dan juga untuk orang yang kamu cintai.

Jika kamu merasa kesepian, jika kamu merasa dikucilkan, jika kamu butuh penyembuhan, jangan berharap bisa sembuh hanya dengan melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Hubungan seksual tidak dapat menyembuhkanmu. Kamu justru akan mengakibatkan penderitaan baru bagi mereka dan dirimu sendiri. Dalam latihan sadar penuh ke-3, kita belajar bahwa nafsu seksual bukanlah cinta. Dan tanpa cinta sejati, aktivitas seksual bisa mengakibatkan penderitaan bagi dirimu sendiri dan orang lain. Kesepian tidak dapat diusir lewat aktivitas seksual, kamu tidak dapat menyembuhkan dirimu sendiri dengan melakukan hubungan seksual. Kamu harus belajar bagaimana menyembuhkan dirimu sendiri, merasakan nyaman di dalam dirimu, dan kemudian kamu mulai menghadirkan sebuah rumah. Setelah itu kamu punya sesuatu yang bisa dipersembahkan kepada orang lain. Orang lain juga membutuhkan penyembuhan, sehingga dia akan merasa ringan, dan dia dapat menjadi rumahmu. Jika tidak demikian, maka yang akan dia curahkan kepadamu adalah rasa kesepian, kepedihan, dan penderitaannya. Itu tidak dapat membantu menyembuhkanmu sama sekali.

Tiga Jenis Kedekatan
Ada tiga jenis kedekatan. Yang pertama adalah kedekatan berupa kemesraan fisik dan seksual. Yang kedua adalah kedekatan emosional. Dan yang ketiga adalah kedekatan spiritual. Kedekatan berupa kemesraan seksual tidak dapat dipisahkan dari kedekatan emosional. Kedua hal tersebut berjalan sejajar. Jika kedekatan spiritual hadir, maka kedekatan berupa kemesraan fisik dan seksual akan memiliki makna dan akan menyehatkan dan menyembuhkan. Jika tidak ada kedekatan spiritual, maka kemesraan seksual justru akan membinasakanmu.

Setiap orang mendambakan kedekatan emosional. Kita ingin memiliki komunikasi yang tulus, saling pengertian, kebersamaan. Dalam konteks latihan Buddhis, kamu wajib mendengar penderitaanmu sendiri. Ada penderitaan dalam dirimu, dan demikian juga orang lain. Jika kamu tidak mendengarkan penderitaanmu sendiri, kamu tidak akan mengerti, dan kamu tidak bisa memancarkan welas asih kepada dirimu sendiri; dan welas asih merupakan elemen yang dapat membantumu sembuh.

Hal pertama yang Buddha ajarkan adalah tentang penderitaan dalam diri. Banyak orang merasa takut. Kita tidak ingin kembali ke dalam diri sendiri, karena kita percaya akan bertemu dengan sejumlah penderitaan di dalam diri, dan kita tidak sanggup menanganinya. Karena tidak berani berhadapan langsung dengan penderitaan, maka kita mencoba untuk menutupinya dengan mengonsumsi. Kita makan, mendengar musik, dan mengonsumsi apa pun dan kita terlibat dalam hubungan seksual. Tetapi tidak ada satupun diantara itu yang bisa meringankan penderitaan kita. Itulah alasan Buddha menyarankan kita untuk memberanikan diri kembali ke rumah kita sendiri untuk mengenali dan mendengarkan dengan seksama atas penderitaan di dalam diri sendiri. Kita bisa menggunakan energi sadar penuh yang dihasilkan dari kesadaran bernapas dan berjalan, untuk memeluk penderitaan dengan lembut. “Wahai penderitaanku, aku sadar akan kehadiranmu. Aku ada di rumah. Dan aku akan menyembuhkanmu.”

Ada waktu ketika kita sedang menderita, tetapi kita tidak tahu dari mana asal-usul penderitaan itu. Leluhur maupun orang tua kita belum berhasil mentransformasikan penderitaannya, dan mereka mewariskannya kepada kita. Dan sekarang, karena kita telah bertemu dengan Buddhadharma, kita punya kesempatan untuk mengenali penderitaan itu, memeluknya dan mentransformasikannya demi diri sendiri dan leluhur juga orang tua kita. “Leluhur tercinta, ayah tercinta, ibu tercinta, saya telah menerima penderitaan ini darimu. Saya mengerti Dharma, Saya tahu latihan. Saya akan belajar untuk mengenali penderitaan yang telah diturunkan kepada saya, dan dengan kasih sayang saya akan mencoba menerima dan mentransformasikannya.” Kamu dapat melakukan itu atas dasar cinta kasih. Kamu bisa melakukannya demi orang tuamu, leluhurmu, karena sesungguhnya kita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mereka.

Berdasarkan ajaran dari 4 Kebenaran Mulia, jika kita tidak mendengar penderitaan diri sendiri, jika kita tidak melihat mendalam atas penderitaan diri sendiri, dan memeluknya dengan lembut dengan energi sadar penuh, kita tidak dapat mengerti akar dari penderitaan itu. Ketika kita mulai mengerti akar penderitaan diri sendiri, perlahan energi welas asih, pengertian akan tumbuh. Pengertian serta welas asih memilki kekuatan untuk menyembuhkan. Dengan memeluk dan mendengarkan penderitaan diri sendiri, Anda sudah menumbuhkan pengertian dan welas asih. Ketika amrita welas asih lahir dalam dirimu, penderitaanmu berkurang, kesepianmu berkurang. Kamu mulai merasakan kehangatan dalam dirimu; kamu sedang membangun sebuah rumah dalam dirimu. Buddha menyarankan kita untuk membangun rumah di dalam diri sendiri, sebuah pulau dalam diri. Mejadi sebuah pulau dalam diri sendiri. Kita akan merasa nyaman, hangat, dan kita bisa menjadi sebuah perlindungan untuk orang lain juga.

Ketika kamu telah mengerti penderitaanmu dan kesepianmu sendiri, kamu merasa lebih ringan, dan kamu dapat mendengar penderitaan orang lain. Di dalam penderitaanmu mengandung penderitaan leluhurmu, dunia, dan masyarakat. Interbeing (saling berkaitan) artinya bahwa penderitaanku ada di dalam penderitaanmu, demikian pula sebaliknya. Itulah sebabnya, ketika aku telah mengerti penderitaanku, lebih mudah bagiku untuk mengerti penderitaanmu. Ketika kamu mengerti seseorang, itu adalah kado terbaik yang dapat kamu berikan kepada mereka. Orang lain merasakan untuk pertama kalinya ada orang yang bisa mengerti dirinya. Mempersembahkan pengertian artinya mempersembahkan cinta kasih. Kita tidak akan bisa mengerti orang lain tanpa mengerti diri sendiri terlebih dahulu. Pembangunan rumah mulai dari dirimu sendiri. Pasanganmu juga wajib membangun rumah di dalam dirinya sendiri, dan kamu dapat memanggilnya sebagai rumahmu, dan dia dapat memanggilmu rumahnya.

Di Upper Hamlet, kita membangun sebuah Sanggha sebagai rumah. Anda juga bisa membangun keluargamu sebagai sebuah Sanggha, karena Sanggha berarti komunitas. Tugas yang paling mulia adalah membangun sebuah Sanggha. Setelah mencapai pencerahan sempurna, hal pertama yang Buddha ajarkan kepada kita adalah mencari elemen apa saja yang bisa dijadikan bahan untuk membangun sebuah Sanggha. Sebuah Sanggha adalah sebuah perlindungan untuk diri kita dan banyak orang.

Jadi kita kembali ke diri sendiri, kita mendengarkan penderitaan dalam diri sendiri. Kita memeluk rasa sakit, duka, kesepian kita dengan energi sadar penuh. Pengertian seperti ini, pandangan mendalam ini akan membantu kita mentransformasikan penderitaan. Kita merasa lebih ringan, dan kita mulai merasakan kehangatan dan kedamaian yang berasal dari dalam. Apabila orang lain juga bergabung dengan Anda dalam pembangunan rumah, Anda punya sahabat. Anda akan menolong dia dan dia akan menolong Anda. Dan bersama-sama membangun rumah. Anda memiliki rumah dalam diri, Anda memiliki rumah dalam diri mereka juga. Jika tidak ada unsur kedekatan seperti ini, maka hubungan seksual dapat menyebabkan banyak malapetaka. Inilah sebabnya sejak awal saya berpendapat bahwa kedekatan berupa kemesraan fisik dan seksual tidak dapat dipisahkan dengan kedekatan emosional.

Ada benang merah di antara kedekatan spiritual dan emosional. Spiritual tidak hanya sebatas keyakinan atas sebuah ajaran. Latihan selalu membawa keyakinan, komunikasi, transformasi. Setiap orang memerlukan dimensi spiritual dalam kehidupan. Tanpa dimensi spiritual dalam kehidupan, kita tidak sanggup menangani kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Latihan spiritual Anda dapat menangani berbagai aspek emosional yang muncul, membantu Anda untuk mendengar, memeluk penderitaanmu sendiri, dan juga untuk mengenali dan memeluk penderitaan orang lain. Makanya dua bentuk kedekatan ini berkaitan erat. Kita tahu bagaimana menangani luapan emosi yang kuat seperti ketakutan, kemarahan, keputusasaan. Berhubungan Anda tahu bagaimana melakukannya, Anda dapat merasa lebih damai dalam dirimu sendiri. Latihan spiritual membantu Anda membangun sebuah rumah dalam dirimu sendiri, demi diri sendiri juga orang lain. Oleh karena itu kedekatan emosional tidak dapat dipisahkan dengan kedekatan spiritual. Ketiga jenis kedekatan ini saling berkaitan.

Hubungan seksual tidak dapat mengusir kesepian; kamu tidak bisa menyembuhkan dirimu lewat hubungan seksual.

Menghormati Tubuh
Hubungan seksual tanpa dilandasi oleh cinta sejati sama saja dengan hubungan seksual hampa. Hal ini lumrah dalam masyarakat kita dan seks seperti ini menyebabkan begitu banyak penderitaan bagi generasi muda. Jika kamu adalah seorang guru di sekolah, jika kamu adalah orang tua, kamu seharusnya membantu anak-anakmu dan siswamu untuk menghindari hubungan seksual hampa. Seksual hampa membawa banyak malapetaka bagi pikiran dan tubuh mereka. Malapetaka akan muncul di kemudian hari dalam bentuk depresi, gangguan mental, dan bunuh diri. Banyak anak muda tidak melihat koneksi antara hubungan seksual hampa dengan gangguan mental dan fisik dalam diri mereka sendiri.

Apa yang terjadi dalam tubuh akan memiliki efek bagi pikiran dan demikian juga sebaliknya. Pikiran bergantung pada tubuh untuk bermanifestasi dan tubuh bergantung pada pikiran untuk hidup. Ketika kamu mencintai seseorang, kamu harus menghormati perasaan dan tubuh mereka. Kamu menghormati tubuhmu sendiri, dan kamu menghormati tubuh mereka. Cinta sejati seharusnya mengandung respek, menghargai. Dalam tradisi timur, kamu harus memperlakukan pasanganmu dengan hormat, seperti tamu, dan untuk menghormatinya, kamu harus menghormati dirimu sendiri terlebih dahulu. Penghormatan seharusnya menjadi landasan cinta.

Di kampung halaman saya, orang tua bangga memperkenalkan anaknya kepada tamu yang berkunjung ke rumah. Tamu yang berkunjung biasanya akan bertanya, “Apakah Anda menyanyangi ayah dan ibumu?” Anak akan menjawab, “Aku menyanyangi ayahku. Aku menyayangi ibuku.” Pertanyaan selanjutnya adalah: “Di manakah kamu menempatkan orang yang kamu sayangi itu?” Anak telah diajarkan untuk menjawab: “Orang yang kusayangi aku letakkan di atas kepalaku.” “Bukan di dalam hatiku”, tetapi “Di atas kepalaku.” Ketika seorang biksu mengenakan sanghatinya, jubah kuning, untuk menghadiri sebuah seremoni, dia akan membawa serta sanghatinya dengan penuh rasa hormat, sama seperti saat membawa serta sebuah kitab suci. Jika kamu mendekati biksu itu dan kamu membungkuk hormat kepadanya, dan jika dia tidak menemukan tempat yang layak untuk menaruh sanghatinya, dia akan dengan perlahan menaruh sanghatinya di atas kepala karena itulah tempat yang paling mulia; seperti altar. Itulah sebabnya tata krama yang baik di Vietnam; kamu seharusnya tidak menyentuh kepala seseorang jika kamu tidak mengenal orang itu. Kepala merupakan tempat suci dari tubuh, karena kepala adalah altar untuk memuja para leluhur dan Buddha.

Ada bagian lain dari tubuh yang juga dianggap suci yang tidak seharusnya disentuh. Seperti dalam istana raja, ada *kota Ungu1, tempat tinggal keluarga kerajaan. Dan kamu tidak boleh pergi ke area itu. Jika kamu menerobos daerah itu, maka pengawal kerajaan akan menangkap dan memenggal kepalamu. Dalam tubuh seseorang ada area terlarang yang tidak boleh disentuh. Dan jika kamu tidak menghormati area itu, jika kamu menyentuh bagian tubuh tersebut, kamu memasuki kota ungu. Pelecehan seksual terhadap seorang anak membuat dia sangat menderita, sangat merana. Seseorang telah melanggar kota ungunya dan dia tidak punya kemampuan untuk melindungin dirinya sendiri. Ada anak-anak yang telah disiksa ketika berusia delapan, sembilan, sepuluh tahun, dan mereka sangat menderita. Mereka menyalahkan orang tuanya kerena tidak melindungi mereka, dan hubungan anak dan orang tua menjadi lebih sulit. Kemudian hubungan mereka dengan teman dan kekasih mereka di masa depan juga akan menjadi sangat sulit. Luka masih ada di hatinya.

Kasus pelecehan seksual pada anak-anak sangat memilukan hati. Disebutkan bahwa di Amerika Serikat sekitar 5%-15% anak laki-laki dan sekitar 15%-35% anak perempuan menjadi korban pelecehan seksual. Sungguh banyak sekali. Bayangkan seorang anak sebagai korban pelecehan seksual, dia akan menderita sepanjang hidup, karena tubuh mereka tidak diperlakukan dengan hormat.

Di sekolah dan di dalam keluarga, kita perlu mengajari anak-anak untuk menghormati diri sendiri, menghormati tubuh mereka sendiri juga tubuh orang lain. Jika kamu adalah seorang pemimpin religius, jika kamu adalah seorang politikus, jika kamu adalah orang tua atau guru, jika kamu adalah seorang edukator, mohon renungkan hal ini. Kita boleh belajar dari ajaran Buddha tentang bagaimana menata kehidupan dalam keluarga, sekolah, masyarakat sedemikian rupa sehingga kita dapat dilindungi dan anak kita juga selalu dilindungi.

Rupawan Apa Adanya, Jadilah Dirimu Sendiri
Saya menyatakan di atas bahwa kenikmatan sensual, nafsu seksual, bukanlah cinta sejati, tetapi masyarakat kita terpola sedemikian rupa sehingga kenikmatan seksual menjadi hal yang paling penting. Untuk menjual produk, perusahaan membuat iklan yang menyirami benih keserakahan dalam dirimu. Mereka ingin kamu mengonsumsi sehingga keserakahan kamu makin besar dan makin mendambakan kenikmatan sensual. Tetapi kenikmatan sensual tersebut justru yang menghancurkanmu. Apa yang kita butuhkan adalah saling pengertian, saling mempercayai, cinta kasih, kedekatan emosional dan spiritual. Tetapi kita tidak menemukan kesempatan untuk bersentuhan dengan jenis kebutuhan mendalam seperti ini dalam diri kita.

Majalah mode wanita menyatakan bahwa untuk menjadi sukses, Anda harus mencari cara tertentu, dan menggunakan produk tertentu. Banyak anak muda dalam masyarakat ingin melakukan operasi plastik untuk memenuhi standar kecantikan. Mereka sangat menderita karena mereka tidak dapat menerima tubuh mereka apa adanya. Ketika kamu tidak dapat menerima tubuhmu apa adanya, kamu bukan rumah sejati untuk dirimu. Setiap anak yang lahir di taman kemanusiaan sebagai setangkai bunga. Tubuhmu adalah sejenis bunga, dan bunga-bunga berbeda satu dengan yang lainnya. Napas masuk, saya melihat diriku sebagai bunga. Napas keluar, saya merasa segar. Jika kamu bisa menerima tubuhmu apa adanya, dengan demikian kamu mempunyai kesempatan untuk melihat tubuhmu sebagai rumah. Jika kamu tidak dapat menerima tubuhmu apa adanya, kamu tidak dapat menjadi rumah bagi dirimu sendiri. Banyak anak muda yang tidak bisa menerima tubuh mereka apa adanya, mereka yang tidak bisa menerima dirinya, mereka ingin menjadi orang lain. Kita harus memberitahu anak muda bahwa mereka sudah rupawan apa adanya; tidak perlu menjadi orang lain.

Thay menulis sebuah kaligrafi; “Rupawan apa adanya, jadilah dirimu sendiri.” Ini latihan yang sangat penting. Kamu harus menerima dirimu sebagaimana adanya. Ketika kamu berlatih membangun sebuah rumah dalam dirimu, kamu akan makin rupawan. Hatimu damai, hangat dan penuh suka cita. Hati terasa lapang. Orang lain bisa merasakan keindahan dari bungamu.

Sadar penuh merupakan energi yang dapat membantu Anda untuk pulang ke rumah dalam dirimu sendiri, hadir di sini dan di saat ini, sehingga kamu tahu apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, untuk menjaga dirimu sendiri, untuk membangun rumah sejatimu, untuk mentransformasikan semua sumber penderitaanmu, dan menjadi sebuah rumah bagi orang lain. Lima Latihan Sadar Penuh adalah cara nyata. Dalam tradisi Buddhis, kesucian terbentuk dari sadar penuh. Sadar penuh mengandung energi konsentrasi dan pengertian mendalam. Sadar penuh, konsentrasi dan pengertian mendalam membuat kamu suci.

Kesucian bukan hanya diperoleh lewat hidup selibat. Ada orang yang hidup selibat tetapi tidak suci, karena mereka tidak memiliki sadar penuh, konsentrasi dan pengertian mendalam secukupnya. Ada yang hidup sebagai perumah tangga, tetapi mereka memiliki sadar penuh, konsentrasi, dan pengertian mendalam, mereka memiliki elemen kesucian dalam dirinya. Kedekatan berupa kemesraan seksual bisa menjadi aktivitas yang indah jika kita menghadirkan sadar penuh, konsentrasi, pengertian mendalam, saling pengertian dan cinta kasih. Jika sebaliknya, itu akan menjadi sangat membahayakan. Sebuah sutra mengisahkan sesaat sebelum Ratu Mahamaya hamil. Dalam mimpi ratu melihat seekor gajah putih yang belalainya menggenggam setangkai teratai putih. Gajah putih tersebut menyentuhnya dengan teratai putih dan kemudian gajah itupun masuk ke dalam tubuhnya, sangat lembut dan setelah itu ratu hamil. Itulah cara orang zaman dahulu menjelaskan sebuah hubungan kemesraan seksual, demikianlah cara orang istana menyampaikan sesuatu sebelum Siddhartha dikandung; cara penjelasan yang penuh dengan kelembutan dan keindahan. Kemesraan seksual seharusnya tidak terjadi sebelum ada pemberkahan, pengertian, saling mendekat lewat tataran spiritual dan emosional. Dan kemudian kemesraan fisik, hubungan seksual juga bisa menjadi suci.

Mempraktikkan ajaran Buddha sebagai seorang biksu selalu lebih mudah dibandingkan dengan umat awam. Ada sebuah nasihat kuno Vietnam berkata; berlatih sebagai seorang biksu adalah lebih mudah; berlatih sebagai umat awam lebih sulit. Sehingga untuk menahan diri dari segala aktivitas seksual jauh lebih mudah dibandingkan dengan menahan aktivitas seksual ketika memiliki pasangan. Hubungan seksual dalam konteks saling pengertian dan cinta, maka kamu butuh banyak latihan. Atau sebaliknya kamu akan menyebabkan banyak penderitaan bagi pasanganmu juga dirimu sendiri.

Ada seorang doktor wanita dari Switzerland yang datang berlatih di Plum Village. Dia mengalami pengalaman pahit dalam hubungan kasihnya. Sejak usia muda, setiap kali kekasihnya meminta dia untuk berhubungan seksual, dia merasa harus menjawab “iya” walaupun dia merasa tidak siap, karena dia takut maka dia terpaksa menjawab “iya“. Beberapa remaja di zaman sekarang ini juga merasa seperti itu. Mereka tidak menyukainya, tidak menginginkannya, tidak siap untuk berhubungan seksual, namun mereka tidak berani menjawab “tidak”, karena mereka takut dipandang sebagai orang aneh atau tidak normal. Mereka tidak ingin ditolak; mereka ingin diterima. Itu adalah kenyataan psikologis yang perlu disadari oleh orang tua dan guru. Kita harus bilang kepada generasi muda bahwa mereka dapat belajar menjawab “tidak” ketika mereka tidak siap, ketika mereka merasa takut. Atau sebaliknya mereka akan menghancurkan tubuh dan pikirannya sendiri. Mohon dengarkan dan pancarkan welas asih kepada generasi muda agar kita bisa menolong mereka. Kita harus membantu mereka menemukan cara yang terampil untuk menjawab “tidak”.

Ketika dia datang ke Plum Village, wanita dari Switzerland itu belajar cara yang terampil untuk menjawab “tidak”. Dalam hubungan pacaran terakhirnya, dia sanggup menjawab “tidak”. Dia bilang, “Aku membutuhkanmu, sayangku. Kita perlu saling mengerti. Aku perlu kehadiranmu. Aku butuh seseorang yang dapat membantuku ketika aku berada dalam kesulitan, dan seseorang untuk mengerti diriku.” Mereka bersama-sama 1,5 tahun tanpa hubungan seksual. Ketika kami berkunjung ke Switzerland untuk ceramah dharma, dia dengan bangga memperkenalkan suaminya kepada kami. Hubungan mereka mulus, sukses, karena dia dapat menjawab “tidak” hingga dia siap, dan mereka bersama-sama dapat membangun sebuah hubungan jangka panjang. (Penerjemah Liana)

Di Cina dan Vietnam, Imperial City merupakan tempat tertutup yang disebut kota ungu terlarang

Naskah bahasa Inggris “Make a True Home of Your Love – Thich Nhat Hanh

Air Lebih Jernih, Rumput Lebih Hijau

Air Lebih Jernih, Rumput Lebih Hijau

Suatu ketika Buddha menjelaskan bahwa kehidupan dan kematian dipisahkan oleh garis pembatas tipis yakni kesadaran. Seseorang hidup atau tidak, ini tergantung pada apakah ia sadar atau tidak. Dalam Samyutta Nikaya, Buddha menceritakan sebuah kisah yang terjadi di sebuah desa kecil.

Seorang penari terkenal baru saja datang mengunjungi sebuah desa dan banyak orang berhamburan ke jalanan untuk meliriknya sebentar. Pada saat bersamaan, ada seorang kriminal yang dihukum untuk berjalan mengelilingi desa dengan membawa semangkuk penuh minyak. Ia harus berkonsentrasi sebaik-baiknya agar mangkuk tersebut tetap stabil, apabila setetes saja minyak tertumpah, prajurit yang berjalan tepat di belakangnya akan memenggal lehernya. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha bertanya, “Sekarang, menurut Anda apakah kriminal tersebut sanggup menjaga perhatiannya dan fokus di mangkuk minyak tersebut sehingga pikirannya tidak tersedot untuk memandang si penari terkenal itu atau tidak melirik ke kerumunan penduduk desa yang sedang berkumpul di jalanan. Kita tahu tempat keramaian ada saja orang yang mungkin menabraknya?”

Di lain kesempatan Buddha menyampaikan kisah yang membuat saya langsung melihat betapa pentingnya berlatih kesadaran atas diri sendiri untuk melindungi dan merawat diri sendiri, bukan sebaliknya yakni terjebak pada persepsi bagaimana orang lain memandang diri kita, kebiasaan pikiran yang mengakibatkan ketidakpuasan dan kecemasan. Buddha mengatakan, “Suatu ketika ada sepasang pemain akrobat. Gurunya adalah seorang duda miskin dan muridnya adalah seorang gadis kecil bernama Meda. Mereka berdua mengadakan pertunjukan di jalanan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk bisa menopang kehidupan. Mereka menggunakan bambu panjang yang akan diseimbangkan oleh si guru di atas kepalanya sedangkan si gadis akan perlahan-lahan memanjat bambu tersebut hingga ke puncak. Ia akan berdiam di sana sedangkan si guru akan terus berjalan.

“Mereka berdua harus mencurahkan semua konsentrasi untuk mempertahankan kesimbangan sempurna dan mencegah agar tidak terjadi kecelakaan. Suatu hari guru itu memberikan instruksi kepada muridnya: ‘Meda, dengarkanlah, saya akan menjaga kamu dan kamu menjaga saya, sehingga kita bisa saling membantu untuk tetap menjaga konsentrasi dan keseimbangan demi menghindari kecelakaan. Dengan demikian kita akan punya cukup uang untuk makan.’ Tetapi gadis kecil itu bersikap bijak, dan ia pun menjawab, ‘Guruku, saya pikir akan lebih baik jika kita menjaga diri kita masing-masing. Menjaga diri sendiri berarti juga menjaga kita berdua.’” Buddha mengatakan bahwa gadis kecil itu benar.

Dalam sebuah keluarga, jika ada satu orang anggota keluarga yang berlatih kesadaran, seluruh keluarga akan menjadi lebih sadar. Karena kehadiran satu anggota keluarga yang berlatih kesadaran, seluruh keluarga selalu diingatkan untuk hidup dengan penuh kesadaran. Jika dalam satu kelas, ada satu orang siswa yang selalu hidup dalam kesadaran, seluruh kelas akan ikut terpengaruh.

Di komunitas pelayan perdamaian, kita harus menjalankan prinsip yang sama. Jangan cemas jika ada orang di sekitar kita yang tidak berupaya maksimal. Pikirkan cara bagaimana membuat diri sendiri agar bisa memberikan kontribusi dalam suasana itu. Melakukan yang terbaik yang Anda bisa lakukan adalah cara terbaik untuk mengingatkan siapa saja di sekitar untuk ikut melakukan yang terbaik. Tetapi, ini membutuhkan latihan hidup berkesadaran yang dilakukan secara berkesinambungan. Ini adalah sebuah keharusan. Hanya dengan berlatih kesadaran, kita tidak menderita tetapi merasakan kebahagiaan dan kedamaian sejati. Hanya dengan berlatih kesadaran, kita bisa membuka pikiran dan mata cinta kasih.

Saya diundang untuk menikmati secangkir teh di sebuah apartemen tempat tinggal seorang teman yang membantu kami. Ia punya sebuah piano yang sering ia mainkan. Ketika Kirsten—yang berasal dari Belanda—menuangkan teh, saya melihat setumpuk kertas kerjanya dan berkata, “Mengapa Anda tidak berhenti menerjemahkan surat permohonan anak asuh tersebut sejenak dan memainkan piano untuk saya?” Kirsten dengan senang hati menghentikan pekerjaannya dan duduk di depan piano untuk memainkan sebuah karya Chopin yang sudah ia hafal sejak kecil. Sebuah karya musik yang lembut dan melodis tetapi juga kencang dan cepat. Anjingnya, yang sedang berbaring di bawah meja teh, mulai menyalak dan mendengking ketika alunan piano berubah menjadi enerjik. Saya tahu ia merasa tidak nyaman dan ingin musik itu berhenti. Anjing Kirsten dirawat dengan penuh kebaikan dan kelembutan layaknya merawat seorang anak kecil. Ia mungkin lebih sensitif terhadap musik dibandingkan anak-anak pada umumnya. Atau, anjing itu mungkin merespon seperti itu karena telinganya menangkap sejenis getaran yang tidak tertanggap oleh telinga manusia. Kirsten terus bermain piano sambil berusaha menenangkan anjingnya, tetapi sia-sia. Kirsten akhirnya menyelesaikan lagu tersebut dan mulai memainkan Mozart yang ringan dan harmonis. Sekarang, anjing tersebut duduk dengan tenang dan kelihatannya damai. Setelah selesai, ia datang menghampiri kemudian duduk di samping saya dan berkata, “Sering kali ketika saya memainkan musik Chopin yang sedikit keras, anjing saya akan datang mendekat dan menarik celana saya, tampaknya dia mencoba untuk mengusir saya dari piano. Terkadang saya harus menyeretnya keluar sebelum saya bisa melanjutkan. Tetapi ketika saya memainkan Bach atau Mozart, ia menjadi damai.”

Kirsten menyampaikan sebuah laporan tentang orang Kanada yang menyetel musik Mozart untuk tanamannya di malam hari. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh dengan lebih cepat dan bunga-bunga condong tumbuh menghadap sumber musik tersebut. Yang lain memainkan musik Mozart setiap hari di ladang gandum dan bisa mengukur bahwa gandum tersebut tumbuh lebih cepat dibandingkan di tempat lain.

Ketika Kirsten mengangkat bicara, saya langsung terbayang tentang ruang konferensi yang mana banyak orang berargumen dan berdebat, kata-kata penuh kemarahan dan kebencian silih berganti. Jika ada satu orang yang menaruh setangkai bunga dan satu pot tanaman di ruangan seperti itu, kemungkinan besar keduanya tidak akan tumbuh.

Saya memikirkan tentang taman yang dirawat oleh seorang biksu yang hidup dengan penuh kesadaran. Bunga-bunganya selalu hijau dan segar, dirawat dengan kedamaian dan kebahagiaan yang mengalir dari perhatian kesadarannya. Salah satu teks kuno mengatakan,

Ketika seorang Guru Agung dilahirkan, air sungai menjadi lebih jernih, rumput menjadi lebih hijau.

Kita perlu mendengarkan musik atau duduk dan berlatih bernapas di setiap awal pertemuan atau diskusi.

Dikutip dari Keajaiban Hidup Sadar

Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Selama bertahun-tahun mengikuti retret, timbul pertanyaan dalam diri saya: “Mengapa kebanyakan yg mengikuti retret itu orang yang berusia lanjut? Lantas kemanakah anak mudanya?

Walau ada pertanyaan yg mengganjal, tapi saya tidak bertanya langsung kepada orang lain, namun saya ingin mencari tahu jawabannya sendiri, barangkali melalui retret yang saya jalani, walau harus menghabiskan waktu bertahun-tahun, saya tetap ingin menemukan jawabannya sendiri, tampaknya ini lebih seru, dan demikianlah karakter saya.

Saya Mendapatkan jawaban ini dari membaca komik yang berjudul “Babi yang Berpikir terlalu Banyak“, dan juga berkaitan dengan pengalaman saya selama bertahun-tahun makan permen jelly kesukaan saya “Yuppi”.

Kita tahu akibat makan permen jelly terlalu banyak setiap hari maka, gigi akan rusak dan sakit, kalau sudah demikian yah terpaksa harus ke dokter gigi. Saya sejak kecil suka sekali makan Yuppi, mungkin sehari bisa sebungkus, sebetulnya dari kecil sudah diberitahu orang tua jangan sering makan manisan terlalu banyak karena akan sakit gigi, tetapi waktu itu setelah makan permen Yuppi berapa bulan, tampaknya gigi saya tidak sakit, jadi saya terus mengonsumsi permen itu sampai beberapa tahun.

Sekarang sudah dewasa saya merasakan akibatnya, gigi saya jadi rusak dan kadang sakitnya membuat rasa tidak nyaman. Akhirnya saya ke dokter gigi untuk periksa gigi, ternyata kebanyakan gigi saya sudah banyak bintik-bintik hitam dan menurut dokter harus segera ditambal, kalau tidak maka bintik-bintik itu akan merambat ke gigi yang lain. Tampaknya tidak ada pilihan lain, akhirnya saya setuju untuk segera ditambal walaupun prosesnya sangat menyakitkan sekali, ketika dokter menambal gigi saya, rasanya seperti di neraka benaran, bayangkan saja seperti tanah yang dibor.

Saya bilang ke dokter: “Pak dokter, ini sangat menyakitkan sekali rasanya.
Dokternya membalas: “Kalau tidak bersentuhan langsung dengan bagian yang sakit bagaimana kamu bisa sembuh?

Saya pikir masuk akal juga, lantas saya kembali disiksa oleh dokternya (bercanda, ha ha ha ha…)

Setelah melewati proses yang menyakitkan akhirnya saya mendapatkan penyembuhan.

Dalam keseharian kita juga seperti demikian, kita suka mencari hiburan, merokok, berhura-hura, clubbing, shopping, dll. Kita sebenarnya juga tahu hal yang demikian sangat nikmat sekali, tetapi tidak memberikan manfaat malah menambah penderitaan batin lebih dalam lagi bagi diri sendiri, ibarat permen Yuppi yang saya makan, rasanya sangat nikmat, tetapi tidak memberikan manfaat malah menambah derita bagi gigi saya.

Retret ibarat ke dokter gigi, ketika kita sakit gigi maka, kita ke dokter gigi, kita derita batin maka, kita pergi retret, tetapi seberapa banyak mereka yang berani pergi ke dokter gigi untuk disembuhkan?

Jawabannya tidak banyak, walaupun mereka tahu bisa sembuh dengan bantuan dokter gigi namun mereka tidak berani melewati proses yang menyakitkan itu, mereka sengaja menunggu sampai waktu yang lama sekali untuk disembuhkan, kadang menunggu terlalu lama sehingga penyakitnya sudah akut dan sulit sekali disembuhkan.

Hanya berkunjung ke dokter tentu saja bisa membantu penyembuhan, mendengar dan mengikuti petunjuk dokter, kemudian yang penting juga jangan makan permen Yuppi lagi.

Sama halnya Dengan derita batin, seberapa banyak diantara mereka yang berani pergi ke retret untuk disembuhkan? Jawabannya juga tidak banyak, karena mereka akan melewati proses yang membosankan sebelum disembuhkan, mereka menunggu sampai stressnya sudah menumpuk seperti gunung baru ikut retret, dan mereka berharap sekali ikut retret saja sudah bisa disembuhkan. Apakah mungkin?

Hanya ikut retret sekali saja tentu saja sangat bermanfaat, namun kita perlu melanjutkan apa yang kita latih, cari teman-teman untuk berlatih bersama-sama secara rutin, kemudian jangan merokok, hura-hura, clubbing atau shopping lagi, shopping tentu saja boleh tapi shopping barang yang dibutuhkan saja, atau shopping dengan penuh kesadaran.

Sekian sharing dari Saya..


Yu Yong (25 tahun)

Menghayati Cinta Sejati

Menghayati Cinta Sejati

Saya sudah “menikah” dengan idealisku atas pelayanan


Di Perancis, saya sudah menulis surat-surat yang manis untuk ibu saya setiap minggu, mengatakan betapa saya merindukannya. Namun, ketika saya kembali ke Vietnam, saya hampir setiap hari bersama rakyat miskin di perkampungan kumuh.

Kadang-kadang, Ibu akan berkata kepada saya, “Kamu bilang sayang sama ibu, tapi lalu kamu menghabiskan semua hari-harimu dengan bekerja untuk orang miskin dan datang melihat ibu hanya di tengah malam.

Saya dengan lembut menghiburnya, “Tolong anggap saya seperti sudah menikah—bukan dengan seorang pria, tetapi dengan idaman kehidupan saya. Umpamanya saya sudah menikah, saya akan menghabiskan siang dan malam saya dengan suami saya, memberikan kebahagiaan hanya untuk dia. Namun, karena saya menikah dengan cita-cita dari kehidupan saya, saya dapat membawa kebahagiaan bagi banyak orang, dan saya juga dapat pulang ke rumah di malam hari untuk bersama dengan Ibu.

Ibu saya mengerti, dan sejak hari itu ia selalu mendukung pekerjaan saya.

dikutip dari “Learning True Love

Relaksasi Total Versi Buku Anger

Relaksasi Total Versi Buku Anger

Ini adalah sebuah contoh tentang bagaimana membimbing dirimu sendiri dan orang lain dalam Relaksasi Mendalam. Mengizinkan tubuhmu beristirahat adalah sangat penting. Ketika tubuhmu merasa tenang dan santai, pikiranmu juga akan menjadi damai. Latihan Relaksasi Mendalam sangat penting bagi tubuh dan pikiranmu untuk sembuh. Luangkanlah waktu untuk sering melatihnya. Walaupun panduan relaksasi berikut memakan waktu tiga puluh menit, kamu bisa memodifikasinya untuk menyesuaikan dengan situasimu. Kamu bisa membuatnya menjadi lebih pendek—hanya lima atau sepuluh menit ketika kamu terbangun di pagi hari, sebelum tidur di malam hari, atau ketika istirahat singkat di tengah-tengah hari yang sibuk. Kamu juga bisa membuatnya lebih panjang dan lebih mendalam. Hal yang paling penting adalah bisa menikmatinya.

Berbaringlah telentang dengan nyaman di lantai atau di kasur. Tutup kedua matamu. Izinkan tanganmu beristirahat dengan lembut di kedua sisi tubuhmu dan biarkan kakimu relaks, membuka ke arah luar.

Sewaktu kamu menarik dan mengembuskan napas, sadarilah seluruh tubuhmu yang sedang berbaring. Rasakan seluruh daerah pada tubuhmu yang sedang menyentuh lantai atau kasur tempat kamu sedang berbaring; tumitmu, bagian belakang kakimu, bokongmu, punggungmu, bagian belakang tangan dan lenganmu, bagian belakang kepalamu. Dengan setiap napas keluar, rasakan dirimu tenggelam makin dalam dan makin dalam lagi ke lantai, melepaskan semua ketegangan, melepaskan semua kebimbangan, tidak menggenggam apa pun juga.

Sewaktu kamu menarik napas, rasakan perutmu naik, dan sewaktu kamu mengembuskan napas, rasakan perutmu turun. Selama beberapa tarikan napas, cukup hanya perhatikan naik dan turunnya perutmu.

Sekarang, sewaktu kamu menarik napas, sadari kedua telapak kakimu. Sewaktu kamu mengembuskan napas, izinkan kedua telapak kakimu menjadi relaks. Napas masuk, kirimkan cintamu kepada telapak kakimu, dan napas keluar, tersenyumlah pada telapak kakimu. Sewaktu kamu menarik dan mengembuskan napas, sadarilah betapa luar biasanya memiliki dua telapak kaki, yang membuatmu mampu berjalan, berlari, berolahraga, menari, menyetir, melakukan begitu banyak aktivitas sepanjang hari. Kirimkan rasa terima kasihmu kepada kedua telapak kakimu untuk selalu ada bagi dirimu kapan pun kamu membutuhkannya.

Napas masuk, sadari kaki kanan dan kaki kirimu. Napas keluar, izinkan semua sel di dalam kedua kakimu menjadi relaks. Napas masuk, tersenyum kepada kakimu, dan napas keluar, kirimkan cintamu kepada mereka. Hargailah seberapa pun kekuatan dan kesehatan di kedua kakimu. Sewaktu kamu menarik dan mengembuskan napas, kirimkan mereka kelembutan dan perhatianmu. Izinkan mereka beristirahat, tenggelam dengan lembut ke lantai. Lepaskan semua ketegangan yang kamu tahan di dalam kakimu.

Napas masuk, sadari kedua tanganmu yang ada di atas lantai. Napas keluar, relakskan sepenuhnya semua otot-otot di dalam kedua tanganmu, melepaskan semua ketegangan yang mungkin kamu tahan di dalamnya. Sewaktu kamu menarik napas, hargai betapa luar biasanya memiliki dua tangan. Sewaktu mengembuskan napas, kirimkan senyuman penuh cinta kepada kedua tanganmu. Menarik napas dan mengembuskan napas, sentuhlah semua hal yang dapat kamu lakukan karena kedua tanganmu: memasak, menulis, menyetir, memegang tangan orang lain, menggendong bayi, membersihkan badanmu sendiri, bermain alat musik, mengetik, membangun dan memperbaiki barang-barang, membelai hewan, memegang secangkir teh. Begitu banyak hal tersedia bagimu karena kedua tanganmu. Nikmatilah kenyataan bahwa kamu mempunyai dua tangan dan izinkanlah semua sel di dalam tanganmu untuk benar-benar beristirahat.

Napas masuk, sadari kedua lenganmu. Napas keluar, izinkan lenganmu, untuk benar-benar relaks sepenuhnya. Sewaktu kamu menarik napas, kirimkan cintamu kepada kedua lenganmu, dan sewaktu kamu mengembuskan napas, tersenyumlah pada mereka. Luangkan waktu untuk menghargai kedua lenganmu dan berapa pun kekuatan dan kesehatan yang ada di lenganmu. Kirim kepada mereka rasa syukurmu karena telah membuatmu bisa memeluk seseorang, bisa bermain ayunan, bisa membantu dan melayani orang lain, bisa bekerja keras—membersihkan rumah, memotong rumput di halaman, dan bisa melakukan begitu banyak hal sepanjang hari. Menarik napas dan mengembuskan napas, izinkan kedua lenganmu bebas dan beristirahat sepenuhnya di lantai. Dalam setiap hembusan napas, rasakan ketegangan meninggalkan lenganmu. Sewaktu kamu merangkul lenganmu dengan perhatian penuh kesadaran, rasakan kebahagiaan dan ketenangan di dalam setiap bagian dari kedua lenganmu.

Napas masuk, sadarilah bahumu. Napas keluar, izinkan semua ketegangan di dalam bahumu untuk mengalir keluar, ke lantai. Sewaktu kamu menarik napas, kirimkan cintamu kepada bahumu, dan sewaktu kamu mengembuskan napas, tersenyumlah dengan penuh rasa syukur kepada mereka. Menarik napas dan mengembuskan napas, sadari bahwa kamu telah membuat banyak ketegangan dan stres berakumulasi di dalam bahumu. Dengan setiap hembusan napas, izinkan ketegangan itu untuk meninggalkan bahumu, rasakan mereka menjadi makin relaks, makin mendalam. Kirimkan kepada mereka kelembutan dan perhatianmu, tahu bahwa kamu tidak ingin memberikan terlalu banyak ketegangan kepada mereka, tapi kamu ingin hidup dengan suatu cara yang akan membuat mereka relaks dan tenang.

Napas masuk, sadarilah jantungmu. Napas keluar, izinkanlah jantungmu beristirahat. Dengan napas masukmu, kirim cintamu kepada jantungmu. Dengan hembusan napasmu, tersenyumlah kepada jantungmu. Sewaktu kamu menarik napas dan mengembuskan napas, sentuhlah keindahan karena memiliki jantung yang masih berdetak di dalam dadamu. Jantungmu membuat hidupmu ada, dan ia senantiasa ada di sana untukmu, setiap menit, setiap hari. Ia tidak pernah beristirahat. Jantungmu telah berdetak sejak kamu masih sebuah janin berusia empat minggu di dalam rahim ibumu. Ia adalah organ yang hebat yang membuatmu bisa melakukan semua pekerjaanmu sepanjang hari. Tarik napas dan ketahuilah bahwa jantungmu juga mencintaimu. Hembus napas dan bertekadlah untuk hidup dalam cara yang akan membantu jantungmu untuk berfungsi dengan baik. Dalam setiap hembusan napas, rasakan jantungmu makin relaks dan makin relaks. Izinkan setiap sel di dalam jantungmu untuk tersenyum dengan tenang dan bahagia.

Napas masuk, sadarilah lambung dan ususmu. Napas keluar, izinkan lambung dan ususmu untuk relaks. Sewaktu kamu menarik napas, kirim cintamu dan rasa terima kasihmu kepada mereka. Sewaktu kamu mengembuskan napas, tersenyumlah dengan lembut kepada mereka. Menarik napas dan mengembuskan napas, menyadari betapa pentingnya organ-organ ini untuk kesehatanmu. Berikan mereka kesempatan untuk istirahat yang dalam. Setiap hari mereka mencernakan dan mencampurkan makanan yang kamu makan, memberikan kamu energi dan kekuatan. Mereka membutuhkan kamu untuk meluangkan waktu mengenali dan menghargai mereka. Sewaktu kamu menarik napas, rasakan lambung dan ususmu berelaksasi dan melepaskan semua ketegangan. Sewaktu kamu mengembuskan napas, nikmatilah kenyataan bahwa kamu mempunyai lambung dan usus.

Napas masuk, sadarilah kedua matamu. Napas keluar, izinkanlah matamu dan otot-otot di sekitar matamu untuk berelaksasi. Napas masuk, tersenyumlah kepada matamu, dan napas keluar, kirim cintamu kepada mereka. Izinkanlah matamu beristirahat dan berputar kembali ke dalam kepalamu. Sewaktu kamu menarik napas dan mengembuskan napas, ketahuilah betapa berharganya kedua matamu. Mereka memungkinkan kamu untuk melihat ke dalam mata seseorang yang kamu cintai, untuk melihat matahari terbenam yang indah, untuk membaca dan menulis, untuk bergerak ke mana pun dengan mudah, untuk melihat burung-burung beterbangan di langit, untuk menonton film—begitu banyak hal yang mungkin kamu lakukan karena kedua matamu. Luangkanlah waktu untuk menghargai hadiah penglihatan ini dan izinkan matamu untuk beristirahat yang dalam. Kamu bisa menaikkan alismu dengan lembut untuk membantu melepaskan ketegangan yang mungkin ada di sekitar matamu.

Di sini kamu bisa melanjutkan dengan merelaksasikan bagian-bagian lain dari tubuhmu, dengan menggunakan pola yang sama seperti di atas.

Sekarang, jika ada daerah di tubuhmu yang sedang sakit, manfaatkan waktu ini untuk menyadarinya dan kirimkanlah cintamu. Napas masuk, izinkan daerah ini beristirahat, dan napas keluar, tersenyum padanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Sadarilah bahwa ada bagian lain tubuhmu yang masih kuat dan sehat. Izinkan bagian-bagian yang kuat itu untuk mengirimkan kekuatan dan energi mereka ke daerah yang lemah atau sakit. Rasakan dukungan, energi, dan cinta dari seluruh tubuhmu menembus ke daerah yang lemah, melegakan dan menyembuhkannya. Napas masuk dan yakinkan kapasitasmu sendiri untuk menyembuhkan. Napas keluar dan lepaskan semua kebimbangan atau ketakutan yang mungkin kamu tahan di dalam tubuhmu. Menarik napas dan mengembuskan napas, tersenyumlah dengan penuh cinta dan keyakinan kepada bagian tubuhmu yang kurang sehat.

Akhirnya, napas masuk, sadari seluruh tubuhmu sedang berbaring. Napas keluar, nikmatilah sensasi seluruh tubuhmu yang sedang berbaring, sangat santai dan tenang. Tersenyumlah kepada seluruh tubuhmu sewaktu kamu menarik napas, dan kirimkan cinta dan welas asihmu ke seluruh tubuhmu sewaktu kamu mengembuskan napas. Rasakan semua sel di seluruh tubuhmu tersenyum bahagia bersamamu. Berterima kasihlah kepada semua sel di seluruh tubuhmu. Kembali ke naik turunnya perut dengan lembut.

Jika kamu sedang memandu orang lain, dan jika kamu nyaman melakukannya, sekarang kamu bisa menyanyikan beberapa lagu-lagu relaksasi.

Untuk mengakhirnya, pelan-pelan lemaskan dan buka matamu. Bangunlah dengan pelan-pelan, dengan tenang dan ringan. Berlatihlah untuk membawa energi ketenangan dan perhatian penuh kesadaran yang telah kamu hasilkan ke dalam aktivitasmu selanjutnya dan sepanjang hari itu.

Memberi Bimbingan (Shining Light)

Memberi Bimbingan (Shining Light)

Ada sebuah latihan di Plum Village yang bernama Memberi Bimbingan (Shining light atau Offering Guidance), latihan ini berasal dari tradisi monastik yang melakukan wassa selama 3 bulan, di hari terakhir wassa ada Upacara Pavarana. Sebelum upacara penutupan wassa, maka setiap anggota monastik memberikan “bimbingan” kepada junior berkaitan dengan latihan-latihan mereka, dengan demikian bisa membantu junior untuk maju dalam praktiknya.

Dalam ajaran Buddha ada “Mata Buddha” atau “Mata Kebijaksanaan”, dan juga “Mata Dharma” yang bisa kita temukan dalam berbagai sutra, Plum Village menciptakan istilah baru yaitu “Mata Sanggha”. “Bimbingan” yang dimaksud itu adalah kumpulan dari mata seluruh sangha yang mana bisa membantu kita melihat lebih jelas dan dalam daripada satu mata saja.

Praktik Memberi Bimbingan ini sudah mengalami modifikasi oleh sangha Plum Village. Versi tradisional, seorang junior akan datang dan memohon senior untuk memberikan masukan (bimbingan) tentang latihan-latihan yang telah dilakukan, apakah itu kekurangan, kekeliruan yang diobservasi oleh senior sepanjang 3 bulan wassa. Namun di Plum Village kita memohon semua anggota monastik dalam satu hamlet untuk memberikan bimbingannya. Mereka tidak hanya menyebutkan kekurangan dari seseorang, namun kita memulai dari hal-hal apa yang sudah dilakukan mereka dengan sukses. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan saran konkrit kepada orang tersebut agar bisa terus maju, memperbanyak kualitas baik dan perlahan-lahan mengubah sifat-sifat yang kurang baik. Di akhir sesi itu, setiap orang mendapat sepucuk surat sebagai suatu cara untuk memberi semangat kepada masing-masing orang untuk berlatih lebih giat dan ingat akan hal-hal yang wajib kita lakukan sepanjang tahun.

Sebelum memulai sesi Memberi Bimbingan, kita membacakan renungan di bawah ini agar bisa didengarkan bersama-sama oleh semua anggota, renungan ini membantu kita agar bisa tetap menjaga atmosfir saling menghormati dan mengasihi.

Oh Buddha Yang mulia dan semua guru-guru sesepuh:
Hari ini kami akan memberikan bimbingan kepada adik maupun kakak dalam komunitas. Kami tahu bahwa kami semua merupakan bagian dari tubuh sanggha, kami merupakan tulang dan daging dari sebuah sanggha. Mengetahui ini dengan jelas, kami hendaknya menyadari bahwa memberi bimbingan kepada satu anggota sanggha berarti kami memberikan bimbingan kepada diri kami sendiri. Kami bertekad untuk melaksanakan sesi ini dengan sepenuh hati, cinta kasih, dan pengertian. Kami menggunakan hati dan niat baik untuk menyampaikan apa pun agar bisa mendekati kebenaran sesungguhnya tentang dia yang akan menerima bimbingan, kemudian kami juga akan memberikan usul konkrit agar dia bisa terus menempuh perjalanan transformasi. Kami tidak akan membiarkan perasaan marah dan persepsi keliru mencemari pandangan kami. Kami akan berbicara dari hati kami yang paling dalam, kami akan berbicara sesuai dengan praktik kasih sayang.
Kami menyadari bahwa memberi bimbingan kepada satu anggota sanggha itu berarti kami memberikan bimbingan kepada diri sendiri, sehingga proses memberi bimbingan ini akan memberi manfaat kepada setiap orang. Kami memohon Buddha dan semua guru-guru sesepuh melindungi dan mendukung kami agar sesi memberi bimbingan ini bisa lancar dan sukses.

Anggota sangha seharusnya tidak dengan sengaja menggunakan kesempatan ini untuk mengkritik atau menghakimi orang lain. Sungguh penting sekali bahwa apa pun yang kita sampaikan kepada orang tersebut datang dari hati kita yang paling dalam dan kasih sayang. Jika ada rasa marah atau kekesalan yang muncul, maka sebaiknya jangan berbicara terlebih dahulu. Kita memberikan bimbingan kepada seseorang karena kita ingin dia maju dalam latihan.

Dalam proses memberikan bimbingan, kita mengkombinasikan pendapat, ide, dan pemahaman. Pada saat mendengar sharing dari anggota lain; bisa saja terjadi perubahan pendapat dalam diri kita. Mendengar sharing dari orang lain bisa membantu kita melepaskan pandangan keliru kita terhadap orang tersebut. Pendapat kita juga bisa dipengaruhi oleh pendapat orang lain ketika kita mendengar. Ini adalah manfaat dari memberi bimbingan. Sembari mendengar kita juga sembari mengetahui lebih banyak lagi tentang orang tersebut, kadang-kadang ada sesuatu yang berkaitan dengan diri kita sendiri secara langsung, dengan demikian kita bisa mengerti orang lain dan diri sendiri lebih baik lagi. Kadang-kadang ketika kita mendengar seseorang memberi bimbingan kepada orang lain berupa sifat-sifat kurang baik, ternyata sifat-sifat itu juga ada dalam diri kita sendiri. Melalui proses ini kita punya kesempatan untuk merenung lebih dalam tentang diri sendiri dan kemudian bertekad untuk berubah.

Seni memberi bimbingan bisa diaplikasikan dalam konteks non sektarian juga. Ketika kita duduk bersama dan mengkombinasikan ide dan pemahaman kita, kita akan tiba pada pemahaman kebersamaan.

Sumber:
Joyfully Together: The Art of Building a Harmonious Community [hal 85-86]

Panduan Relaksasi Total

Panduan Relaksasi Total

Relaksasi total merupakan cara untuk membantu pikiran dan badan jasmani untuk istirahat dengan penuh kesadaran. Praktik ini akan bermanfaat jika dilakukan secara rutin, membantu pikiran menjadi lebih jernih dan badan menjadi lebih segar.

Jika anda tertidur, biarkan tidur terjadi alami, jangan menolaknya. Tidur jenis ini adalah tidur yang sangat baik. Tidur seperti ini tidak menghasilkan mimpi.

Pertama-tama, Anda berbaring dengan nyaman.
Jika anda ingin menggunakan bantal, bantalnya jangan terlalu tinggi.
Kepala Anda, leher Anda, dan tulang belakang Anda berada di permukaan yang sama.
Taruh lengan di samping, tutuplah mata, dan lepaskan semua pikiran.
Curahkan perhatian sepenuhnya pada napas masuk dan keluar

(Genta)

Napas masuk, aku sadar ini adalah napas masuk.
Napas keluar, aku sadar ini adalah napas keluarku.
Napas Masuk – Napas keluar.

Napas masuk aku merasakan aliran air dingin membasuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki, melegakan, menyejukkan dan menenangkan seluruh badan jasmani.
Seluruh badan jasmani terasa relaks.

Napas masuk, izinkan seluruh badan untuk istirahat.
Napas Keluar, izinkan seluruh badan untuk relaks.

Sekarang aku meletakkan satu tanganku di atas perut.
Bernapas masuk dengan lembut, bernapas keluar dengan lembut.
Aku mencoba merasakan naik dan turunnya perutku sembari bernapas masuk dan keluar.
Dinding perut naik, dinding perut turun.
Naik turun, naik turun. (2x)

Napas masuk, aku izinkan semua sel-sel di seluruh bahuku dan kedua tanganku untuk istirahat.
Napas keluar, aku izinkan seluruh bahuku dan kedua tanganku untuk istirahat.
Izinkan semua sel, bahu, dan tangan untuk istirahat.

Napas masuk, aku kirimkan energi cinta kasih kepada kedua kaki, izinkan semua sel di seluruh kakiku hingga ujung jari untuk istirahat.
Napas keluar, seluruh kaki terasa relaks.
Kirimkan energi cinta kasih, izinkan kaki relaks.

Sekarang aku kirimkan energi cinta kasih kepada jantungku.
Napas masuk, aku merasakan detak jantungku.
Napas keluar, aku izinkan jantungku untuk istirahat.
Merasakan detak jantung, izinkan jantung untuk istirahat.

Jantungku bekerja 24 jam sehari demi kesehatanku, tetapi aku kurang memperhatikannya.
Setiap kali aku kesal, jantungku menderita.
Ketika aku marah, takut, cemas, jantungku sangat menderita.
Saya bertekad untuk berlatih untuk mengurangi marah, mengurangi takut, mengurangi cemas, agar jantungku bisa berfungsi dengan baik dan sehat kembali.
Sekarang aku ingin mengucapkan terima kasih kepada jantungku.
Napas masuk, aku tersenyum kepada jantungku dengan cinta kasih dan rasa syukur.
Napas keluar, aku bertekad untuk melepaskan semua kekhawatiran dan kecemasan.
Menenangkan jantungku, tersenyum kepada jantungku.

Sekarang aku mengirim energi cinta kasih kepada liverku.
Bernapas masuk, aku menenangkan liverku.
Napas keluar, aku tersenyum kepada liverku dengan penuh terima kasih.
Liverku bekerja siang dan malam demi kesehatanku, tetapi aku tidak makan berkesadaran.
Aku makan banyak makanan yang menyulitkan liverku.
Aku makan tanpa berkesadaran, aku sering tidak mengikuti nasihat dokter.
Karena didorong oleh pikiran negatif, aku sering lupa menjaga kesehatan liverku.
Aku bertekad untuk memperhatikan dan menjaga kesehatan liverku.
Aku ucapkan terima kasih kepada liverku.
Aku berjanji untuk merawatmu, dengan cara senantiasa sadar ketika makan dan minum.

Sekarang, aku mengirim energi cinta kasih kepada ususku.
Napas masuk, aku menenangkan dan merelakskan ususku.
Napas keluar, aku tersenyum kepada ususku dengan penuh cinta dan perhatian.
Aku sadar bahwa aku terkadang terbawa oleh rasa enak, aku makan tanpa pengertian.
Aku makan segala sesuatu yang kurang sehat, makanan yang pedas, makanan manis, semua itu membuat ususku perih.
Aku bertekad dan berusaha merawat ususku, aku akan makan dan minun dengan penuh kesadaran.
Menenangkan ususku, tersenyum kepada ususku, dengan penuh cinta kasih.

Sekarang, aku kirimkan energi cinta kasih kepada paru-paruku.
Napas masuk, aku tenangkan paru-paruku.
Napas keluar, aku tersenyum kepada paru-paruku dengan penuh rasa syukur.
Paru-paruku bekerja dengan sangat baik demi kesehatanku.
Aku telah melihat banyak orang yang mengalami kesulitan bernapas.
Aku termasuk orang yang beruntung karena paru-paruku sehat dan berfungsi dengan baik
Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada paru-paruku.
Aku akan melakukan yang terbaik untuk memberimu udara segar.

Napas masuk, aku tenangkan semua syaraf di otakku.
Napas keluar, saya merasa sangat segar dan relaks di otakku.
Aku tidak kuatir terhadap apa pun juga.
Aku lepaskan semuanya.
Aku izinkan otakku relaks.
Otakku bekerja dengan sangat keras, aku merelakskan semua syaraf di otakku.
Dan aku merasa sangat damai saat ini.

Napas masuk, aku lepaskan semua ketegangan di otot-otot wajahku.
Napas keluar, aku merasa sangat relaks dan segar di seluruh otot wajahku.

Mataku adalah hartaku.
Aku hanya perlu membuka mata dan aku bisa melihat surga bentuk dan warna.
Kupingku, yang berfungsi dengan baik, juga hartaku.
Hidungku, yang berfungsi dengan baik, juga adalah hartaku.
Ginjalku adalah harta bagiku.
Kedua kakiku yang masih bisa berjalan dengan baik, adalah hartaku.
Tanganku, lenganku, adalah harta.
Terima kasih karena sudah hadir di sana.

Alam semesta penuh dengan harta.
Aku ingin memberikan anda begitu banyak harta
Mata anda adalah harta.
Jantung anda adalah harta.

(Lagu)

Alam semesta ini penuh dengan harta karun, di dalam diri kita dan sekitar kita.
Kita hanya perlu menyadarinya. Dan semua harta ini akan terlihat dengan jelas bagi kita.

(Lagu)

Fakta bahwa kita masih bisa mendengar nyanyian burung, suara orang yang kita cintai.
Itu adalah harta.
Fakta bahwa kita masih bisa melihat bunga mekar, wajah cantik orang yang kita cintai.
Itu adalah harta.
Anda, orang paling kaya di dunia, jangan berperilaku seperti pengemis miskin kebahagiaan.
Semua harta tersebut ada di sana untukmu.

(Lagu-lagu)

(Genta)

Sahabat terkasih, ini adalah akhir dari total relaksasi.
Anda bisa merebahkan badan ke sebelah kanan, dan setelah beberapa menit dan Anda merasa siap maka boleh perlahan-lahan bangun duduk.

(Genta)

Lima Renungan Sebelum Makan

Lima Renungan Sebelum Makan
  1. Makanan ini adalah anugerah dari seluruh alam semesta—bumi, langit, berbagai makhluk hidup, dan hasil kerja keras
  2. Marilah kita makan dengan sadar penuh dan rasa syukur, agar kita layak menerima makanan ini
  3. Selama menyantap makanan, semoga kita dapat mengenali dan mengubah bentuk-bentuk mental tidak bajik, terutama keserakahan, dan belajar untuk makan secukupnya
  4. Marilah kita makan dengan sedemikian rupa; agar mengurangi penderitaan semua makhluk, melestarikan planet ini, dan menghentikan tindakan yang dapat menyebabkan terjadinya krisis iklim
  5. Kita menerima makanan ini demi membangun komunitas latihan, memperkuat tali persaudaraan, dan mewujudkan tekad untuk menolong semua makhluk.

Pendarasan

Pendarasan

Sanggha diundang untuk kembali kepada napasnya,
sehingga energi kebersamaan kesadaran penuh
mempersatukan kita menjadi satu makhluk tunggal,
mengalir bagaikan sungai,
tiada lagi cerai berai pemisahan,
izinkanlah Sanggha bernapas bagaikan satu tubuh,
melantun bagaikan satu tubuh,
mendengar bagaikan satu tubuh,
menembus jauh
melampaui garis pembatas sang aku yang tidak nyata,
terbebas dari kompleks superioritas,
kompleks inferioritas, dan kompleks ekualitas.


1a.   Persembahan Dupa

(GENTA 3x)
Mempersembahkan dupa seluas
angkasa raya
untuk Buddha dan Bodhisattwa
Harum semerbak dupa ini,
daya upaya benar,
dan sepenuh hati,
wawasan pengertian menjadi sempurna.
Semoga selalu menyertai
para buddha dan bodhisattwa.
Semoga terjaga sepenuhnya
tiba di rumah sejati. (GENTA)

1b.   Persembahan Dupa

(GENTA 3x)

Harumnya dupa telah mengundang bodhicitta hadir
Bersamaku, bersamaku sesungguhnya di sini, sesungguhnya di sini
Harumnya dupa ini melindungi serta menjaga batin
Oh… harumnya dupa ini menyatukan kita semua
Dalam pelaksanaan sila samadhi prajna
Kami datang persembahkan semua
Namo bodhisattvebhyah
Namo mahasattvebhyah
(GENTA)


2.   Menyentuh Bumi

Gatha Pembuka

Yang bersujud dan objek sujud pada hakikatnya sunyata.
Oleh sebab itu komunikasi, terjalin sempurna apa adanya.
Pusat latihan kami adalah jaring Indra
memantulkan semua Buddha di setiap sudut.
Diriku berdiri di hadapan setiap Buddha,
Aku berlindung kepadaMu.
(GENTA)

Bersujud

(menyentuh bumi setiap kali bunyi genta)

BERSUJUD (menyentuh bumi setiap kali bunyi genta)

Pemimpin:
Mempersembahkan cahaya di Sepuluh Penjuru

Bersama-sama:
Buddha, Dharma, dan Sanggha,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin: 
Mengajar dan hidup melalui kesadaran-penuh
di tengah-tengah penderitaan dan kebingungan,

Bersama-sama:
Buddha Sakyamuni,
Dia yang telah sadar sepenuhnya,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Memancarkan cahaya di semua penjuru
Sumber kehidupan di dunia ini

Bersama-sama:
Mahavairocana Tathagatha,
Ayahnda matahari
Buddha cahaya dan hidup tanpa batas
Kami bersujud padamu
(GENTA)


Pemimpin:
Memotong tembus ketidaktahuan,
menyadarkan hati dan pikiran kami,

Bersama-sama:
Manjusri, Bodhisattwa Pengertian Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Bekerja dengan penuh kesadaran, penuh suka cita
untuk kepentingan semua makhluk hidup,

Bersama-sama:
Samantabhadra, Bodhisattwa Tindak Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Mendengar secara mendalam,
melayani makhluk dalam cara tanpa batas,

Bersama-sama:
Awalokiteswara, Bodhisattwa Welas Asih Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Tiada ketakutan dan tekun mengarungi
alam-alam penderitaan dan kegelapan

Bersama-sama:
Ksitigarbha, Bodhisattwa Aspirasi Agung,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Benih kesadaran dan cinta kasih
dalam anak-anak dan semua makhluk,

Bersama-sama:
Maitreya, Buddha yang akan datang,
kami bersujud padamu.
(GENTA)


Pemimpin:
Ibunda semua Buddha, bodhisattwa dan semua makhluk
Menopang dan menyembuhkan semuanya

Bersama-sama:
Bodhisattwa Pertiwi, Ibunda bumi
Permata indah jagad raya
Kami bersujud padamu
(GENTA)


Pemimpin:
Menunjukkan jalan tanpa rasa takut,
dan penuh welas asih
Bersama-sama:
seluruh guru silsilah leluhur spiritual,
kami bersujud padamu.
(GENTA 2x)


 

3.   Gatha Pembukaan

(GENTA 3x)
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā-sambuddhassa (3x)
(GENTA)

Buddhadharma nan indah
kini kami terima
belajar dan praktikkan
merealisasikan maknanya
(GENTA)


 

4a.   Sutra Hati Prajnaparamita
Wawasan Pembawa ke Pantai Seberang

Avalokiteshvara
merenungkan mendalam
wawasan pembawa ke pantai seberang
seketika sadar bahwa
semua pancaskanda adalah sunyata adanya
merealisasikan ini
teratasi semua duka (G)

Wahai Sariputra,
tubuh ini adalah sunyata
dan sunyata adalah tubuh ini
tubuh ini tiada beda dengan sunyata
dan sunyata tiada beda dengan tubuh ini
begitu juga dengan perasaan,
persepsi, formasi mental,
dan kesadaran. (G)

Wahai Sariputra,
semua fenomena bercirikan sunyata;
sifat dasarnya adalah
tiada lahir tiada mati,
tiada eksis, tiada non eksis,
tiada noda, tiada suci
tiada bertambah tiada berkurang.
Maka itu sunyata,
tubuh, perasaan, persepsi,
formasi mental, dan kesadaran
bukanlah entitas tunggal terpisah. (G)

Delapan belas ranah fenomena
yaitu enam organ indra,
enam objek indra,
dan enam kesadaran
juga bukanlah entitas tunggal terpisah.
Dua belas rantai interdependen kemunculan
dan kemusnahannya
juga bukanlah entitas tunggal terpisah.
Duka, duka samudaya,
duka nirodha, marga
wawasan dan pencapaian,
juga bukanlah entitas tunggal terpisah.
Mereka yang melihat semua ini
tak perlu mencapai apa pun lagi. (G)

Bodhisattwa mempraktikkan
wawasan pembawa ke pantai seberang
tidak melihat adanya penghalang pikiran,
dan karena
tiada lagi penghalang pikiran, semua ketakutan teratasi,
musnahlah semua persepsi keliru
dan merealisasikan nirwana sempurna. (G)

Semua Buddha pada tiga masa
mempraktikkan wawasan pembawa ke pantai seberang
semua mampu mencapai
pencerahan autentik sempurna. (G)

Maka itu Sariputra,
ketahuilah bahwa
wawasan pembawa ke pantai seberang
adalah maha mantra,
maha vidya mantra,
anuttara mantra,
samasama mantra,
kearifan sejati berkekuatan
mengakhiri semua jenis duka. (G)

Maka itu marilah mendaraskan
mantra untuk memuja
wawasan pembawa ke pantai seberang
Gate, Gate, Paragate, Parasamgate, Bodhi Svaha!
Gate, Gate, Paragate, Parasamgate, Bodhi Svaha!
Gate, Gate, Paragate, Parasamgate, Bodhi Svaha!


5. Mengagungkan Nama Para Bodhisattwa

Kami mengagungkan namamu, Awalokiteswara.
Kami bercita-cita mempelajari cara mendengarmu
agar dapat membantu meringankan penderitaan di dunia.
Engkau tahu cara mendengar untuk memahami.
Kami mengagungkan namamu agar dapat berlatih mendengar
dengan seluruh perhatian dan keterbukaan hati.
Kami akan duduk dan mendengar tanpa disertai prasangka.
Kami akan duduk dan mendengar tanpa menghakimi atau bereaksi.
Kami akan duduk dan mendengar agar mampu memahami.
Kami akan duduk dan mendengarkan sedemikian rupa
sehingga kami dapat menyimak apa yang disampaikan orang lain
serta apa yang belum dituturkannya.
Kami tahu hanya dengan mendengarkan secara mendalam saja,
kami dapat meringankan banyak kepedihan dan penderitaan dalam diri orang lain.
(GENTA)

Kami mengagungkan namamu, Manjusri.
Kami bercita-cita mempelajari caramu,
yaitu diam tak bergeming dan melihat jauh ke dalam jantung segala sesuatu dan hati manusia secara mendalam.
Kami akan melihat dengan seluruh perhatian dan keterbukaan hati kami.
Kami akan melihat dengan mata polos tanpa prasangka.
Kami akan melihat tanpa menghakimi atau bereaksi.
Kami akan melihat secara mendalam sehingga kami mampu melihat dan memahami akar-akar penderitaan, ketidakkekalan, dan hakikat tanpa-diri segala sesuatu.
Kami akan berlatih caramu menggunakan pedang kebijaksanaan
untuk memotong tembus belenggu penderitaan,
sehingga membebaskan diri kami dan berbagai spesies lainnya.
(GENTA)

Kami mengagungkan namamu, Samantabhadra.
Kami bercita-cita mempraktikkan aspirasimu
untuk bertindak dengan mata dan hati yang penuh belas kasih.
Kami menyatakan bersedia dan sanggup untuk membawa suka cita kepada satu orang di pagi hari
serta meringankan penderitaan satu orang di sore hari.
Kami tahu kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan kami
dan kami siap dan bersedia mempraktikkan mudita di jalan pelayanan.
Kami tahu bahwa setiap kata, setiap tatapan, setiap tindakan, dan setiap senyuman dapat menghantarkan kebahagiaan kepada orang lain.
Kami tahu jika kami berlatih dengan sepenuh hati,
kami sendiri dapat menjadi sumber kedamaian dan suka cita yang tiada habisnya bagi orang-orang yang kami kasihi maupun semua spesies.
(GENTA 2x)


6. Pembacaan Sutra / Meditasi

(Pemimpin kebaktian membacakan sutra, sementara para peserta lainnya menyimak dengan hening dan berkesadaran sepenuhnya)

(GENTA 2x)


7a. Tiga Perlindungan

Aku berlindung pada Buddha
Penunjuk jalan dalam kehidupan
Namo Buddhaya (3x)

Aku berlindung pada Dharma
Ajaran kasih dan pengertian
Namo Dharmaya (3x)

Aku berlindung pada Sangha
Komunitas sadar penuh harmonis
Namo Sanghaya (3x)

Namo Buddhaya
Namo Dharmaya
Namo Sanghaya
(GENTA 2x)


7b. Tisarana

Buddha yang mulia, penunjuk jalan ke pencerahan
Namo Buddhaya

Dharma yang mulia, ajaran kasih bijaksana
Namo Dharmaya

Sangha yang mulia, hidup bersama damai dan harmonis
Namo Sanghaya

Pulang ke Buddha, jalan begitu indah dan cerah
Namo Buddhaya

Pulang ke Dharma, belajar dan mempraktikkan transformasi diri
Namo Dharmaya

Pulang ke Sangha, komunitas mendukung, membimbing serta, mendukung latihan
Namo Sanghaya

Buddha di hati, semua makhluk terinpirasi hati bersinar
Namo Buddhaya

Dharma di hati, semua makhluk menguasai praktik transformasi
Namo Dharmaya

Sangha di hati, semua makhluk berkomunitas hidup harmonis
Namo Sanghaya

Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi
Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi

7c.   Berbagi Jasa Kebajikan

Aku berlindung kepada Buddha,
yang menunjukkan kepadaku jalan dalam kehidupan ini.
Aku berlindung kepada Dharma,
jalan pengertian dan cinta kasih.
Aku berlindung kepada Sanggha,
komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan kesadaran-penuh.
(GENTA)

Berada dalam perlindungan Buddha,
aku dengan jelas melihat kejernihan dan keindahan di dunia.
Berada dalam perlindungan Dharma,
aku belajar untuk membuka banyak pintu transformasi.
Berada dalam perlindungan Sanggha,
cahaya tuntunan yang mendukungku,
menjaga latihanku bebas dari gangguan.
(GENTA)

Berlindung kepada Buddha dalam diriku,
aku beraspirasi membantu semua orang menyadari
hakikat pencerahan sejati dirinya sendiri,
untuk merealisasi bodhicitta.
Berlindung kepada Dharma dalam diriku,
aku beraspirasi menolong semua orang
menguasai cara latihan dengan baik,
dan melangkah bersama di jalan pembebasan.
Berlindung kepada Sanggha dalam diriku,
aku beraspirasi menolong semua orang membangun Empat Komunitas,
untuk merangkul semua orang dan mendukung transformasinya.
(GENTA 2x)


8a.   Berbagi Jasa Kebajikan

Mendaraskan sutra
Berlatih kesadaran penuh
Mendatangkan berkah kebajikan
Dilimpahkan pada alam semesta
kepada ayah dan ibu
guru, sahabat, dan semua makhluk
pendukung disepanjang hidup ini
(GENTA 3x)


8b.   Berbagi Jasa Kebajikan

Semoga jasa dan kebajikan
Memperindah Tanah Suci para Buddha
Membalas Empat Budi Besar
Dan menolong mereka di Tiga Alam Sengsara

Semoga mereka yang mendengarkan Dharma ini
Semua bertekad membangkitkan kebodhian
Sampai di akhir kehidupan ini
Bersama-sama lahir di alam bahagia.


8c.   Berbagi Jasa Kebajikan

Sehari telah berlalu,
usia telah berkurang.
Marilah kita periksa
apa yang telah kita lakukan.
Wahai komunitas,
berlatihlah dengan rajin dan
sepenuh hati dalam meditasi.
Ingatlah segala sesuatu tiada yang kekal abadi,
hiduplah dalam kebebasan setiap momen,
agar kehidupan tidak lewat begitu saja tanpa makna.

Makhluk tiada batas, aku bertekad membebaskannya
Gangguan batin tiada ujung, aku bertekad memutuskannya
Pintu Dharma tak terukur, aku bertekad mempelajarinya
Buddhadharma tak tertandingi, aku bertekad merealisasikannya

Membaca sutra, mempraktikkan jalan penuh kesadaran,
memberikan manfaat tanpa batas.
Kami bersedia untuk berbagi hasil kemajuan praktik kepada semua makhluk.
Kami bersedia untuk mempersembahkan penghormatan kepada orang tua, para guru, sahabat, serta makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya yang telah memberikan bimbingan dan dukungan di sepanjang jalan.
Saddhu, Saddhu, Saddhu (GENTA 3x)

 

Lima Latihan Menyentuh Bumi

Lima Latihan Menyentuh Bumi

MENYENTUH BUMI

Latihan Menyentuh Bumi adalah kembali ke bumi, ke akar kita, ke leluhur kita, dan menyadari bahwa kita tidak sendirian tapi tersambung dengan seluruh aliran spiritual dan darah leluhur. Kita adalah penerus, kelanjutan dari mereka, dan bersama mereka kita akan berlanjut ke generasi yang akan datang. Kita menyentuh bumi untuk menghalau ide bahwa kita terpisah, dan mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari kehidupan dan bumi.

Ketika menyentuh bumi, kita menjadi kecil, dengan kerendahan hati dan kesederhanaan seorang anak kecil. Ketika kita menyentuh bumi, kita menjadi besar, seperti pohon purba menancapkan akarnya jauh ke dalam tanah, dan minum dari sumber semua air. Ketika kita menyentuh bumi, kita menarik napas bersama semua kekuatan dan kemantapan bumi, dan kita menghembuskan semua penderitaan kita—perasaan marah, benci, takut, ketidakmampuan, dan ratapan kita.

Kita mempertemukan kedua telapak tangan kita untuk membentuk kuntum lotus dan dengan lembut kita menundukkan diri kita ke tanah, sehingga keempat anggota tubuh dan dahi kita nyaman bertumpu pada lantai. Ketika menyentuh bumi, kita putarkan tangan kita ke atas, menunjukkan keterbukaan kita pada Tiga Permata—Buddha, Dharma, dan Sanggha. Bahkan setelah melaksanakan “Lima Jurus Menyentuh atau Tiga Jurus Menyentuh” sebanyak satu atau dua kali, kita akan dapat membuang sejumlah penderitaan dan perasaan terasing dan kita bersatu dengan leluhur, orang tua, anak, dan teman-teman.

LIMA BAGIAN MENYENTUH BUMI

I
Dengan penuh rasa syukur, aku membungkuk hormat kepada semua leluhur kandungku.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Aku melihat ibu dan ayahku, yang darah, daging dan vitalitasnya mengalir dalam pembuluh darahku dan merawat setiap sel dalam tubuhku. Melalui mereka, aku melihat keempat kakek dan nenekku. Harapan, pengalaman, dan kebijaksanaan mereka ditransmisikan dari begitu banyak generasi leluhur. Aku membawa hidup, darah, pengalaman, kebijaksanaan, kebahagiaan, dan penderitaan dari semua generasi di dalam diriku. Aku berlatih untuk mengubah penderitaan dan semua elemen yang harus diubah. Aku membuka hati, daging, dan tulang dalam diriku untuk menerima energi pemahaman, cinta, dan pengalaman untuk ditransmisikan kepada diriku oleh semua leluhurku. Aku melihat akar diriku dalam diri ayah, ibu, kakek, nenek, dan semua leluhurku.

Aku tahu bahwa aku hanyalah penerus, kelanjutan dari leluhurku. Berikanlah dukungan, perlindungan, dan energimu pada diriku. Aku tahu di mana anak dan cucu berada, leluhur juga ada di sana. Aku tahu orang tua selalu menyayangi dan mendukung anak dan cucunya, meskipun mereka tidak selalu mampu mengungkapkannya secara terampil karena kesulitan-kesulitan yang telah mereka alami. Aku melihat para leluhurku telah berusaha untuk membangun cara hidup berdasarkan rasa syukur, sukacita, keyakinan, rasa hormat, dan cinta kasih. Sebagai penerus dari leluhurku, aku membungkuk hormat secara mendalam dan mengizinkan energi mereka mengalir melalui diriku. Aku memohon dukungan, perlindungan, dan kekuatan dari para leluhurku.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


II
Dengan penuh rasa syukur, aku membungkuk hormat kepada semua generasi leluhur dalam keluarga spiritualku.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Aku melihat sosok para guruku dalam diriku, mereka yang menunjukkan jalan cinta kasih dan pengertian padaku, cara untuk bernapas, tersenyum, memaafkan, dan hidup sepenuhnya pada momen ini. Aku melihat melalui guru-guruku semua guru dari banyak generasi dan tradisi, kembali pada mereka yang memulai keluarga spiritualku ribuan tahun yang lalu. Aku melihat Buddha atau Yesus Kristus atau pemimpin agama lain sebagai guru-guruku, dan juga sebagai leluhur spiritualku. Aku melihat energi mereka dan energi dari banyak generasi dari para guru memasuki diriku dan menciptakan kedamaian, sukacita, pengertian, dan kasih sayang dalam diriku. Aku tahu bahwa energi dari para guru ini telah banyak mengubah dunia. Tanpa Buddha dan semua leluhur spiritual, aku tidak akan tahu cara berlatih untuk menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupku serta hidup keluargaku dan masyarakat. Aku membuka hati dan tubuhku untuk menerima energi pengertian, kasih sayang, dan perlindungan dari mereka yang tercerahkan, ajaran-ajaran mereka, dan komunitas yang mempraktikkannya dari generasi ke generasi. Aku adalah penerus mereka, aku memohon pada para leluhur spiritualku untuk menyalurkan sumber energi, kedamaian, stabilitas, pengertian, dan cinta mereka yang tidak terbatas pada diriku. Aku bertekad untuk berlatih mengubah penderitaanku dan penderitaan dunia, dan menyalurkan energi mereka kepada para praktisi generasi yang akan datang. Leluhur spiritualku mungkin menghadapi kesulitan mereka sendiri dan tidak selalu dapat mentransmisikan ajarannya, namun aku menerima mereka apa adanya.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


III
Dengan penuh rasa syukur, aku membungkuk hormat kepada bumi ini dan semua leluhur yang telah menghadirkannya.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Aku melihat bahwa diriku utuh, terlindungi, dan dirawat oleh negeri ini dan oleh semua makhluk hidup yang pernah ada di sini dan membuat hidupku lebih mudah dan memungkinkan melalui semua usaha mereka. Aku melihat Ibu Kartini, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Gus Dur, dan lain-lain, yang terkenal dan tidak terkenal. Aku melihat mereka semua yang telah menjadikan negara ini sebagai tempat berlindung bagi orang-orang dari beragam asal-usul dan warna kulit, dengan talenta, ketekunan, dan cinta mereka —mereka yang telah bekerja keras membangun sekolah, rumah sakit, jembatan, dan jalan raya, yang melindungi hak asasi manusia, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berjuang untuk kebebasan dan keadilan sosial. Aku melihat diriku menyentuh leluhur nenek moyang Nusantara asli yang telah hidup di tanah ini untuk waktu yang lama dan tahu cara untuk hidup dalam damai dan selaras dengan alam, melindungi gunung-gunung, hutan, binatang, tumbuhan, dan mineral dari negeri ini. Aku merasa energi negeri ini masuk ke dalam tubuh dan jiwaku, mendukung dan menerima diriku. Aku bertekad untuk mengembangkan dan memelihara energi ini dan mentransmisikannya kepada generasi yang akan datang. Aku bertekad untuk berkontribusi dalam mengubah kekerasan, kebencian, dan delusi yang masih bersemayam dalam kedalaman kesadaran kolektif masyarakat, sehingga generasi mendatang akan lebih menikmati keamanan, sukacita, dan kedamaian. Aku memohon perlindungan dan dukungan pada negeri ini.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


IV

Dengan penuh rasa syukur dan welas asih, aku membungkuk hormat dan mengirimkan energiku kepada mereka yang aku sayangi.

[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Semua energi yang telah aku terima, kini ingin aku kirimkan kepada ayahku, ibuku, dan semua orang yang aku sayangi, semua yang telah menderita dan cemas karena aku dan demi diriku. Aku tahu aku tidak cukup sadar penuh dalam kehidupanku sehari-hari. Aku juga tahu bahwa mereka yang mengasihi diriku juga menghadapi kesulitannya masing-masing. Mereka telah menderita karena mereka kurang beruntung, tidak memiliki lingkungan yang mendorong mereka untuk berkembang penuh. Aku mengirimkan energiku untuk ibuku, ayahku, kakakku, adikku, orang yang aku sayangi, suamiku, istriku, anak perempuanku dan anak laki-lakiku, sehingga penderitaan mereka bisa teratasi, sehingga mereka bisa tersenyum dan merasakan sukacita karena hidup. Aku ingin mereka semua sehat dan gembira. Aku tahu bahwa jika mereka bahagia, aku juga akan bahagia. Aku tidak lagi merasa dendam terhadap siapa pun di antara mereka. Aku berdoa agar semua leluhur keluarga kandungku dan keluarga spiritualku memusatkan energinya kepada mereka semua, untuk melindungi dan mendukung mereka. Aku tahu bahwa aku tidak terpisahkan dari mereka. Aku adalah satu kesatuan dengan orang-orang yang aku sayangi.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]


V
Dengan penuh pengertian dan welas asih, aku membungkuk hormat untuk mendamaikan diriku dengan mereka yang telah membuatku menderita.
[GENTA]
[SEMUA MENYENTUH BUMI]

Aku membuka hatiku dan mengirimkan energi cinta dan pengertianku kepada semua orang yang telah membuat diriku menderita, kepada mereka yang telah merusak hidupku dan hidup orang-orang yang aku sayangi. Aku tahu orang-orang ini telah mengalami banyak penderitaan dan hati mereka diliputi oleh kepedihan, kemarahan, dan kebencian. Aku tahu bahwa mereka yang menderita begitu dalam akan menyebabkan semua yang ada di sekitar mereka juga menderita. Aku tahu mereka kurang beruntung, tidak pernah memiliki kesempatan untuk diperhatikan dan dicintai. Kehidupan dan masyarakat telah memberi mereka banyak kesulitan. Mereka telah dipersalahkan dan diperlakukan secara tidak adil. Mereka tidak mendapat bimbingan untuk menjalani hidup penuh kesadaran. Mereka telah menimbun persepsi yang keliru tentang hidup, tentang diriku, dan tentang kita. Mereka telah menyalahkan kita dan orang-orang yang kita sayangi. Aku berdoa agar leluhur keluarga kandungku dan keluarga spiritualku mengirimkan energi cinta dan perlindungan kepada mereka, orang-orang yang telah membuat kita menderita, sehingga hati mereka mampu menerima nektar cinta dan mekar seperti bunga. Aku berdoa agar mereka dapat bertransformasi agar dapat mengalami kebahagiaan hidup, sehingga mereka tidak terus menyebabkan diri mereka dan orang lain menderita. Aku melihat penderitaan mereka dan aku tidak ingin menyimpan perasaan benci atau marah terhadap mereka dalam diriku. Aku tidak ingin mereka menderita. Aku menyalurkan energi cinta dan pengertianku kepada mereka dan mengharapkan semua leluhurku menolong mereka.

[TIGA KALI NAPAS]
[GENTA]
[SEMUA BERDIRI]