Mindfulness tidak Insensitif

Agar Mindfulness Tidak Insensitif dari Realita Sosial
Apa arti spiritualitas ketika masyarakat sedang menderita?
Rahka Susanto, Anggota Order of Interbeing, Aktivis, dan Jurnalis

Banyak orang mengenal mindfulness sebagai teknik untuk menenangkan pikiran: duduk diam, mengatur napas, dan hadir pada saat ini. Tetapi ada dimensi lain yang jauh lebih politis dari mindfulness. Salah satu tokohnya adalah Thích Nhất Hạnh, yang juga dikenal sebagai Father of Mindfulness.

Dalam konteks Perang Vietnam, ia mengembangkan gagasan Engaged Buddhism ketika desa-desa dihancurkan dan masyarakat kehilangan rumah, keluarga, serta kehidupan mereka. Pertanyaannya kemudian bukan hanya: bagaimana manusia menemukan ketenangan? Tetapi juga: apa arti spiritualitas ketika masyarakat sedang menderita?

Ia mengkritik bentuk tradisi spiritual yang terpisah dari realitas sosial. Jika rumah ibadah menutup pintunya sementara manusia di luar sedang mengalami kekerasan, muncul pertanyaan etis: apa gunanya spiritualitas jika ia tidak mampu hadir di tengah penderitaan?

Di sinilah mindfulness menjadi lebih dari sekadar teknik meditasi. Mindfulness berarti being fully present, tetapi “hadir” bukan hanya terhadap napas dan pikiran kita. Kita juga belajar hadir terhadap penderitaan orang lain, struktur sosial, kekerasan, dan kondisi dunia yang membentuk kehidupan kita.

Dalam konsep interbeing Thích Nhất Hạnh, manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari masyarakat, lingkungan, sejarah, dan manusia lain. Karena itu, penderitaan personal sering memiliki akar sosial.

Mindfulness kemudian bergerak menjadi etika: menyadari penderitaan → memahami akarnya → bertindak untuk menguranginya.

Ia tidak memisahkan transformasi batin dan sosial. Transformasi batin tanpa keterlibatan sosial dapat menjadi pelarian; transformasi sosial tanpa transformasi batin dapat mereproduksi kekerasan.

Maka mindfulness bukan escape from the world. Justru sebaliknya: melihat dunia dengan lebih jernih agar kita dapat bertindak lebih etis di dalamnya.

Pertanyaannya bukan hanya, “Bagaimana saya menjadi lebih tenang?” tetapi, “Setelah melihat penderitaan dengan lebih jernih, apa tanggung jawab saya?”

Thích Nhất Hạnh menerjemahkan gagasan ini melalui Five Mindfulness Trainings, kerangka etika untuk kehidupan sehari-hari: melindungi kehidupan, membangun relasi yang bertanggung jawab, berkomunikasi dengan penuh kasih, serta mengonsumsi secara sadar.

Gagasan ini juga dibawa ke ruang internasional melalui keterlibatannya dengan UNESCO, sebagai upaya membangun etika yang dapat merespons kekerasan dan krisis sosial.

Lebih jauh, Thích Nhất Hạnh mengembangkan 14 Mindfulness Trainings sebagai prinsip etis bagi Order of Interbeing (Tiếp Hiện). Isinya jauh melampaui praktik meditasi: menyangkut anti-dogmatisme, keterbukaan terhadap perbedaan, non-kekerasan, keadilan sosial, konsumsi sadar, komunikasi penuh kasih, serta keberanian menghadapi penderitaan dan ketidakadilan.

Dikembangkan pada 1966, di tengah Perang Vietnam, prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa mindfulness bagi Thích Nhất Hạnh bukan sekadar cara menenangkan diri, tetapi cara membangun kehidupan sosial yang lebih damai, inklusif, dan bertanggung jawab.

“Saya pernah menulis sebuah artikel di sebuah majalah Saigon yang membandingkan Buddhisme dan Marxisme. Saya mengatakan bahwa keduanya berangkat dari titik awal yang sama, yaitu menyadari Kebenaran Mulia Pertama, yakni adanya penderitaan (dukkha). Namun, tidak lama kemudian keduanya mengambil jalan yang berbeda.

Kaum Buddhis mengalami penderitaan dan ingin menjadikan belas kasih sebagai sumber energi untuk bertindak, sedangkan kaum Marxis menggunakan kemarahan sebagai energi untuk bertindak.” – Thich Nhat Hanh


Discover more from Komunitas Zen Plum Village

Subscribe to get the latest posts sent to your email.