Pilot Project: Monastery Solar Energy

Pilot Project: Monastery Solar Energy

Our intention. This modest solar and battery system is a practical expression of mindful care for the monastery, the surrounding land, and future generations. By receiving energy from the sun, we can reduce our dependence on grid electricity, have support during interruptions, and learn carefully from this small beginning before considering a larger installation.

The System We Will Care For

Solar Array
2.4 kWp
4 × 600 W panels
Inverter
6 kW
Hybrid inverter
Battery Storage
48 V 200 Ah
9.6 kWh nominal

A Small Beginning with Care

  • Four 600 W solar panels will receive energy from the sun, creating a 2.4 kWp solar array.
  • A 6 kW hybrid inverter and 48 V 200 Ah lithium battery bank will help us use this energy through the day and, when needed, after sunset.
  • Protective breakers, surge protection, grounding, mounting hardware, and manual transfer equipment will support safe and mindful operation.
  • By observing the system with patience, we will learn what is needed for a future larger-scale monastery installation.

Expected Benefits

A lighter energy bill: Solar energy can gently offset part of the monastery’s daytime electricity use, helping resources serve the community’s practice and needs.Support in difficult moments: Stored energy can support selected loads during outages, with mindful attention to what is essential.
Less carbon dioxide: Each unit of solar electricity used can reduce reliance on fossil-fuel-generated electricity and the associated carbon dioxide emissions.Care for the environment: Using renewable energy supports cleaner air and a lower environmental impact. It is one small way to remember that our well-being is connected to the Earth’s well-being.
Learning together The installation becomes a living example of renewable energy in daily monastery life and a chance to practice gratitude for the sun, rain, soil, and all the conditions that support us.A foundation for the future Patient observation and shared learning from this pilot will guide a larger project when the community is ready.

Project Budget

The estimated main equipment and installation materials are listed below:

No.ItemCost THB
1Luxpower hybrid inverter 6 kW12,387.50
2Solar panels 600 W × 49,240.70
3Solar cable 9 m 4 mm²241.55
4Solar cable 9 m 6 mm²654.97
5Breaker MCB 2P DC 25A66.52
6AC SPD 2P 275V305.00
7Breaker 2P AC 40A130.00
8Breaker RCCB 40A 2P Type A820.00
9Panel edge clips 6 and mid clips 61,838.09
10Mounting rails 2.1 m × 6; rail connectors × 4Included in total
11L feet mounting brackets973.81
12Grounding cable 20 m679.29
13Cable junction boxes × 4166.00
14Manual transfer switch interlock344.00
15Lithium battery cells 200 Ah 3.2 V18,000.00
16Battery management system3,500.00
 Total project budget49,347.43

The total budget is about ฿49,347.43, approximately US$ 1,500.

A contribution helps the monastery take a practical step toward lower energy costs, greater resilience, and a lighter relationship with the Earth. In this spirit, even a simple solar panel can remind us that nothing exists by itself: our energy, our community, and the living world arise together.

Support our Project

Bank Central Asia (BCA)
Account No. 6310398088
Beneficiary’s Name: Yayasan Borobudur Upaya Dhyana Indonesia
SWIFT CODE: CENAIDJA
Bank Code: 104
Branch Code: 6310  

Address of the Bank:
BCA KCP Kayu Putih 
Komp. The High End City Korea Town, Jl. Kayu Putih Raya Blok D 3, Wil, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13210.

Note:
If you transfer from an Indonesian bank account, please put 40 as the transfer code. for example
IDR 100.040,-

Send donation details to Metta WhatsApp No. +628118129088

If you have further questions related to the project, you can contact
Br. Đạt Nguyện (troidatnguyen@plumvillage.org or WhatsApp +84782787488)
Br. Pháp Tử (phaptu@plumvillage.org or WhatsApp +628116592010)


Peace, love, and trust,
Br. Đạt Nguyện & Br. Pháp Tử

Transformasi Konflik Menjadi Cinta Kasih

Transformasi Konflik Menjadi Cinta Kasih

Dalam upaya merawat dan memperkuat keharmonisan rumah tangga umat Buddha berdasarkan nilai-nilai Dharma, Perkumpulan Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Provinsi Riau, yang dikoordinasikan bersama WBI Vihara Dhamma Santi, WBI Vihara Dharma Manggala, dan WBI Dhammaguna Buddhist Centre, menyelenggarakan kegiatan Penyegaran Perkawinan. Kegiatan ini mengadopsi metode latihan kesadaran penuh dalam tradisi Zen Plum Village, mengajak para pasangan untuk kembali hadir sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan yang penuh pengertian, cinta kasih, dan harmoni.

Mengusung tema “METTA-morfosis: Transformasi Konflik Menjadi Cinta Kasih”, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu YM. Bhante Thiradhammo Mahathera dan MUP. Toni Sasanasurya. Keduanya berbagi wawasan tentang kehidupan berumah tangga dari perspektif spiritual dan pengalaman kehidupan keluarga. Melalui Dharma, para peserta diajak untuk melihat bahwa keharmonisan bukan berarti tidak pernah mengalami perbedaan atau konflik, melainkan kesediaan untuk saling memahami dan bertumbuh bersama di tengah berbagai tantangan dalam kehidupan.

Selain mendengarkan pembabaran Dharma dan berbagi pengalaman, para pasangan berlatih meditasi duduk, gerak berkesadaran, makan berkesadaran, berjalan berkesadaran, serta relaksasi total. Berbagai latihan ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, kembali pada napas, dan menyadari kehadiran diri sendiri maupun pasangan dengan lebih utuh.

Salah satu momen yang bermakna adalah upacara penyegaran janji pernikahan. Para pasangan membacakan aspirasi bersama dan saling mempersembahkan sekuntum bunga sebagai ungkapan cinta kasih, penghargaan, dan kesetiaan. Mereka juga kembali mengikatkan pita kuning pada lengan pasangan sebagai simbol bahwa kehidupan rumah tangga mereka dipersatukan dan dibimbing oleh Dharma. Pita tersebut sekaligus menjadi pengingat akan komitmen untuk terus merawat cinta, memperkuat ikatan batin, dan berjalan bersama dalam suka dan duka. Sesi ini dipandu oleh Romo Toni dan dilengkapi dengan pemberkahan tirta suci oleh YM. Bhante Thiradhammo Mahathera.

Dalam kehidupan berumah tangga, komunikasi yang baik bukan sekadar kemampuan menyampaikan pikiran, melainkan juga kesediaan untuk mendengarkan dengan sepenuh hati. Melalui sesi Beginning Anew atau Memulai Lembaran Baru, para pasangan berlatih menggunakan bahasa kasih dan mendengarkan secara mendalam. Dalam suasana yang hangat dan penuh perhatian, mereka diberi kesempatan untuk menyirami benih-benih kebaikan dalam diri pasangan, mengungkapkan penghargaan, serta menyampaikan penyesalan atas perkataan atau tindakan yang mungkin pernah melukai.

Ada tanaman di pot, apakah harus tunggu layu terlebih dahulu, baru kita sirami dan pupuk?
–Lilia Handayani (Ketua Perkumpulan Wanita Buddhis Indonesia Provinsi Riau)

Dengan saling menggenggam tangan dan menatap pasangan, mereka berlatih berbicara dari hati yang tulus sekaligus mendengarkan tanpa tergesa-gesa menghakimi atau membela diri. Latihan ini membuka ruang untuk memahami perasaan dan kebutuhan satu sama lain, menyentuh kembali kasih yang mungkin tertutupi oleh kekecewaan, serta mengambil langkah menuju pemulihan hubungan. Sesi tersebut ditutup dengan Hugging Meditation atau meditasi berpelukan, ketika para pasangan saling memeluk dengan penuh kesadaran, hadir sepenuhnya di sini dan saat ini. Pelukan itu menjadi ungkapan sederhana bahwa di balik perbedaan dan kesulitan, mereka masih memiliki kesempatan untuk saling memahami dan kembali terhubung.

Kegiatan yang diikuti oleh sembilan pasangan Buddhis ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.00. Turut hadir Pembimas Agama Buddha Provinsi Riau, Bapak Wiriyanto beserta istri, yang memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Penyegaran Perkawinan sebagai salah satu upaya memperkuat kehidupan keluarga yang berlandaskan Dharma.

Melalui kegiatan ini, para pasangan diharapkan dapat membawa pulang bukan hanya pengalaman yang menyegarkan, tetapi juga tekad untuk terus mempraktikkan kesadaran penuh dalam kehidupan sehari-hari. Dengan belajar berhenti sejenak, kembali kepada napas, berbicara dengan penuh kasih, dan mendengarkan secara mendalam, setiap pasangan memiliki kesempatan untuk mengubah kesalahpahaman menjadi pengertian, merawat luka dengan kelembutan, dan menyirami benih-benih kebahagiaan dalam hubungan mereka.

Sebab, cinta kasih bukan hanya sesuatu yang dirasakan, melainkan juga latihan yang perlu dirawat setiap hari. Semoga setiap keluarga Buddhis dapat menjadi tempat bertumbuhnya pengertian, kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan, sehingga kehidupan rumah tangga sungguh menjadi perjalanan bersama yang sarat makna dan membawa kesejahteraan bagi seluruh anggota keluarga.

Penulis: Livia; 真雨幸福, True Rain of Happiness, anggota Ordo Interbeing Indonesia; diedit oleh Br. Pháp Tử.

Suara Bagi yang Tak Bersuara

Suara Bagi yang Tak Bersuara
Highland Stilt House at Fragrant Palm Leaves Hermitage, 1958. Right to left: Thầy Thanh Tuệ, Thầy Thanh Văn, Lý Đại Nguyên, Thầy Nhất Hạnh, Thanh Giới, Dương Thi, and children.

Refleksi dari sebuah titik balik dalam kehidupan Thích Nhất Hạnh

Ada saat-saat dalam kehidupan ketika penderitaan di sekitar terasa begitu pahit sehingga kita bertanya: Apa yang dapat saya lakukan?

Pertanyaan seperti inilah yang muncul dalam kehidupan Thích Nhất Hạnh muda ketika ia menyaksikan penderitaan yang didera oleh rakyat Vietnam dan komunitas Buddhis di negerinya.

Sebuah tulisan dalam The Mindfulness Bell, yang diambil dari biografi Thích Nhất Hạnh yang disusun oleh komunitas Plum Village, mengisahkan salah satu titik balik terpenting dalam perjalanan hidup beliau: bagaimana seorang biksu muda yang berhadapan dengan penderitaan besar menemukan cara untuk tetap hadir, tetap hidup, dan terus menjadi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.

Belajar dari pohon-pohon di musim dingin

Pada awal 1960-an, Thích Nhất Hạnh berada di Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Ia belajar teologi, mendalami filsafat Buddhis, mempelajari bahasa Pali, dan berdialog dengan para akademisi dari berbagai latar belakang.

Namun, pikirannya tetap sering kembali ke Vietnam.

Ketika musim gugur berganti menjadi musim dingin, ia melihat pepohonan menggugurkan daun-daunnya. Pemandangan sederhana itu menjadi realisasi spiritual.

Ada musim ketika segala sesuatu tampak indah dan hijau. Namun, ada pula musim ketika seseorang harus melepaskan sesuatu yang tidak esensial agar dapat bertahan menghadapi badai.

Bagi Thích Nhất Hạnh, gambaran pepohonan tersebut menjadi kontemplasi mendalam tentang Vietnam dan dirinya sendiri. Masa yang sulit mungkin akan datang. Karena itu, seseorang perlu memiliki kedalaman, keteguhan, dan kesiapan batin.

Kita tidak selalu dapat memilih badai yang datang kepada kita. Namun, kita dapat mempersiapkan akar kita.

Ketika bodhisattwa tidak lagi hanya berada di dalam sutra

Pada suatu malam, Thích Nhất Hạnh membaca kisah hidup Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman yang menunjukkan keberanian dan belas kasih dalam menghadapi penderitaan pada masa yang sangat kelam.

Kisah tersebut menyentuh sesuatu yang dalam di dalam dirinya.

Ia semakin memahami bahwa sosok bodhisattwa bukanlah sekadar gambaran makhluk suci yang jauh dan hanya ada di dalam kitab-kitab Buddhis saja.

Bodhisattwa dapat hadir dalam diri manusia biasa.

Seseorang yang melihat penderitaan, tidak berpaling darinya, dan bertanya:

“Apa yang dapat kulakukan untuk meringankan penderitaan ini?”

Pemahaman tersebut kemudian menjadi salah satu benih penting bagi gagasan Agama Buddha Terapan atau Engaged Buddhism—sebuah cara menjalankan praktik Dharma yang tidak berhenti pada meditasi pribadi, tetapi juga menghadirkan pemahaman dan welas asih di tengah masyarakat.

Bermeditasi bukan berarti menjauh dari dunia.

Justru karena kita mampu berhenti dan melihat dengan jernih, kita dapat kembali ke dunia dengan hati yang lebih luas.

Thầy circa 1966 speaking out for peace at a press conference; photos courtesy of the monastic sangha

Ketika penderitaan Vietnam semakin pilu

Pada tahun 1963, situasi di Vietnam semakin memburuk. Komunitas Buddhis mengalami penindasan, dan kekerasan terhadap masyarakat menimbulkan penderitaan yang luas.

Thích Nhất Hạnh berada jauh dari tanah airnya. Namun jarak geografis tidak membuatnya berhenti peduli.

Ia mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi, membantu menerjemahkan dan menyebarkan dokumentasi, menghubungi berbagai pihak internasional, serta berbicara kepada media dan masyarakat Amerika tentang penderitaan rakyat Vietnam. Ia menjadi sebuah jembatan.

Di satu sisi ada mereka yang sedang mengalami penderitaan tetapi suaranya tidak terdengar. Di sisi lain ada masyarakat internasional yang mungkin tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Thích Nhất Hạnh menggunakan apa yang ia miliki—kata-kata, relasi, pendidikan, dan kesempatan untuk berbicara—untuk menghubungkan keduanya.

Di sinilah kita melihat makna penting dari menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar. Kita tidak selalu memiliki kekuasaan yang besar. Kadang-kadang yang kita miliki hanyalah kemampuan untuk mendengarkan, memahami, lalu berbicara dengan jelas.

Sebuah titik balik

Penderitaan yang ia saksikan akhirnya membawa Thích Nhất Hạnh kepada sebuah keputusan yang sangat berat.

Namun sebuah percakapan sederhana dengan seorang profesor yang dekat dengannya menjadi titik balik.

Sang profesor mendengarkan cerita tentang situasi di Vietnam. Setelah lama terdiam, ia mengatakan kepadanya, pada intinya: “engkau ada di sini untuk membantu saudara-saudarimu di tanah air. Gunakan waktu dan tenagamu untuk berbicara bagi mereka“.

Kalimat sederhana itu mengguncang sesuatu di dalam dirinya. Dalam perjalanan pulang, ia merenungkan semuanya. Dan di tengah perjalanan itu, ia memutuskan untuk melanjutkan hidup dan mengabdikan dirinya melalui jalan lain.

Ia menyadari bahwa ia memiliki cara sendiri untuk melayani Dharma dan dunia. Keputusan tersebut kemudian membuka jalan panjang bagi kehidupannya sebagai guru, penulis, aktivis perdamaian, dan pembawa ajaran kesadaran penuh (mindfulness) kepada banyak orang di seluruh dunia.

Kita juga dapat menjadi suara

Kisah ini mungkin terasa seperti bagian dari sejarah Vietnam. Namun sebenarnya pertanyaannya sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Di sekitar kita selalu ada orang-orang yang tidak terdengar. Anak yang tidak berani mengatakan bahwa ia sedang mengalami kesulitan. Orang tua yang kesepian tetapi tidak ingin merepotkan anak-anaknya.

Kelompok masyarakat yang suaranya lebih lemah dibandingkan mereka yang memiliki kekuasaan. Alam yang terus mengalami kerusakan, tetapi tidak dapat berbicara dalam bahasa manusia.

Bahkan kadang-kadang, suara yang paling tidak kita dengarkan adalah suara dari dalam diri kita sendiri. Menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar tidak selalu berarti berbicara dengan keras.

Kadang-kadang justru dimulai dengan mendengarkan secara mendalam. Ketika kita benar-benar mendengarkan, kita mulai memahami. Ketika kita memahami, kita tidak mudah menghakimi.

Dan, ketika pemahaman bertumbuh, tindakan kita dapat lahir bukan dari kemarahan atau kebencian, melainkan dari kasih dan kejernihan.

Left to right: Lewis Richmond, Richard Baker Roshi, and Thích Nhất Hạnh march for nuclear disarmament in 1982

Dari penderitaan menuju tindakan penuh welas asih

Salah satu warisan terpenting Thích Nhất Hạnh adalah pemahaman bahwa mindfulness bukanlah pelarian dari penderitaan.

Kita berhenti.

Kita bernapas.

Kita melihat apa yang sedang terjadi.

Lalu, dari kejernihan itu, kita bertanya:

“Apa tindakan yang paling dapat membawa pemahaman dan mengurangi penderitaan?”

Jawabannya tidak selalu sama bagi setiap orang.

Bagi seseorang, itu mungkin berarti berbicara ketika terjadi ketidakadilan.

Bagi orang lain, itu mungkin berarti mendengarkan seorang teman yang sedang mengalami masa sulit.

Bagi yang lain lagi, mungkin berarti mengajar, merawat, menulis, membangun komunitas, melestarikan alam, atau menciptakan ruang agar pihak lain merasa aman dan didengarkan.

Yang penting bukan seberapa besar tindakan kita. Yang penting adalah dari mana tindakan itu berasal.

Tetap hadir

Kisah Thích Nhất Hạnh mengingatkan kita bahwa ketika dunia sedang terluka, kita mungkin tergoda untuk percaya bahwa kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa agar hidup terasa berarti.

Padahal, terkadang dunia justru membutuhkan kita untuk tetap hadir.

Tetap bernapas.

Tetap berjalan.

Tetap menjaga kejernihan.

Tetap membuka hati.

Dan menggunakan apa pun yang ada di tangan kita untuk meringankan penderitaan.

Sebuah suara mungkin terdengar kecil.

Tetapi ketika suara itu lahir dari kasih, kejernihan, dan keberanian, ia dapat menjadi jembatan bagi banyak orang.

Mungkin inilah salah satu bentuk praktik Dharma yang paling nyata:

Melihat penderitaan, tidak berpaling darinya, dan menemukan cara untuk hadir sebagai sebuah jawaban.

Bukan dengan menjadi lebih keras daripada dunia, tetapi dengan menjadi lebih sadar.

Bukan dengan menambah kebencian, tetapi dengan menghadirkan pengertian.

Dan bukan dengan bertanya, “Mengapa dunia begitu penuh penderitaan?”

melainkan dengan perlahan bertanya:

“Dengan kehidupan yang kumiliki hari ini, penderitaan apa yang dapat kubantu ringankan?”

Disarikan dari “A Voice for the Voiceless“, kemudian diedit oleh Br. Pháp Tử

Cerita Mentari Hujan

Cerita Mentari Hujan

Adaptasi Indonesia dari “Chuyện Nắng Mưa” — Lagu dan Lirik oleh Br. Pháp Xa

Jangan mengeluh, karena mendung
Jangan cemberut, karena hujan
Mentari pun datang, bersama hujan

Lihatlah sana, pohon berjejer
Siraman hujan, tunas pun tumbuh
Daun bersenandung, daun bernyanyi

Reff
Mentari hujan, suka dan duka
Lagu mengalir bersama hidup
Lumpur terdalam, seroja tumbuh
Mentari hujan, hidup bermakna

Saat tersenyum, surya bersinar
Saat bersedih, hujan mengguyur
Mentari dan hujan, silih berganti

Ayo tersenyum, bunga pun mekar
Tersenyum lagi, hujan di teras
Cahaya bersinar, jatuh di teras

Reff

Memeluk Anak Kecil di Dalam Diri Kita

Memeluk Anak Kecil di Dalam Diri Kita
Memeluk anak kecil, ilustrasi digital dari AI.

Pernahkah kita mengalami sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi tiba-tiba membuat kita merasa sangat terluka? Sebuah ucapan, perlakuan seseorang, atau bahkan perpisahan kecil dapat menyulut kesedihan, kemarahan, atau rasa takut yang jauh lebih besar daripada situasi yang sedang terjadi. Kadang-kadang setelahnya kita bertanya, “Mengapa aku bereaksi seperti ini?” Mungkin karena yang sedang bereaksi bukan hanya diri kita yang saat ini. Ada bagian kecil dalam diri kita—seorang anak yang pernah merasa takut, kesepian, tidak dimengerti, atau defisit cinta kasih—yang kembali membutuhkan perhatian.

Ketika luka lama tersentuh

Ketika kita tumbuh dewasa, kita sering mengira bahwa pengalaman masa kecil telah berlalu. Namun, luka tidak selalu hilang hanya karena waktu berlalu. Pengalaman masa lalu dapat tetap berlanjut dalam diri kita dan muncul kembali ketika sesuatu yang terjadi saat ini menyulutnya. Karena itu, ketika emosi kita meluap, kita dapat berhenti sejenak dan bertanya dengan lembut, “Siapa yang sedang menderita di dalam diriku?” Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi untuk membuka ruang agar kita dapat melihat dan memahami bagian diri yang sedang terluka.

Hadir, bukan melawan

Dalam praktik mindfulness, kita tidak perlu buru-buru mengusir kesedihan, kemarahan, atau ketakutan. Kita belajar hadir bersamanya, duduk disebelahnya. Seperti seorang ibu yang mendengar anaknya menangis, kita tidak perlu berteriak, “Berhenti menangis!” Kita dapat mendekat, mendengarkan, dan berkata, “Aku tahu kamu sedang sedih. Aku hadir di sini.” Dengan dibarengi napas berkesadaran penuh, kita belajar mengakui, “Ada kesedihan di dalam diriku,” tanpa harus menjadi kesedihan itu sendiri. Kehadiran yang penuh kesadaran menciptakan ruang bagi kita untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Menjadi orang tua bagi diri sendiri

Salah satu bentuk kasih sayang yang paling penting adalah belajar untuk tidak meninggalkan diri sendiri saat sedang menderita. Kita mungkin berharap orang lain datang untuk memahami dan menyembuhkan luka kita, tetapi perlahan kita dapat belajar menjadi orang tua yang penuh kasih sayang bagi anak kecil di dalam diri kita. Kita dapat membatin, “Aku melihatmu. Aku mendengarmu. Aku tahu kamu terluka. Aku ada di sini.” Ini bukan berarti membenarkan semua perilaku kita, melainkan memberikan perhatian dan pemahaman yang memungkinkan luka tersebut perlahan-lahan bertransformasi.

Memutus rantai penderitaan

Ketika kita mulai memahami luka kita sendiri, kita mungkin juga mulai melihat penderitaan orang tua dan orang-orang yang pernah melukai kita dengan cara yang berbeda. Mereka pun pernah menjadi anak-anak dan mungkin membawa lukanya sendiri. Memahami hal ini bukan berarti membenarkan apa yang salah, tetapi membantu kita melihat bahwa penderitaan sering kali memiliki sejarah dan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika kita merawat dan mentransformasikan luka dalam diri, kita berkesempatan untuk tidak meneruskan kemarahan, ketakutan, atau pola perilaku yang sama kepada orang lain.

Penyembuhan adalah sebuah perjalanan

Menyembuhkan diri bukan berarti menghapus masa lalu atau berpura-pura bahwa sesuatu tidak pernah terjadi. Kita mungkin tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita dapat mengubah relasi kita dengan pengalaman tersebut. Masa lalu boleh menjadi bagian dari cerita hidup kita, tetapi tidak harus terus menerus menjadi diktator dalam kehidupan kita. Melalui praktik mindfulness, kita perlahan bergerak dari pertanyaan, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” menuju pertanyaan yang lebih penuh kasih: “Bagaimana aku dapat merawat bagian diriku yang masih terluka?”

Mungkin anak kecil di dalam diri kita tidak membutuhkan sesuatu yang besar. Ia mungkin hanya membutuhkan kita untuk berhenti sejenak, jeda, lalu bernapas dan hadir. Penyembuhan bukan tentang membuat rasa sakit menghilang, melainkan tentang berani memeluk rasa sakit itu dengan penuh kasih. Seperti seorang ibu memeluk anaknya, kita belajar mengatakan, “Anakku, aku melihatmu. Aku mendengarmu. Kali ini, aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan berjalan bersama.”

Dirangkum dan ditulis ulang dari Thich Nhat Hanh on How to Heal Your Inner Child dengan bantuan Chatgpt, kemudian diedit oleh Br. Pháp Tử.

Mindfulness tidak Insensitif

Mindfulness tidak Insensitif

Agar Mindfulness Tidak Insensitif dari Realita Sosial
Apa arti spiritualitas ketika masyarakat sedang menderita?
–Rahka Susanto, Anggota Order of Interbeing, Aktivis, dan Jurnalis

Banyak orang mengenal mindfulness sebagai teknik untuk menenangkan pikiran: duduk diam, mengatur napas, dan hadir pada saat ini. Tetapi ada dimensi lain yang jauh lebih politis dari mindfulness. Salah satu tokohnya adalah Thích Nhất Hạnh, yang juga dikenal sebagai Father of Mindfulness.

Dalam konteks Perang Vietnam, ia mengembangkan gagasan Engaged Buddhism ketika desa-desa dihancurkan dan masyarakat kehilangan rumah, keluarga, serta kehidupan mereka. Pertanyaannya kemudian bukan hanya: bagaimana manusia menemukan ketenangan? Tetapi juga: apa arti spiritualitas ketika masyarakat sedang menderita?

Ia mengkritik bentuk tradisi spiritual yang terpisah dari realitas sosial. Jika rumah ibadah menutup pintunya sementara manusia di luar sedang mengalami kekerasan, muncul pertanyaan etis: apa gunanya spiritualitas jika ia tidak mampu hadir di tengah penderitaan?

Di sinilah mindfulness menjadi lebih dari sekadar teknik meditasi. Mindfulness berarti being fully present, tetapi “hadir” bukan hanya terhadap napas dan pikiran kita. Kita juga belajar hadir terhadap penderitaan orang lain, struktur sosial, kekerasan, dan kondisi dunia yang membentuk kehidupan kita.

Dalam konsep interbeing Thích Nhất Hạnh, manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari masyarakat, lingkungan, sejarah, dan manusia lain. Karena itu, penderitaan personal sering memiliki akar sosial.

Mindfulness kemudian bergerak menjadi etika: menyadari penderitaan → memahami akarnya → bertindak untuk menguranginya.

Ia tidak memisahkan transformasi batin dan sosial. Transformasi batin tanpa keterlibatan sosial dapat menjadi pelarian; transformasi sosial tanpa transformasi batin dapat mereproduksi kekerasan.

Maka mindfulness bukan escape from the world. Justru sebaliknya: melihat dunia dengan lebih jernih agar kita dapat bertindak lebih etis di dalamnya.

Pertanyaannya bukan hanya, “Bagaimana saya menjadi lebih tenang?” tetapi, “Setelah melihat penderitaan dengan lebih jernih, apa tanggung jawab saya?”

Thích Nhất Hạnh menerjemahkan gagasan ini melalui Five Mindfulness Trainings, kerangka etika untuk kehidupan sehari-hari: melindungi kehidupan, membangun relasi yang bertanggung jawab, berkomunikasi dengan penuh kasih, serta mengonsumsi secara sadar.

Gagasan ini juga dibawa ke ruang internasional melalui keterlibatannya dengan UNESCO, sebagai upaya membangun etika yang dapat merespons kekerasan dan krisis sosial.

Lebih jauh, Thích Nhất Hạnh mengembangkan 14 Mindfulness Trainings sebagai prinsip etis bagi Order of Interbeing (Tiếp Hiện). Isinya jauh melampaui praktik meditasi: menyangkut anti-dogmatisme, keterbukaan terhadap perbedaan, non-kekerasan, keadilan sosial, konsumsi sadar, komunikasi penuh kasih, serta keberanian menghadapi penderitaan dan ketidakadilan.

Dikembangkan pada 1966, di tengah Perang Vietnam, prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa mindfulness bagi Thích Nhất Hạnh bukan sekadar cara menenangkan diri, tetapi cara membangun kehidupan sosial yang lebih damai, inklusif, dan bertanggung jawab.

“Saya pernah menulis sebuah artikel di sebuah majalah Saigon yang membandingkan Buddhisme dan Marxisme. Saya mengatakan bahwa keduanya berangkat dari titik awal yang sama, yaitu menyadari Kebenaran Mulia Pertama, yakni adanya penderitaan (dukkha). Namun, tidak lama kemudian keduanya mengambil jalan yang berbeda.

Kaum Buddhis mengalami penderitaan dan ingin menjadikan belas kasih sebagai sumber energi untuk bertindak, sedangkan kaum Marxis menggunakan kemarahan sebagai energi untuk bertindak.” – Thich Nhat Hanh

Space Beyond Space — Sebuah Ruang bagi Keheningan

Space Beyond Space — Sebuah Ruang bagi Keheningan
Seremoni Peletakan Batu Pertama, 2023 di Thailand

Pada tahun 2023, Plum Village Thailand menyelenggarakan Upacara Penahbisan Biksu dan Biksuni (Upasampadā), sebuah momen istimewa yang mempertemukan Empat Lapis Sangha—para biksu, biksuni, praktisi pria (upasaka), dan praktisi wanita (upasika)—dalam kebersamaan yang penuh sukacita di Thailand.

Pada kesempatan yang penuh berkah itu, Plum Village Thailand juga mengadakan upacara peletakan batu pertama sebagai penanda dimulainya pembangunan aula meditasi—sebuah ruang praktik yang diharapkan kelak menjadi tempat berlindung bagi banyak orang untuk kembali pulang pada kedamaian di dalam diri.

Acara tersebut dihadiri oleh banyak monastik dari Universitas Mahachulalongkornrajavidyalaya, serta para monastik sesepuh dari Vietnam, menambah kehangatan dan makna dari pertemuan lintas tradisi dan persaudaraan spiritual itu.

Salah satu kenangan yang masih sangat membekas adalah kehadiran Sister Chân Không. Beliau hadir secara langsung dalam upacara tersebut dan memberikan sambutan singkat yang sederhana, namun penuh kedalaman dan inspirasi.

Pada foto terlampir, dari kiri ke kanan: Brother Pháp Anh (Abbot Thai Plum Village), Brother Pháp Niệm, Sister Phát Nghiêm (pendamping Sister Chân Không), Sister Chân Không, Sister Linh Nghiêm, dan Brother Trí Độ yang sedang memayungi beliau.

Saat ini, Plum Village Thailand tengah melanjutkan pembangunan aula meditasi. Sedikit demi sedikit, visi itu sedang diwujudkan—membangun bukan sekadar sebuah bangunan, tetapi juga sebuah ruang hening bagi praktik, penyembuhan, dan transformasi batin bagi banyak generasi yang akan datang.

Bagi Sahabat Dharma yang ingin mengetahui lebih lanjut atau ikut mendukung proyek ini, silakan mengunjungi tautan berikut:
https://ordointerbeing.id/portfolio/pembangunan-aula-meditasi/

Semoga hari Anda damai, ringan, dan dipenuhi kebahagiaan.
Komunitas Zen Plum Village Indonesia

Bersukacita Mendedikasikan Kebajikan

Bersukacita Mendedikasikan Kebajikan

Diterjemahkan dari Tùy Hỷ Hồi Hướng dan Joyfully Sharing the Merit

Begawan Buddha
yang bersemayam di dunia ini,
pancarkanlah belas kasih kepadaku:
Sebab, dalam kehidupan ini dan lampau,
sejak waktu tanpa awal,
aku sering keliru,
mengakibatkan penderitaan
bagi diriku sendiri
dan pihak lain.
Diriku sendiri melakukan kejahatan,
juga menghasut orang lain
melakukan kejahatan,
menyetujui bahkan turut serta dalam
membunuh, mencuri,
berdusta, berbuat asusila,
dan perbuatan jahat lainnya
dalam Sepuluh Tindakan Tidak Bajik.
Baik yang tertutupi
maupun yang terlihat,
semua kejahatan itu
melempar aku ke neraka,
makhluk halus kelaparan,
alam binatang;
kehidupan mendatang
terlahir di tempat terpencil,
enam indra tidak lengkap,
dan tidak memiliki kesempatan
untuk menjadi manusia seutuhnya.
Segala rintangan karma buruk tersebut,
hari ini aku berikrar, dengan sepenuh hati,
tulus memohon pertobatan. (G)

Mohon Begawan Buddha
menjadi saksi bagiku,
mengasihi dan mengingatkan diriku.

Aku menyentuh bumi di hadapan-Mu
dan mengucapkan tekad ini:

Dalam kehidupan lampau tak terhitung,
begitu juga dalam kehidupan ini,

Apabila aku pernah berdana,
meski hanya segenggam nasi
atau sehelai pakaian saja;

Apabila aku pernah mengucapkan kata-kata penuh kasih,
meski hanya beberapa kalimat saja;

Apabila aku pernah menatap dengan mata welas asih,
meski hanya sekejap saja;

Apabila aku pernah mendamaikan dan menyejukkan hati,
meski hanya beberapa kali saja;

Apabila aku pernah mendengarkan Dharma yang luhur,
meski hanya satu kali pertemuan saja;

Apabila aku pernah mempersembahkan dana makanan
kepada Sangha monastik, meski hanya sekali saja;

Apabila aku pernah menyelamatkan nyawa makhluk lain,
meski hanya beberapa ulat atau semut kecil saja;

Apabila aku pernah melafalkan atau membacakan sutra,
meski hanya beberapa bait saja;

Apabila aku pernah meninggalkan kehidupan duniawi untuk berlatih,
meski hanya dalam satu kehidupan saja;

Apabila aku pernah menyokong orang lain
di jalan latihan dan pembelajaran,
meski hanya menolong beberapa orang saja;

Apabila aku pernah menjaga sila suci,
meskipun belum sepenuhnya murni—

semua kebajikan
adalah benih-benih kebaikan yang telah kusemai.

Hari ini, kuhimpun semuanya,
kupersembahkan kepada para Buddha,
bagai untaian bunga harum semerbak.

Semoga semua jasa kebajikan,
kuarahkan menuju
pencapaian Pencerahan sempurna. (G)

Aku berikrar membuka hati seluas-luasnya,
mengarah kepada Pencerahan Tertinggi.
Bertekad mencapai pengertian agung,
bertekad mewujudkan kasih mendalam,
bertekad berlatih dengan tekun,
mentransformasikan penderitaan
dalam diriku dan semua makhluk.
Semua tindakan tubuh, ucapan, dan pikiran,
semoga selalu diarahkan
untuk membawakan kebahagiaan
bagi semua orang dan semua makhluk.
Itulah cita-cita terdalamku.
Hanya Bodhicitta,
hanya kerinduan akan pemahaman agung,
hanya tekad untuk menyanyangi secara mendalam,
aku tak memiliki cita-cita lain lagi. (G)

Para Buddha di sepuluh penjuru dan tiga masa
mereka telah mendedikasikan kebajikan dengan cara demikian;
hari ini aku pun mengikuti jejak mereka.
Semua kesalahan, aku memohon pertobatan.
Semua kebajikan, aku melimpahkannya dengan sukacita.
Samudra kebajikan tak terhingga,
laksana gunung kebijaksanaan yang menjulang tinggi.
Para Buddha dan guru leluhur
adalah cahaya penerang jalanku.
Pada momen khidmat ini,
aku menyertakan jiwa dan raga,
untuk  memberi hormat dan
menyentuh bumi. (GGG)

Kokoh bagaikan Gunung — Syair Paralel untuk Tahun Kuda

Kokoh bagaikan Gunung — Syair Paralel untuk Tahun Kuda

Dengan penuh sukacita Plum Village mempersembahkan syair paralel ini untuk menyambut Tết, Tahun Baru Imlek Tahun Kuda.

Tentang apakah Tradisi ini sesungguhnya?

Setiap malam Tahun Baru Imlek, guru kami yang tercinta, Thich Nhat Hanh, menciptakan sebuah tradisi menulis sebuah syair puisi sederhana dalam bentuk kaligrafi kepada sangha yang dapat menginspirasi dan memelihara praktik berkesadaran penuh kita sepanjang tahun. Inovasi Thay ini dibentuk untaian dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Vietnam (bukan dalam aksara Tionghoa). Komunitas Plum Village sangat senang melanjutkan tradisi indah ini.
Di pusat-pusat latihan Plum Village di seluruh dunia, kami mencetak kaligrafi ini (dengan tetap mempertahankan bentuk diamond atau belah ketupat), menempelkannya pada kartu berwarna-warni, dan memasangnya di sekitar ruang makan, aula meditasi, dan ruang tempat tinggal sebagai persiapan untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Kami juga menggantungnya di dahan pohon Japonica dan Plum yang berbunga lebih awal yang kami bawa masuk untuk mempercantik ruangan kami, sebagai simbol datangnya musim semi.
Saat melafalkan syair ini, kita dapat mengkombinasikan setiap baris dengan napas kita. Misalnya, kita dapat merenungkan “Kokoh bagaikan gunung” saat kita menarik napas, dan merenungkan “Bebas bagaikan awan putih” saat kita mengembuskan napas. Kata-kata ini bukanlah sebuah pernyataan, melainkan aspirasi hidup yang ingin kita tumbuhkan.
Kita dapat menempatkan dua bentuk yang saling melengkapi ini sebagai pasangan, berdekatan satu sama lain (di atas, bawah, atau di samping). Anda dapat mencetak dan menempelkan syair-syair tersebut di kulkas, pintu, atau di dekat sakelar lampu sebagai pengingat yang baik agar selalu mengingat pesannya, dan memperbarui diri kita dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Anda dapat berkreasi dengan tempat di mana ingin menempelkannya dan cara mempraktikkan syair-syair ini.

Bagaimana Cara Berlatih dengan Syair Tahun Ini?

Solid Bagaikan Gunung

Napas masuk, saya melihat diri saya bagai sebuah gunung.
Napas keluar, saya merasa kokoh.

Latihan ini membantu kita untuk berdiri kokoh ketika kita diliputi perasaan kuat yang menggangu. Setiap kali kita merasa putus asa, cemas, takut, atau marah, kita hanyut terbawa ke pusat pusaran angin. Kita seperti pohon yang berdiri di tengah badai. Jika kita melihat ke atas, kita akan melihat cabang-cabang kita merunduk seolah-olah akan patah dan terbawa badai. Akan tetapi jika kita melihat ke bawah pada batang dan akarnya, kita akan tahu bahwa akar pohon itu tertancap kuat di bumi, dan kita akan merasa lebih stabil dan rileks.

Tubuh dan pikiran seperti itu. Ketika ada badai emosi dalam diri kita, jika kita tahu bagaimana menarik diri dari badai—artinya, jika kita tahu bagaimana menarik diri dari kekacauan di otak kita—kita tidak akan tersapu. Kita harus mengalihkan perhatian kita ke satu tempat di perut kita yang disebut titik akupunktur dantien (sekitar empat jari di bawah pusar) dan bernapas dengan perlahan dan mendalam selaras dengan syair “gunung, kokoh.”

Dengan melakukan ini, kita akan melihat bahwa diri kita bukan terdiri dari emosi kita semata. Emosi datang dan pergi, tetapi diri kita akan tetap ada. Ketika kita tertekan oleh emosi kita, kita merasa sangat tidak aman dan rapuh; kita merasa seolah kita berada dalam bahaya kehilangan nyawa. Beberapa orang tidak tahu bagaimana menghadapi emosi mereka yang kuat. Ketika mereka sangat menderita karena keputusasaan, ketakutan, atau kemarahan, mereka berpikir bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan mereka adalah dengan mengakhiri hidup mereka. Tetapi mereka yang tahu bagaimana duduk bermeditasi dan berlatih bernapas dengan latihan “gunung, kokoh” dapat melewati masa-masa sulit dan penderitaan seperti itu.

Latihan ini juga dapat dipraktikkan saat kita berbaring. Kita dapat mengarahkan perhatian kita pada naik turunnya perut bagian bawah dan terus mengamatinya. Ini akan memungkinkan kita untuk meninggalkan badai dan tidak jatuh kembali ke dalamnya. Kita berlatih bernapas dengan perut ini sampai hati dan pikiran kita tenang dan badai berlalu.

Namun, kita tidak boleh menunggu sampai kita berada dalam kesulitan untuk berlatih. Jika kita belum membiasakan diri untuk berlatih, kita tidak akan tahu apa yang harus dilakukan, dan emosi kita mungkin akan kembali menguasai dan membuat kita tertekan. Untuk membentuk kebiasaan yang baik, kita dapat berlatih setiap hari; dengan cara itu, setiap kali perasaan menyakitkan muncul, kita akan tahu secara alami bagaimana mentransformasikannya.

Selain itu, kita dapat menjelaskan praktik ini kepada kaum muda untuk membantu mereka agar tidak menjadi korban emosi mereka yang kuat.

~ Thich Nhat Hanh (The Blooming of a Lotus: Essential Guided Meditations for Mindfulness, Healing, and Transformation)

Bebas bagaikan Awan Putih

Anda merasa tidak memiliki kebebasan, tetapi kebebasan dari apa? Kebebasan untuk melakukan hal yang Anda inginkan? Kebebasan paling utama adalah kebebasan dari amarah, kesedihan, kebingungan, dan dari keterikatan Anda. Karena semua hal ini membawa keburukan, semua hal ini membawa penderitaan.

Kebebasan adalah latihan kita, karena setiap menit latihan kita dapat membantu membawa kebebasan kepada kita—kebebasan dari kelalaian (forgetfulness). Kita lupa bahwa hidup adalah keajaiban. Hidup dan berada di planet ini—penuh kehidupan, penuh keajaiban—adalah kebahagiaan. Mengetahui bahwa Kerajaan Allah, Tanah Suci Buddha tersedia di sini dan saat ini. Terkadang akal pikiran kita menyadari bahwa keajaiban hidup, kerajaan itu, ada di sini dan saat ini, namun kita tidak dapat terhubung dengannya karena amarah, depresi, ketidakpastian, dan keputusasaan kita. Itulah kebebasan paling utama, kebebasan dari penderitaan kita. Kita berlatih berkesadaran penuh yang benar (right mindfulness, 正念) untuk kembali ke sini dan saat ini, sehingga kita dapat menyentuh Kerajaan Allah, Tanah Suci Buddha, keajaiban hidup.

~ Thich Nhat Hanh (Dikutip dari Dharma talk Thay pada tanggal 13 Mei 2004)

Komunitas yang terkasih, sungguh merupakan sumber sukacita yang luar biasa mengetahui bahwa kita saling memiliki satu sama lain dan memiliki satu jalan praktik yang indah. Semoga kita semua memiliki keberanian untuk menyembuhkan dan berdamai dengan masa lalu kita, sehingga kita dapat meraih lebih banyak kebebasan di masa kini dan terus melangkah indah ke masa depan. Semoga kita semua terus berlatih bersama, menciptakan kedamaian, stabilitas, dan kebebasan dalam setiap langkah dan setiap tarikan napas! (Penerjemah: Rumini – True Spring Season)

Dari Plum Village, kami mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek yang penuh kedamaian dan kebahagiaan!


Unduh Syair Paralel yang Ditulis oleh Br. Phap Huu
Unduh syair paralel ini dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, atau Vietnam untuk dicetak di kertas A4. (Berbagai ukuran)

Beristirahat pada Momen Kini

Beristirahat pada Momen Kini

Latihan Tradisi Plum Village: Menumbuhkan Energi Sadar Penuh dalam Kehidupan Sehari-hari pada hari Sabtu, 17 Januari, Wihara Ekayana Arama Jakarta menyelenggarakan kegiatan latihan Tradisi Plum Village (PV) , Day of Mindfulness, yang diikuti oleh sekitar 80 peserta terdaftar. Meskipun pagi hari itu cuaca mendung disertai hujan sedang, kehadiran peserta tetap mencapai sekitar 80%, mencerminkan semangat dan komitmen para sahabat dalam berlatih bersama.

Peserta yang hadir berasal dari rentang usia yang cukup beragam, mulai dari sekitar 20 hingga 70 tahun, dan terbagi ke dalam tiga kelompok usia, yaitu di bawah 29 tahun, 30–41 tahun, dan di atas 41 tahun, dengan jumlah relatif seimbang di setiap kelompok. Dari hasil survei yang dilakukan pada hari kegiatan, tercatat sekitar 15 peserta baru yang pertama kali mengikuti latihan Tradisi Plum Village, sementara sekitar 12 peserta pernah mengikuti retret sebelumnya. Mayoritas peserta memiliki pengalaman berlatih meditasi di tempat lain, sehingga membawa latar belakang dan sudut pandang latihan yang beragam.

Salah satu momen yang cukup mengharukan dan mengejutkan adalah kehadiran seorang sahabat lama yang pernah berlatih bersama pada tahun 2007 di Wisma Patra, kemudian lama tidak aktif dalam dunia pelatihan. Pertemuan kembali dalam suasana latihan di hari itu menjadi pengingat kuat tentang benih kebajikan yang mungkin lama tertidur, namun dapat tumbuh kembali ketika kondisi pendukung hadir.

Dalam sesi berbagi, para peserta mengungkapkan berbagai insight berharga dari latihan yang dilakukan. Ada peserta yang baru pertama kali mempraktikkan meditasi makan, sementara yang lain berbagi pengalaman menerapkan meditasi dalam kehidupan sehari-hari, seperti meditasi berjalan dari meja kerja ke toilet, meditasi naik turun tangga di rumah, hingga penggunaan mindfulness bell di laptop sebagai pengingat untuk kembali sadar penuh di tengah kesibukan kerja. Praktik-praktik sederhana ini dirasakan sangat membantu dalam mengurangi tekanan dan stres di lingkungan kerja.

Di sisi lain, terdapat pula peserta yang masih memegang erat pandangan tertentu tentang metode meditasi yang dianggap “harus begini dan begitu”. Namun semua pengalaman tersebut diterima sebagai bagian alami dari proses latihan. Setiap individu hadir dengan karakter, pandangan, latar belakang pendidikan, serta kondisi keluarga yang berbeda-beda. Ketika berlatih bersama dalam satu komunitas, energi kolektif yang terbentuk menjadi kekuatan yang saling menopang, membantu para peserta menghadapi berbagai persoalan hidup sehari-hari. Dengan latihan yang berkelanjutan—baik secara pribadi maupun dalam komunitas—proses transformasi dan penyembuhan batin menjadi sangat mungkin untuk terjadi.

Ceramah yang disampaikan oleh Bhante Nyanabhadra dalam kegiatan ini menekankan pentingnya menumbuhkan energi sadar penuh melalui latihan menyadari napas masuk dan keluar. Berbagai alat bantu digunakan, seperti bel jam dinding dan gong, yang berfungsi mengundang kita untuk kembali ke rumah sejati di saat ini, dengan mengizinkan pikiran kita sekadar beristirahat (息) pada momen kini. Disampaikan pula bahwa energi kita sering terkuras ketika pikiran terseret ke masa lalu atau melompat ke masa depan yang belum pasti, yang pada akhirnya menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran.

Ketika pikiran (念) mampu berdiam di saat ini, bukan saja energi tidak terkuras, namun energi kesadaran justru dapat terus ditumbuhkembangkan, hingga menjadi suatu latihan kebiasaan berkesadaran (修习) yang mengalir dalam setiap aspek kehidupan. Melalui latihan sederhana namun mendalam ini, para peserta diajak untuk merawat kedamaian batin dan menghadirkan kualitas hadir penuh dalam setiap langkah hidup. (Rohana, True Beauty of Clarity, 真明秀)

Breathe Smile and Teach

Breathe Smile and Teach
Mindful walking, one step one breath

Sabtu, 21 Juni 2025, keluarga besar Sekolah Dharma Loka—sekitar 200 guru dan tenaga kependidikan dari semua unit—berkumpul di Hotel Grand Elite Pekanbaru untuk mengikuti Day of Mindfulness. Tema kami sederhana namun dalam: Breathe, Smile, and Teach.

Sejak pukul 08.30 pagi, suasana hangat dan penuh keakraban terasa di seluruh ruangan. Ketua Yayasan membuka acara dengan pesan yang mengingatkan bahwa kesejahteraan batin pendidik adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan inspiratif. Setelah itu, B Nyanabhadra (Br. Pháp Tử) mengajak kami memasuki keheningan, mengundang setiap orang untuk hadir sepenuhnya di sini dan saat ini.

Kebersamaan yang Memeluk Semua Unit

Yang istimewa dari kegiatan ini adalah, tidak ada sekat antara unit TK, SD, SMP, SMA, SMK maupun staf non-guru. Kami duduk bersama, berbagi senyum, menyapa teman lama, dan mengenal lebih dekat mereka yang biasanya hanya kita temui sepintas di koridor sekolah. Rasanya seperti sebuah keluarga besar yang akhirnya punya waktu untuk benar-benar saling mendengarkan.

Saat Circle Sharing, setiap kelompok membaca artikel yang telah disiapkan, lalu berbagi cerita dan refleksi pribadi. Di momen itu, jabatan dan tugas sehari-hari seolah menghilang—yang ada hanyalah manusia-manusia yang saling mendengar, saling memberi ruang untuk bicara, dan saling menguatkan.

Napas yang Menenangkan, Hati yang Damai

Di setiap sesi latihan, kami diajak untuk menyadari napas: tarik perlahan, rasakan udara masuk, lalu hembuskan dengan lembut. Awalnya sederhana, namun lama-lama terasa efeknya—pikiran yang biasanya berlari ke sana-sini mulai melambat, hati yang tegang mulai melunak.

Dengan napas yang dalam dan tenang, rasa damai perlahan muncul, bukan karena semua masalah hilang, tapi karena kita belajar untuk hadir di tengahnya tanpa terburu-buru. Kami menyadari bahwa napas adalah jangkar yang selalu ada, kapan pun kita membutuhkannya.

Makna yang Dibawa Pulang

Inti dari Day of Mindfulness ini terangkum dalam kalimat:
Kita tidak perlu mencari kebahagiaan terlalu jauh. Kadang, cukup berhenti sejenak, tersenyum, dan hadir penuh pada orang yang ada di depan kita—murid, rekan kerja, atau diri sendiri.

Kami belajar bahwa:

  • Breathe: Tarik napas, tenangkan hati, mulai lagi dengan kesadaran penuh.
  • Smile: Tebar senyum tulus, karena energi positif menular.
  • Teach: Mengajar dengan hati, menumbuhkan kebaikan, bukan hanya pengetahuan.

Menutup hari, kami pulang dengan hati yang lebih ringan, pikiran yang lebih jernih, dan semangat untuk membawa Breathe, Smile, and Teach ke ruang kelas, ruang kantor, dan setiap interaksi di sekolah. Karena pendidikan sejati bukan hanya soal apa yang kita ajarkan, tetapi bagaimana kita hadir untuk mereka yang kita bimbing.