Memeluk Anak Kecil di Dalam Diri Kita

Memeluk Anak Kecil di Dalam Diri Kita
Memeluk anak kecil, ilustrasi digital dari AI.

Pernahkah kita mengalami sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi tiba-tiba membuat kita merasa sangat terluka? Sebuah ucapan, perlakuan seseorang, atau bahkan perpisahan kecil dapat menyulut kesedihan, kemarahan, atau rasa takut yang jauh lebih besar daripada situasi yang sedang terjadi. Kadang-kadang setelahnya kita bertanya, “Mengapa aku bereaksi seperti ini?” Mungkin karena yang sedang bereaksi bukan hanya diri kita yang saat ini. Ada bagian kecil dalam diri kita—seorang anak yang pernah merasa takut, kesepian, tidak dimengerti, atau defisit cinta kasih—yang kembali membutuhkan perhatian.

Ketika luka lama tersentuh

Ketika kita tumbuh dewasa, kita sering mengira bahwa pengalaman masa kecil telah berlalu. Namun, luka tidak selalu hilang hanya karena waktu berlalu. Pengalaman masa lalu dapat tetap berlanjut dalam diri kita dan muncul kembali ketika sesuatu yang terjadi saat ini menyulutnya. Karena itu, ketika emosi kita meluap, kita dapat berhenti sejenak dan bertanya dengan lembut, “Siapa yang sedang menderita di dalam diriku?” Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi untuk membuka ruang agar kita dapat melihat dan memahami bagian diri yang sedang terluka.

Hadir, bukan melawan

Dalam praktik mindfulness, kita tidak perlu buru-buru mengusir kesedihan, kemarahan, atau ketakutan. Kita belajar hadir bersamanya, duduk disebelahnya. Seperti seorang ibu yang mendengar anaknya menangis, kita tidak perlu berteriak, “Berhenti menangis!” Kita dapat mendekat, mendengarkan, dan berkata, “Aku tahu kamu sedang sedih. Aku hadir di sini.” Dengan dibarengi napas berkesadaran penuh, kita belajar mengakui, “Ada kesedihan di dalam diriku,” tanpa harus menjadi kesedihan itu sendiri. Kehadiran yang penuh kesadaran menciptakan ruang bagi kita untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Menjadi orang tua bagi diri sendiri

Salah satu bentuk kasih sayang yang paling penting adalah belajar untuk tidak meninggalkan diri sendiri saat sedang menderita. Kita mungkin berharap orang lain datang untuk memahami dan menyembuhkan luka kita, tetapi perlahan kita dapat belajar menjadi orang tua yang penuh kasih sayang bagi anak kecil di dalam diri kita. Kita dapat membatin, “Aku melihatmu. Aku mendengarmu. Aku tahu kamu terluka. Aku ada di sini.” Ini bukan berarti membenarkan semua perilaku kita, melainkan memberikan perhatian dan pemahaman yang memungkinkan luka tersebut perlahan-lahan bertransformasi.

Memutus rantai penderitaan

Ketika kita mulai memahami luka kita sendiri, kita mungkin juga mulai melihat penderitaan orang tua dan orang-orang yang pernah melukai kita dengan cara yang berbeda. Mereka pun pernah menjadi anak-anak dan mungkin membawa lukanya sendiri. Memahami hal ini bukan berarti membenarkan apa yang salah, tetapi membantu kita melihat bahwa penderitaan sering kali memiliki sejarah dan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika kita merawat dan mentransformasikan luka dalam diri, kita berkesempatan untuk tidak meneruskan kemarahan, ketakutan, atau pola perilaku yang sama kepada orang lain.

Penyembuhan adalah sebuah perjalanan

Menyembuhkan diri bukan berarti menghapus masa lalu atau berpura-pura bahwa sesuatu tidak pernah terjadi. Kita mungkin tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita dapat mengubah relasi kita dengan pengalaman tersebut. Masa lalu boleh menjadi bagian dari cerita hidup kita, tetapi tidak harus terus menerus menjadi diktator dalam kehidupan kita. Melalui praktik mindfulness, kita perlahan bergerak dari pertanyaan, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” menuju pertanyaan yang lebih penuh kasih: “Bagaimana aku dapat merawat bagian diriku yang masih terluka?”

Mungkin anak kecil di dalam diri kita tidak membutuhkan sesuatu yang besar. Ia mungkin hanya membutuhkan kita untuk berhenti sejenak, jeda, lalu bernapas dan hadir. Penyembuhan bukan tentang membuat rasa sakit menghilang, melainkan tentang berani memeluk rasa sakit itu dengan penuh kasih. Seperti seorang ibu memeluk anaknya, kita belajar mengatakan, “Anakku, aku melihatmu. Aku mendengarmu. Kali ini, aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan berjalan bersama.”

Dirangkum dan ditulis ulang dari Thich Nhat Hanh on How to Heal Your Inner Child dengan bantuan Chatgpt, kemudian diedit oleh Br. Pháp Tử.

Mindfulness tidak Insensitif

Mindfulness tidak Insensitif

Agar Mindfulness Tidak Insensitif dari Realita Sosial
Apa arti spiritualitas ketika masyarakat sedang menderita?
–Rahka Susanto, Anggota Order of Interbeing, Aktivis, dan Jurnalis

Banyak orang mengenal mindfulness sebagai teknik untuk menenangkan pikiran: duduk diam, mengatur napas, dan hadir pada saat ini. Tetapi ada dimensi lain yang jauh lebih politis dari mindfulness. Salah satu tokohnya adalah Thích Nhất Hạnh, yang juga dikenal sebagai Father of Mindfulness.

Dalam konteks Perang Vietnam, ia mengembangkan gagasan Engaged Buddhism ketika desa-desa dihancurkan dan masyarakat kehilangan rumah, keluarga, serta kehidupan mereka. Pertanyaannya kemudian bukan hanya: bagaimana manusia menemukan ketenangan? Tetapi juga: apa arti spiritualitas ketika masyarakat sedang menderita?

Ia mengkritik bentuk tradisi spiritual yang terpisah dari realitas sosial. Jika rumah ibadah menutup pintunya sementara manusia di luar sedang mengalami kekerasan, muncul pertanyaan etis: apa gunanya spiritualitas jika ia tidak mampu hadir di tengah penderitaan?

Di sinilah mindfulness menjadi lebih dari sekadar teknik meditasi. Mindfulness berarti being fully present, tetapi “hadir” bukan hanya terhadap napas dan pikiran kita. Kita juga belajar hadir terhadap penderitaan orang lain, struktur sosial, kekerasan, dan kondisi dunia yang membentuk kehidupan kita.

Dalam konsep interbeing Thích Nhất Hạnh, manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari masyarakat, lingkungan, sejarah, dan manusia lain. Karena itu, penderitaan personal sering memiliki akar sosial.

Mindfulness kemudian bergerak menjadi etika: menyadari penderitaan → memahami akarnya → bertindak untuk menguranginya.

Ia tidak memisahkan transformasi batin dan sosial. Transformasi batin tanpa keterlibatan sosial dapat menjadi pelarian; transformasi sosial tanpa transformasi batin dapat mereproduksi kekerasan.

Maka mindfulness bukan escape from the world. Justru sebaliknya: melihat dunia dengan lebih jernih agar kita dapat bertindak lebih etis di dalamnya.

Pertanyaannya bukan hanya, “Bagaimana saya menjadi lebih tenang?” tetapi, “Setelah melihat penderitaan dengan lebih jernih, apa tanggung jawab saya?”

Thích Nhất Hạnh menerjemahkan gagasan ini melalui Five Mindfulness Trainings, kerangka etika untuk kehidupan sehari-hari: melindungi kehidupan, membangun relasi yang bertanggung jawab, berkomunikasi dengan penuh kasih, serta mengonsumsi secara sadar.

Gagasan ini juga dibawa ke ruang internasional melalui keterlibatannya dengan UNESCO, sebagai upaya membangun etika yang dapat merespons kekerasan dan krisis sosial.

Lebih jauh, Thích Nhất Hạnh mengembangkan 14 Mindfulness Trainings sebagai prinsip etis bagi Order of Interbeing (Tiếp Hiện). Isinya jauh melampaui praktik meditasi: menyangkut anti-dogmatisme, keterbukaan terhadap perbedaan, non-kekerasan, keadilan sosial, konsumsi sadar, komunikasi penuh kasih, serta keberanian menghadapi penderitaan dan ketidakadilan.

Dikembangkan pada 1966, di tengah Perang Vietnam, prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa mindfulness bagi Thích Nhất Hạnh bukan sekadar cara menenangkan diri, tetapi cara membangun kehidupan sosial yang lebih damai, inklusif, dan bertanggung jawab.

“Saya pernah menulis sebuah artikel di sebuah majalah Saigon yang membandingkan Buddhisme dan Marxisme. Saya mengatakan bahwa keduanya berangkat dari titik awal yang sama, yaitu menyadari Kebenaran Mulia Pertama, yakni adanya penderitaan (dukkha). Namun, tidak lama kemudian keduanya mengambil jalan yang berbeda.

Kaum Buddhis mengalami penderitaan dan ingin menjadikan belas kasih sebagai sumber energi untuk bertindak, sedangkan kaum Marxis menggunakan kemarahan sebagai energi untuk bertindak.” – Thich Nhat Hanh

Nothing Shall Be Impossible

Nothing Shall Be Impossible
Meditasi Jalan, Retret Edukator Sekolah Ananda, Bagan Batu

September 2018, tahun lalu, saya mengenal istilah BIBO. Sekarang sudah pertengahan 2019. Waktu berlalu begitu cepat. Saya makin akrab dengan BIBO yaitu Breathing In Breathing Out. Istilah unik ini datang dari Sekolah tempat saya mengajar, sekolah Ananda di Bagan Batu.

Ada seorang guru, namanya Rumini, akrab kita sapa Laoshi Ani. Dialah yang mengajarkan BIBO kepada saya lewat metode mindfulness, teknik untuk selalu sadar akan momen kekinian, apakah itu dalam situasi yang baik maupun kurang baik.

Hadir Seutuhnya

Mindfulness adalah keadaan yang ditandai oleh munculnya introspeksi diri, keterbukaan pikiran, refleksi dan penerimaan diri apa adanya dengan sikap positif (M . Jojo Raharjo, 2008). Introspeksi diri membuat saya makin tertarik dengan kegiatan Mindfulness.

Teknik mindfulness mangajarkan saya untuk selalu hadir di sini dan saat ini melalui bernapas masuk dan bernapas keluar (breathing in breathing out). Teknik ini juga mencakup makan dengan berkesadaran agar bisa mempertahankan kesehatan. Kegiatan lain seperti deep relaxation melalui teknik body scanning (pemindaian tubuh). Mencintai alam dengan walking meditation. Meningkatkan rasa syukur lewat “BIBO”.

Saya bahkan mengikuti akun sosial media yang berkaitan dengan praktik mindfulness seperti @plumvillageindonesia dan Thich Nhat Hanh collective quotes. Melalui akun tersebut saya mengenal seorang biksu Zen, Thich Nhat Hanh yang menjadi panutan bagi Buddhis dan non Buddhis di seluruh dunia. Pelopor mindfulness sejati menurut saya.

Berdoa

Mindfulness telah memberi pengaruh positif bagi saya. Simpel, lewat penerapan BIBO. Ada satu kisah waktu kecil hingga sekolah menengah atas. Saya diajarkan untuk rajin berdoa di gereja. Sejak SMP saya sudah ikut melayani Tuhan dengan menjadi guru sekolah minggu di Gereja Kesukuan di kampung saya.

Doa adalah hidup saya. Berdoa sebelum makan, berdoa sebelum tidur, berdoa sesudah bangun tidur, berdoa dalam suka dan duka. Berdoa sudah begitu melekat dalam diri saya.

Ada suatu ketika saya berhenti melakoninya. Alasannya, saya tidak lolos seleksi ke universitas yang saya dambakan. Saya berhenti berdoa sejak itu. Saya tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Mungkin sebagai bentuk tuntutan atau protes ketidakadilan Tuhan pada saat itu.

Saya belum buntu, walau tidak masuk ke universitas negeri yang saya dambakan, saya pun beralih ke universitas swasta. Jurusan yang saya pilih adalah pendidikan bahasa Inggris. Saya lulus sebagai sarjana pendidikan.

Tahun 2018 saya diterima di SD swasta Yayasan Pendidikan Ananda. Di tempat inilah titik balik hubungan saya dengan Tuhan. Saya menerapkan mindfulness lewat praktik BIBO, dan entah mengapa secara alamiah saya merasa mengalami hubungan saya dengan Tuhan membaik.

Melalui mindfulness saya diajarkan untuk hidup bersyukur atas berkat dan keadaan yang saya dapat pada saat ini. Teknik ini Mengajarkan untuk hidup dengan penuh cinta kasih dengan sesama manusia, alam dan juga Tuhan. Saya ”disadarkan” untuk mengubah pola hidup dengan lebih meningkatkan sifat-sifat baik yang ada dalam diri saya.

Sadar Pancaindra

Tanggal 15- 17 Juli 2019 kami kembali mengikuti retret mindfulness yang dihadiri juga oleh seorang biksu. Bagi saya beliau lebih ahli dalam praktik mindfulness tentunya. Saya mendapatkan banyak sekali bahkan terlalu banyak hal-hal baik dalam acara itu. Beliau bernama Bhante Nyanabhadra. Beliau mengajari saya untuk selalu “sadar” pancaindra agar emosi negatif tidak bisa berbuat semena-mena.

Tata cara sifat manusia beliau gambarkan seperti “ruang tamu” dan “gudang”. Di dalam ruang tamu biasanya tempat menjamu para tamu yang datang, emosi apa pun selalu berkumpul di ruang tamu. Di dalam “gudang” merupakan tempat penyimpanan sifat positif dan negatif yang diibaratkan sebagai benih. Jika ada suatu kejadian masuk melalui pancaindra maka menyentuh benih itu lalu muncul di ruang tamu.

Jika lupa menerapkan “BIBO”, maka sifat negatif bisa membuat kekacauan di ruang tamu, membuat kita menjadi manusia yang lebih kental sifat negatifnya. Melalui BIBO juga saya belajar mencintai diri sendiri, sesama dan juga alam, ini membuat saya menjadi lebih kental sifat positifnya. Itulah yang beliau ajarkan kepada kami

Rasa Haru

Saya sangat menyukai sesi sitting meditation di pagi hari. Bhante Nyanabhadra melantunkan syair meditasi pagi, bernyanyi dengan suara lembut dan menyentuh. Seketika hati saya dipenuhi rasa haru. Kesalahan dan dosa-dosa yang saya lakukan terlintas dalam pikiran kemudian menguap begitu saja. Saya makin disadarkan bahwa saya masih belum apa-apa dalam hal berbuat baik terhadap Tuhan, sesama dan lingkungan.

Saya mengutip satu catatan yang sempat saya tulis di dalam note saya. Beliau berkata ”Masa lalu telah pergi, masa depan belum juga tiba, hanya ada satu masa untuk hidup, yaitu masa sekarang.” Lalu saya teringat dengan kutipan dari biksu Thich Nhat Hanh yang berkata ”Because you are alive everything is possible”.

Saya langsung teringat ada ayat di Alkitab yang sangat saya sukai yaitu, Luke 1:37 ”With God nothing shall be imposible”. Saya kemudian menggabungkan kutipan tersebut ke dalam sebuah pemahaman baru “Karena kamu hidup di momen ini, bersama dengan Tuhan, maka segalanya menjadi mungkin”.

Mari BIBO

Pengalaman praktik mindfulness mulai membuat kualitas hidup saya makin membaik. Saat ini saya fokus memperbaiki hubungan saya dengan Tuhan saya. Satu hal yang saya rasakan, mindfulness tidak akan pernah merugikan pelaku mindfulness.

Pedoman saya sebagai pemula di kegiatan ini adalah “When you touch one thing with deep awareness, you touch everything,” ~ Thich Nhan Hanh. Praktik ini memiliki kontribusi positif yang sangat besar bagi saya, semoga demikian juga untuk Anda. Mari ber”BIBO” bersama-sama.

Bita Astuanna Siburian, guru sekolah Ananda, Bagan Batu, Riau.

Sutra Mengetahui Cara Baik Untuk Hidup Sendirian

Sutra Mengetahui Cara Baik Untuk Hidup Sendirian

Aku mendengar sabda ini dari Buddha, suatu ketika beliau tinggal di Wihara Hutan Jeta di kota Sawatthi. Beliau mengundang semua biksu datang dan memberikan petunjuk
“Para biksu”
Dan kemudian para biksu menjawab, “Ya kami sudah hadir di sini”

Buddha menyampaikan, “Saya akan menjelaskan makna dari “mengetahui cara baik untuk hidup sendirian.” Saya akan mulai dengan garis-garis besarnya, dan saya akan memberikan penjelasan mendetail kemudian. Biksu mohon dengarkanlah secara seksama”

“Buddha, kami sudah siap”

Buddha bersabda:
“Jangan mengejar masa lalu
Jangan terhanyut oleh masa depan
Masa lalu sudah pergi
Masa depan belum juga tiba
Menatap secara mendalam atas kehidupan sebagaimana adanya
Di saat ini dan di sini,
Praktisi bersemayam
Dalam stabilitas dan kebebasan.
Hari ini kita harus rajin.
Jangan menunggu sampai besok, karena terlambat sudah
Kematian datang secara mendadak
Bagaimana engkau bisa tawar-menawar degannya?
Para orang suci menyebut mereka yang
Bersemayam dengan penuh kesadaran
Siang dan malam adalah
Mereka yang tahu cara baik untuk hidup sendirian.’

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘Mengejar masa lalu’? Ketika seseorang memikirkan bahwa demikianlah bentuk badan jasmani pada masa lalu, demikianlah perasaan pada masa lalu, demikianlah persepsi pada masa lalu, demikianlah bentuk-bentuk mental pada masa lalu, demikianlah kesadaran pada masa lalu, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya terbebani dan melekat pada hal-hal yang telah terjadi pada masa lalu, maka orang tersebut sedang mengejar masa lalu”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘tidak mengejar masa lalu’? Ketika seseorang memikirkan bahwa demikianlah bentuk badan jasmani pada masa lalu, demikianlah perasaan pada masa lalu, demikianlah persepsi pada masa lalu, demikianlah bentuk-bentuk mental pada masa lalu, demikianlah kesadaran pada masa lalu, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya tidak diperbudak oleh kemelekatan dan juga tidak melekat pada hal-hal yang telah terjadi pada masa lalu, maka orang tersebut tidak mengejar masa lalu”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘terhanyut oleh masa depan’? Ketika seseorang memikirkan seperti apa bentuk badan jasmani di masa depan, memikirkan seperti apa perasaan di masa depan, memikirkan seperti apa persepsi di masa depan, memikirkan seperti apa bentuk-bentuk mental di masa depan, memikirkan seperti apa kesadaran di masa depan, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya terbebani dan melamun akan hal-hal di masa depan, maka orang tersebut terhanyut oleh masa depan”

“Para biksu, apa yang dimaksud dengan ‘tidak terhanyut oleh masa depan’? Ketika seseorang memikirkan seperti apa bentuk badan jasmaninya di masa depan, memikirkan seperti apa perasaannya di masa depan, memikirkan seperti apa persepsinya di masa depan, memikirkan seperti apa bentuk-bentuk mentalnya di masa depan, memikirkan seperti apa kesadarannya di masa depan, ketika dia memikirkan hal-hal demikian, pikirannya tidak terbebani dan tidak melamun akan hal-hal di masa depan, maka orang tersebut tidak terhanyut oleh masa depan”

“Para biksu, apa yang dimaksud ‘terlena jauh oleh masa kini’? ketika seseorang tidak studi atau tidak belajar sesuatu tentang Buddha, atau ajaran tentang cinta kasih dan pengertian, atau komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan kesadaran, ketika orang tesebut tidak tahu apa pun tentang guru mulia dan ajaran-ajarannya, dan tidak berlatih ajarannya, kemudian dia merasa bahwa ‘badan jasmani ini adalah diriku; diriku adalah jasmani ini, perasaan ini adalah diriku; diriku adalah perasaan ini. Persepsi ini adalah diriku, diriku adalah persepsi ini. Bentuk-bentuk mental ini adalah diriku, diriku adalah bentuk-bentuk mental ini. Kesadaran ini adalah diriku, diriku adalah kesadaran’ maka orang tersebut sedang terlena jauh oleh masa kini.’

“Para biksu, apa yang dimaksud ‘tidak terlena jauh oleh masa kini’? ketika seseorang studi atau belajar sesuatu tentang dia yang telah tercerahkan, atau ajaran tentang cinta kasih dan pengertian, atau komunitas yang hidup dalam keharmonisan dan kesadaran, ketika orang tesebut tidak tahu apa pun tentang guru mulia dan ajaran-ajarannya, dan tidak berlatih ajarannya, kemudian dia tidak merasa bahwa ‘badan jasmani ini adalah diriku; diriku adalah jasmani ini, perasaan ini adalah diriku; diriku adalah perasaan ini. Persepsi ini adalah diriku, diriku adalah persepsi ini. Bentuk-bentuk mental ini adalah diriku, diriku adalah bentuk-bentuk mental ini. Kesadaran ini adalah diriku, diriku adalah kesadaran’ maka orang tersebut tidak terlena jauh oleh masa kini.

“Para biksu, saya telah menyampaikan garis-garis besar dan penjelasan detail tentang bagaimana cara baik hidup sendirian.”

Demikianlah yang diajarkan oleh Buddha, dan para biksu dengan senang hati menerapkan ajaran.

Bhaddekaratta Sutta, Majjhima Nikaya 131