
Refleksi dari sebuah titik balik dalam kehidupan Thích Nhất Hạnh
Ada saat-saat dalam kehidupan ketika penderitaan di sekitar terasa begitu pahit sehingga kita bertanya: Apa yang dapat saya lakukan?
Pertanyaan seperti inilah yang muncul dalam kehidupan Thích Nhất Hạnh muda ketika ia menyaksikan penderitaan yang didera oleh rakyat Vietnam dan komunitas Buddhis di negerinya.
Sebuah tulisan dalam The Mindfulness Bell, yang diambil dari biografi Thích Nhất Hạnh yang disusun oleh komunitas Plum Village, mengisahkan salah satu titik balik terpenting dalam perjalanan hidup beliau: bagaimana seorang biksu muda yang berhadapan dengan penderitaan besar menemukan cara untuk tetap hadir, tetap hidup, dan terus menjadi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.
Belajar dari pohon-pohon di musim dingin
Pada awal 1960-an, Thích Nhất Hạnh berada di Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Ia belajar teologi, mendalami filsafat Buddhis, mempelajari bahasa Pali, dan berdialog dengan para akademisi dari berbagai latar belakang.
Namun, pikirannya tetap sering kembali ke Vietnam.
Ketika musim gugur berganti menjadi musim dingin, ia melihat pepohonan menggugurkan daun-daunnya. Pemandangan sederhana itu menjadi realisasi spiritual.
Ada musim ketika segala sesuatu tampak indah dan hijau. Namun, ada pula musim ketika seseorang harus melepaskan sesuatu yang tidak esensial agar dapat bertahan menghadapi badai.
Bagi Thích Nhất Hạnh, gambaran pepohonan tersebut menjadi kontemplasi mendalam tentang Vietnam dan dirinya sendiri. Masa yang sulit mungkin akan datang. Karena itu, seseorang perlu memiliki kedalaman, keteguhan, dan kesiapan batin.
Kita tidak selalu dapat memilih badai yang datang kepada kita. Namun, kita dapat mempersiapkan akar kita.
Ketika bodhisattwa tidak lagi hanya berada di dalam sutra
Pada suatu malam, Thích Nhất Hạnh membaca kisah hidup Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman yang menunjukkan keberanian dan belas kasih dalam menghadapi penderitaan pada masa yang sangat kelam.
Kisah tersebut menyentuh sesuatu yang dalam di dalam dirinya.
Ia semakin memahami bahwa sosok bodhisattwa bukanlah sekadar gambaran makhluk suci yang jauh dan hanya ada di dalam kitab-kitab Buddhis saja.
Bodhisattwa dapat hadir dalam diri manusia biasa.
Seseorang yang melihat penderitaan, tidak berpaling darinya, dan bertanya:
“Apa yang dapat kulakukan untuk meringankan penderitaan ini?”
Pemahaman tersebut kemudian menjadi salah satu benih penting bagi gagasan Agama Buddha Terapan atau Engaged Buddhism—sebuah cara menjalankan praktik Dharma yang tidak berhenti pada meditasi pribadi, tetapi juga menghadirkan pemahaman dan welas asih di tengah masyarakat.
Bermeditasi bukan berarti menjauh dari dunia.
Justru karena kita mampu berhenti dan melihat dengan jernih, kita dapat kembali ke dunia dengan hati yang lebih luas.

Ketika penderitaan Vietnam semakin pilu
Pada tahun 1963, situasi di Vietnam semakin memburuk. Komunitas Buddhis mengalami penindasan, dan kekerasan terhadap masyarakat menimbulkan penderitaan yang luas.
Thích Nhất Hạnh berada jauh dari tanah airnya. Namun jarak geografis tidak membuatnya berhenti peduli.
Ia mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi, membantu menerjemahkan dan menyebarkan dokumentasi, menghubungi berbagai pihak internasional, serta berbicara kepada media dan masyarakat Amerika tentang penderitaan rakyat Vietnam. Ia menjadi sebuah jembatan.
Di satu sisi ada mereka yang sedang mengalami penderitaan tetapi suaranya tidak terdengar. Di sisi lain ada masyarakat internasional yang mungkin tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Thích Nhất Hạnh menggunakan apa yang ia miliki—kata-kata, relasi, pendidikan, dan kesempatan untuk berbicara—untuk menghubungkan keduanya.
Di sinilah kita melihat makna penting dari menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar. Kita tidak selalu memiliki kekuasaan yang besar. Kadang-kadang yang kita miliki hanyalah kemampuan untuk mendengarkan, memahami, lalu berbicara dengan jelas.
Sebuah titik balik
Penderitaan yang ia saksikan akhirnya membawa Thích Nhất Hạnh kepada sebuah keputusan yang sangat berat.
Namun sebuah percakapan sederhana dengan seorang profesor yang dekat dengannya menjadi titik balik.
Sang profesor mendengarkan cerita tentang situasi di Vietnam. Setelah lama terdiam, ia mengatakan kepadanya, pada intinya: “engkau ada di sini untuk membantu saudara-saudarimu di tanah air. Gunakan waktu dan tenagamu untuk berbicara bagi mereka“.
Kalimat sederhana itu mengguncang sesuatu di dalam dirinya. Dalam perjalanan pulang, ia merenungkan semuanya. Dan di tengah perjalanan itu, ia memutuskan untuk melanjutkan hidup dan mengabdikan dirinya melalui jalan lain.
Ia menyadari bahwa ia memiliki cara sendiri untuk melayani Dharma dan dunia. Keputusan tersebut kemudian membuka jalan panjang bagi kehidupannya sebagai guru, penulis, aktivis perdamaian, dan pembawa ajaran kesadaran penuh (mindfulness) kepada banyak orang di seluruh dunia.
Kita juga dapat menjadi suara
Kisah ini mungkin terasa seperti bagian dari sejarah Vietnam. Namun sebenarnya pertanyaannya sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini.
Di sekitar kita selalu ada orang-orang yang tidak terdengar. Anak yang tidak berani mengatakan bahwa ia sedang mengalami kesulitan. Orang tua yang kesepian tetapi tidak ingin merepotkan anak-anaknya.
Kelompok masyarakat yang suaranya lebih lemah dibandingkan mereka yang memiliki kekuasaan. Alam yang terus mengalami kerusakan, tetapi tidak dapat berbicara dalam bahasa manusia.
Bahkan kadang-kadang, suara yang paling tidak kita dengarkan adalah suara dari dalam diri kita sendiri. Menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar tidak selalu berarti berbicara dengan keras.
Kadang-kadang justru dimulai dengan mendengarkan secara mendalam. Ketika kita benar-benar mendengarkan, kita mulai memahami. Ketika kita memahami, kita tidak mudah menghakimi.
Dan, ketika pemahaman bertumbuh, tindakan kita dapat lahir bukan dari kemarahan atau kebencian, melainkan dari kasih dan kejernihan.

Dari penderitaan menuju tindakan penuh welas asih
Salah satu warisan terpenting Thích Nhất Hạnh adalah pemahaman bahwa mindfulness bukanlah pelarian dari penderitaan.
Kita berhenti.
Kita bernapas.
Kita melihat apa yang sedang terjadi.
Lalu, dari kejernihan itu, kita bertanya:
“Apa tindakan yang paling dapat membawa pemahaman dan mengurangi penderitaan?”
Jawabannya tidak selalu sama bagi setiap orang.
Bagi seseorang, itu mungkin berarti berbicara ketika terjadi ketidakadilan.
Bagi orang lain, itu mungkin berarti mendengarkan seorang teman yang sedang mengalami masa sulit.
Bagi yang lain lagi, mungkin berarti mengajar, merawat, menulis, membangun komunitas, melestarikan alam, atau menciptakan ruang agar pihak lain merasa aman dan didengarkan.
Yang penting bukan seberapa besar tindakan kita. Yang penting adalah dari mana tindakan itu berasal.
Tetap hadir
Kisah Thích Nhất Hạnh mengingatkan kita bahwa ketika dunia sedang terluka, kita mungkin tergoda untuk percaya bahwa kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa agar hidup terasa berarti.
Padahal, terkadang dunia justru membutuhkan kita untuk tetap hadir.
Tetap bernapas.
Tetap berjalan.
Tetap menjaga kejernihan.
Tetap membuka hati.
Dan menggunakan apa pun yang ada di tangan kita untuk meringankan penderitaan.
Sebuah suara mungkin terdengar kecil.
Tetapi ketika suara itu lahir dari kasih, kejernihan, dan keberanian, ia dapat menjadi jembatan bagi banyak orang.
Mungkin inilah salah satu bentuk praktik Dharma yang paling nyata:
Melihat penderitaan, tidak berpaling darinya, dan menemukan cara untuk hadir sebagai sebuah jawaban.
Bukan dengan menjadi lebih keras daripada dunia, tetapi dengan menjadi lebih sadar.
Bukan dengan menambah kebencian, tetapi dengan menghadirkan pengertian.
Dan bukan dengan bertanya, “Mengapa dunia begitu penuh penderitaan?”
melainkan dengan perlahan bertanya:
“Dengan kehidupan yang kumiliki hari ini, penderitaan apa yang dapat kubantu ringankan?”
Disarikan dari “A Voice for the Voiceless“, kemudian diedit oleh Br. Pháp Tử
Discover more from Komunitas Zen Plum Village
Subscribe to get the latest posts sent to your email.