Suara Bagi yang Tak Bersuara

Suara Bagi yang Tak Bersuara
Highland Stilt House at Fragrant Palm Leaves Hermitage, 1958. Right to left: Thầy Thanh Tuệ, Thầy Thanh Văn, Lý Đại Nguyên, Thầy Nhất Hạnh, Thanh Giới, Dương Thi, and children.

Refleksi dari sebuah titik balik dalam kehidupan Thích Nhất Hạnh

Ada saat-saat dalam kehidupan ketika penderitaan di sekitar terasa begitu pahit sehingga kita bertanya: Apa yang dapat saya lakukan?

Pertanyaan seperti inilah yang muncul dalam kehidupan Thích Nhất Hạnh muda ketika ia menyaksikan penderitaan yang didera oleh rakyat Vietnam dan komunitas Buddhis di negerinya.

Sebuah tulisan dalam The Mindfulness Bell, yang diambil dari biografi Thích Nhất Hạnh yang disusun oleh komunitas Plum Village, mengisahkan salah satu titik balik terpenting dalam perjalanan hidup beliau: bagaimana seorang biksu muda yang berhadapan dengan penderitaan besar menemukan cara untuk tetap hadir, tetap hidup, dan terus menjadi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.

Belajar dari pohon-pohon di musim dingin

Pada awal 1960-an, Thích Nhất Hạnh berada di Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Ia belajar teologi, mendalami filsafat Buddhis, mempelajari bahasa Pali, dan berdialog dengan para akademisi dari berbagai latar belakang.

Namun, pikirannya tetap sering kembali ke Vietnam.

Ketika musim gugur berganti menjadi musim dingin, ia melihat pepohonan menggugurkan daun-daunnya. Pemandangan sederhana itu menjadi realisasi spiritual.

Ada musim ketika segala sesuatu tampak indah dan hijau. Namun, ada pula musim ketika seseorang harus melepaskan sesuatu yang tidak esensial agar dapat bertahan menghadapi badai.

Bagi Thích Nhất Hạnh, gambaran pepohonan tersebut menjadi kontemplasi mendalam tentang Vietnam dan dirinya sendiri. Masa yang sulit mungkin akan datang. Karena itu, seseorang perlu memiliki kedalaman, keteguhan, dan kesiapan batin.

Kita tidak selalu dapat memilih badai yang datang kepada kita. Namun, kita dapat mempersiapkan akar kita.

Ketika bodhisattwa tidak lagi hanya berada di dalam sutra

Pada suatu malam, Thích Nhất Hạnh membaca kisah hidup Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman yang menunjukkan keberanian dan belas kasih dalam menghadapi penderitaan pada masa yang sangat kelam.

Kisah tersebut menyentuh sesuatu yang dalam di dalam dirinya.

Ia semakin memahami bahwa sosok bodhisattwa bukanlah sekadar gambaran makhluk suci yang jauh dan hanya ada di dalam kitab-kitab Buddhis saja.

Bodhisattwa dapat hadir dalam diri manusia biasa.

Seseorang yang melihat penderitaan, tidak berpaling darinya, dan bertanya:

“Apa yang dapat kulakukan untuk meringankan penderitaan ini?”

Pemahaman tersebut kemudian menjadi salah satu benih penting bagi gagasan Agama Buddha Terapan atau Engaged Buddhism—sebuah cara menjalankan praktik Dharma yang tidak berhenti pada meditasi pribadi, tetapi juga menghadirkan pemahaman dan welas asih di tengah masyarakat.

Bermeditasi bukan berarti menjauh dari dunia.

Justru karena kita mampu berhenti dan melihat dengan jernih, kita dapat kembali ke dunia dengan hati yang lebih luas.

Thầy circa 1966 speaking out for peace at a press conference; photos courtesy of the monastic sangha

Ketika penderitaan Vietnam semakin pilu

Pada tahun 1963, situasi di Vietnam semakin memburuk. Komunitas Buddhis mengalami penindasan, dan kekerasan terhadap masyarakat menimbulkan penderitaan yang luas.

Thích Nhất Hạnh berada jauh dari tanah airnya. Namun jarak geografis tidak membuatnya berhenti peduli.

Ia mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi, membantu menerjemahkan dan menyebarkan dokumentasi, menghubungi berbagai pihak internasional, serta berbicara kepada media dan masyarakat Amerika tentang penderitaan rakyat Vietnam. Ia menjadi sebuah jembatan.

Di satu sisi ada mereka yang sedang mengalami penderitaan tetapi suaranya tidak terdengar. Di sisi lain ada masyarakat internasional yang mungkin tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Thích Nhất Hạnh menggunakan apa yang ia miliki—kata-kata, relasi, pendidikan, dan kesempatan untuk berbicara—untuk menghubungkan keduanya.

Di sinilah kita melihat makna penting dari menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar. Kita tidak selalu memiliki kekuasaan yang besar. Kadang-kadang yang kita miliki hanyalah kemampuan untuk mendengarkan, memahami, lalu berbicara dengan jelas.

Sebuah titik balik

Penderitaan yang ia saksikan akhirnya membawa Thích Nhất Hạnh kepada sebuah keputusan yang sangat berat.

Namun sebuah percakapan sederhana dengan seorang profesor yang dekat dengannya menjadi titik balik.

Sang profesor mendengarkan cerita tentang situasi di Vietnam. Setelah lama terdiam, ia mengatakan kepadanya, pada intinya: “engkau ada di sini untuk membantu saudara-saudarimu di tanah air. Gunakan waktu dan tenagamu untuk berbicara bagi mereka“.

Kalimat sederhana itu mengguncang sesuatu di dalam dirinya. Dalam perjalanan pulang, ia merenungkan semuanya. Dan di tengah perjalanan itu, ia memutuskan untuk melanjutkan hidup dan mengabdikan dirinya melalui jalan lain.

Ia menyadari bahwa ia memiliki cara sendiri untuk melayani Dharma dan dunia. Keputusan tersebut kemudian membuka jalan panjang bagi kehidupannya sebagai guru, penulis, aktivis perdamaian, dan pembawa ajaran kesadaran penuh (mindfulness) kepada banyak orang di seluruh dunia.

Kita juga dapat menjadi suara

Kisah ini mungkin terasa seperti bagian dari sejarah Vietnam. Namun sebenarnya pertanyaannya sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Di sekitar kita selalu ada orang-orang yang tidak terdengar. Anak yang tidak berani mengatakan bahwa ia sedang mengalami kesulitan. Orang tua yang kesepian tetapi tidak ingin merepotkan anak-anaknya.

Kelompok masyarakat yang suaranya lebih lemah dibandingkan mereka yang memiliki kekuasaan. Alam yang terus mengalami kerusakan, tetapi tidak dapat berbicara dalam bahasa manusia.

Bahkan kadang-kadang, suara yang paling tidak kita dengarkan adalah suara dari dalam diri kita sendiri. Menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar tidak selalu berarti berbicara dengan keras.

Kadang-kadang justru dimulai dengan mendengarkan secara mendalam. Ketika kita benar-benar mendengarkan, kita mulai memahami. Ketika kita memahami, kita tidak mudah menghakimi.

Dan, ketika pemahaman bertumbuh, tindakan kita dapat lahir bukan dari kemarahan atau kebencian, melainkan dari kasih dan kejernihan.

Left to right: Lewis Richmond, Richard Baker Roshi, and Thích Nhất Hạnh march for nuclear disarmament in 1982

Dari penderitaan menuju tindakan penuh welas asih

Salah satu warisan terpenting Thích Nhất Hạnh adalah pemahaman bahwa mindfulness bukanlah pelarian dari penderitaan.

Kita berhenti.

Kita bernapas.

Kita melihat apa yang sedang terjadi.

Lalu, dari kejernihan itu, kita bertanya:

“Apa tindakan yang paling dapat membawa pemahaman dan mengurangi penderitaan?”

Jawabannya tidak selalu sama bagi setiap orang.

Bagi seseorang, itu mungkin berarti berbicara ketika terjadi ketidakadilan.

Bagi orang lain, itu mungkin berarti mendengarkan seorang teman yang sedang mengalami masa sulit.

Bagi yang lain lagi, mungkin berarti mengajar, merawat, menulis, membangun komunitas, melestarikan alam, atau menciptakan ruang agar pihak lain merasa aman dan didengarkan.

Yang penting bukan seberapa besar tindakan kita. Yang penting adalah dari mana tindakan itu berasal.

Tetap hadir

Kisah Thích Nhất Hạnh mengingatkan kita bahwa ketika dunia sedang terluka, kita mungkin tergoda untuk percaya bahwa kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa agar hidup terasa berarti.

Padahal, terkadang dunia justru membutuhkan kita untuk tetap hadir.

Tetap bernapas.

Tetap berjalan.

Tetap menjaga kejernihan.

Tetap membuka hati.

Dan menggunakan apa pun yang ada di tangan kita untuk meringankan penderitaan.

Sebuah suara mungkin terdengar kecil.

Tetapi ketika suara itu lahir dari kasih, kejernihan, dan keberanian, ia dapat menjadi jembatan bagi banyak orang.

Mungkin inilah salah satu bentuk praktik Dharma yang paling nyata:

Melihat penderitaan, tidak berpaling darinya, dan menemukan cara untuk hadir sebagai sebuah jawaban.

Bukan dengan menjadi lebih keras daripada dunia, tetapi dengan menjadi lebih sadar.

Bukan dengan menambah kebencian, tetapi dengan menghadirkan pengertian.

Dan bukan dengan bertanya, “Mengapa dunia begitu penuh penderitaan?”

melainkan dengan perlahan bertanya:

“Dengan kehidupan yang kumiliki hari ini, penderitaan apa yang dapat kubantu ringankan?”

Disarikan dari “A Voice for the Voiceless“, kemudian diedit oleh Br. Pháp Tử

Surat Terbuka untuk Menyuarakan Perdamaian

Surat Terbuka untuk Menyuarakan Perdamaian

02.04.2022

Keluarga terkasih,

Menyaksikan tragedi perang yang terus berlanjut di Ukraina, kami membuka hati kami untuk mereka yang menderita baik para lansia maupun belia. Sebagai Komunitas Internasional Agama Buddha Terjun Aktif (Engaged Buddhism) dalam tradisi Plum Village, kami merasakan kepedihan dan kekhawatiran melihat peperangan ini.

Dalam komunitas Buddhis kami, setiap Natal kami mendengarkan bunyi lonceng gereja Rusia dengan penuh sukacita, dan kami membuka hati kami untuk melihat kekayaan warisan spiritual dari Rusia dan Eropa. Guru kami, Master Zen Thich Nhat Hanh, menyampaikan bahwa “Sebuah lonceng hanyalah sebuah lonceng, apakah itu lonceng dari Katolik, Protestan, Ortodoks, atau Buddhis, semuanya adalah lonceng.” Apa pun budaya atau agama kita, ketika mendengarkan suara lonceng, kita dapat menyaksikan dengan mendalam, saat itu kita dapat menyentuh kedamaian dan bersama-sama berada dalam sebuah dimensi spiritual. Kita semua mendambakan perdamaian. Kita butuh perdamaian.

Akar dari komunitas kami adalah tradisi Agama Buddha Terjun Aktif di Vietnam, lebih dari tiga juta orang meninggal dunia selama perang yang berlangsung hampir 20 tahun dan lebih dari dua juta orang melarikan diri dalam pengungsian. Kami tahu dari guru kami bahwa perang bukanlah solusi. Perang hanya membawa perpecahan dan kebencian yang berlangsung dari generasi ke generasi.

Guru kami berjuang untuk perdamaian tanpa lelah dengan memilih untuk tidak berpihak. Alih-alih, beliau memohon kedua belah pihak untuk melihat secara mendalam atas rasa pedih yang ada dalam diri masing-masing, kecemasan, dan ketakutan, kemudian melihat kenyataan dampak yang sangat mengerikan yang dialami oleh para korban perang. Diasingkan dari Vietnam, beliau menjadi pemimpin spiritual dari gerakan global untuk perdamaian, rekonsiliasi, dan pelucutan senjata.

Kami yakin bahwa pesan perdamaian universal dari guru kami dapat memberikan secercah harapan dalam momen yang sangat genting ini untuk Ukraina, Rusia, dan kemanusiaan. Sejarah menjadi saksi bahwa perang dapat bertransformasi menjadi perdamaian; mereka yang selamat dapat menyembuhkan lukanya. Atas nama guru kami, Thich Nhat Hanh, atas nama cinta kasih, welas asih, dan wawasan beliau yang mendalam, kami sebagai murid-muridnya menyerukan gencatan senjata untuk mengakhiri pertumpahan darah di Ukraina. Kami mengirimkan cinta kasih dan dukungan untuk para negosiator kedua belah pihak. Semoga mereka dapat saling mendengarkan dengan mendalam sehingga dapat menciptakan kondisi untuk perdamaian.

Buddha memberitahu kita bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah pihak lain namun musuh sesungguhnya adalah ketakutan, kecemasan, kesedihan, kemarahan, keserakahan, ketidaktahuan, dan kebencian kita sendiri. Perang terjadi karena pandangan dualistik dan diskriminatif, dan karena suatu pemikiran bahwa dengan menghancurkan apa yang kita sebut sebagai musuh, barulah kita dapat mendapatkan perdamaian dan keamanan. Tetapi, seperti yang Buddha sabdakan, kebencian tidak dapat mengakhiri kebencian. Hanya pengertian dan cinta kasih yang dapat mentransformasi kebencian.

Seperti yang guru kami katakan, ketika ada kedamaian dalam diri, maka akan ada kedamaian dalam dunia. Jika kita bisa mengakhiri perang di Ukraina dan menciptakan perdamaian, seluruh dunia akan merasakan manfaatnya, karena sebagai umat manusia, kita saling terkoneksi dan saling bergantungan. Kami juga berharap agar sumber daya global yang berharga dialokasikan untuk perang dapat dialihkan untuk mereka yang sangat membutuhkan, seperti untuk mengatasi penyakit, kemiskinan, kelaparan dan kekurangan gizi, perdagangan manusia – termasuk masalah eksploitasi anak – stres lingkungan, dan perubahan iklim.

Dunia kita ini membutuhkan budaya perdamaian. Kita sebagai keluarga manusia perlu mempercepat langkah menuju evolusi yang lebih tinggi; menuju spiritualitas “kosmik” dan etika yang dapat menyatukan semua pihak dan negara, menghapus pemisahan dan diskriminasi. Dengan semangat ini, kami sebagai Komunitas Agama Buddha Terjun Aktif, memperbarui komitmen kami pada Malam Tahun Baru 2021 untuk berlatih kesadaran penuh untuk perdamaian di Bumi. Di bawah ini, kami ingin berbagi tekad dan komitmen kami yang terdalam dengan penuh cinta kasih.

Memperjuangkan perdamaian adalah usaha dari semua makhluk yang mulia. Sebagai satu keluarga manusia, untuk rakyat Ukraina, Rusia, dan para tentara di kedua belah pihak, tugas kami yang paling mendesak adalah mencurahkan seluruh energi dan usaha untuk mengeksplorasi semua opsi untuk perdamaian, dalam situasi saat ini yang penuh dengan bahaya bagi kemanusiaan.

Seluruh leluhur dan generasi yang akan datang menaruh harapan kepada kita semua.

Dengan penuh cinta kasih dan keyakinan,

Biksu Thích Chân Pháp Ấn
Biksu Senior di Komunitas Plum Village

Biksuni Thích Nữ Chân Không
Biksuni Senior di Komunitas Plum Village

 



 

Menumbuhkembangkan Budaya Kedamaian

Komitmen Komunitas Kami dan Doa Malam Tahun Baru 2021

 

Para leluhur kami yang terkasih, Ibunda Bumi yang terkasih,

Selama lebih dari dua tahun ini, ketidakpastian, kecemasan, dan kehilangan orang-orang terkasih selama pandemi COVID-19 telah meningkatkan rasa ketakutan, kemarahan, dan kebencian kita sebagai satu keluarga manusia. Mengkontemplasikan kemungkinan atas penderitaan dan kekerasan yang akan terus berlangsung, dan kemungkinan akan terus berkembang dalam skala yang lebih besar, kami bertekad untuk menumbuhkembangkan kedamaian dalam diri sendiri dan dunia ini. Mengikuti semangat kearifan Buddha bahwa penderitaan sebagai Kebenaran Mulia, kami beraspirasi untuk mempraktikkan latihan sadar-penuh demi perdamaian di Bumi ini.

Latihan Sadar-penuh untuk Perdamaian di Bumi

Menyadari penderitaan yang disebabkan oleh potensi manusia yang bisa menghancurkan dirinya sendiri – melalui tindakan-tindakan ceroboh dan tidak berkesadaran – telah memusnahkan banyak jenis kehidupan di Bumi, kami bertekad untuk menumbuhkembangkan budaya menghargai jaringan kehidupan yang menyokong kita semua. Hal ini dapat kita lakukan dengan bertekad secara kolektif untuk berlatih seni hidup berkesadaran penuh dan mengintegrasikan nilai-nilai nonkekerasan dan kedamaian dalam kehidupan, saling-ketergantungan dan interdependensi dari semua bentuk kehidupan di Bumi ini.

Kami berlatih secara kolektif (maupun individual) sedemikian rupa sehingga bisa menghentikan semua tindakan dan sikap yang menyebabkan kehancuran umat manusia sebagai satu keluarga, spesies flora maupun fauna, juga planet kita ini. Seluruh tindakan destruktif ini juga mencakup pengembangan dan produksi senjata seperti nuklir dan senjata biokimia, dan teknologi maju demi mengobarkan perang di dunia maya dan ruang angkasa. Kami bertekad mengakhiri semua jenis tindakan destruktif berupa penyalahgunaan media sosial dan media-media lainnya untuk memanipulasi pikiran dan emosi manusia yang dapat mengakibatkan kebingungan, ketidakpercayaan, kemarahan, kebencian, dan kekerasan manusia sebagai satu keluarga, dan kekejaman terhadap spesies-spesies lain baik flora mapun fauna.

Kami menyalurkan energi kolektif kemanusiaan, baik kekayaan materi maupun spiritual, menuju tindakan-tindakan positif dan bermanfaat yang dapat membantu kita untuk belajar, mengerti, dan mempercayai satu sama lainnya; energi yang menutrisi eksistensi kita semua sebagai satu keluarga di tengah-tengah spesies-spesies lainnya, dan melindungi Ibunda Bumi yang terkasih ini.

Dengan keterbukaan dan kerendahan hati, kami belajar untuk merangkul satu sama lainnya secara budaya, politik, sosial secara adil. Kami hendaknya menghormati keragaman etnik, gender, usia, dan agama atau kepercayaan pihak lain sehingga kita dapat membangun dan menumbuhkembangkan persaudaraan di muka Bumi ini, sehingga tercipta perdamaian dengan seluruh makhluk hidup dan planet ini.