Transformasi Konflik Menjadi Cinta Kasih

Transformasi Konflik Menjadi Cinta Kasih

Dalam upaya merawat dan memperkuat keharmonisan rumah tangga umat Buddha berdasarkan nilai-nilai Dharma, Perkumpulan Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Provinsi Riau, yang dikoordinasikan bersama WBI Vihara Dhamma Santi, WBI Vihara Dharma Manggala, dan WBI Dhammaguna Buddhist Centre, menyelenggarakan kegiatan Penyegaran Perkawinan. Kegiatan ini mengadopsi metode latihan kesadaran penuh dalam tradisi Zen Plum Village, mengajak para pasangan untuk kembali hadir sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan yang penuh pengertian, cinta kasih, dan harmoni.

Mengusung tema “METTA-morfosis: Transformasi Konflik Menjadi Cinta Kasih”, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu YM. Bhante Thiradhammo Mahathera dan MUP. Toni Sasanasurya. Keduanya berbagi wawasan tentang kehidupan berumah tangga dari perspektif spiritual dan pengalaman kehidupan keluarga. Melalui Dharma, para peserta diajak untuk melihat bahwa keharmonisan bukan berarti tidak pernah mengalami perbedaan atau konflik, melainkan kesediaan untuk saling memahami dan bertumbuh bersama di tengah berbagai tantangan dalam kehidupan.

Selain mendengarkan pembabaran Dharma dan berbagi pengalaman, para pasangan berlatih meditasi duduk, gerak berkesadaran, makan berkesadaran, berjalan berkesadaran, serta relaksasi total. Berbagai latihan ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan, kembali pada napas, dan menyadari kehadiran diri sendiri maupun pasangan dengan lebih utuh.

Salah satu momen yang bermakna adalah upacara penyegaran janji pernikahan. Para pasangan membacakan aspirasi bersama dan saling mempersembahkan sekuntum bunga sebagai ungkapan cinta kasih, penghargaan, dan kesetiaan. Mereka juga kembali mengikatkan pita kuning pada lengan pasangan sebagai simbol bahwa kehidupan rumah tangga mereka dipersatukan dan dibimbing oleh Dharma. Pita tersebut sekaligus menjadi pengingat akan komitmen untuk terus merawat cinta, memperkuat ikatan batin, dan berjalan bersama dalam suka dan duka. Sesi ini dipandu oleh Romo Toni dan dilengkapi dengan pemberkahan tirta suci oleh YM. Bhante Thiradhammo Mahathera.

Dalam kehidupan berumah tangga, komunikasi yang baik bukan sekadar kemampuan menyampaikan pikiran, melainkan juga kesediaan untuk mendengarkan dengan sepenuh hati. Melalui sesi Beginning Anew atau Memulai Lembaran Baru, para pasangan berlatih menggunakan bahasa kasih dan mendengarkan secara mendalam. Dalam suasana yang hangat dan penuh perhatian, mereka diberi kesempatan untuk menyirami benih-benih kebaikan dalam diri pasangan, mengungkapkan penghargaan, serta menyampaikan penyesalan atas perkataan atau tindakan yang mungkin pernah melukai.

Ada tanaman di pot, apakah harus tunggu layu terlebih dahulu, baru kita sirami dan pupuk?
–Lilia Handayani (Ketua Perkumpulan Wanita Buddhis Indonesia Provinsi Riau)

Dengan saling menggenggam tangan dan menatap pasangan, mereka berlatih berbicara dari hati yang tulus sekaligus mendengarkan tanpa tergesa-gesa menghakimi atau membela diri. Latihan ini membuka ruang untuk memahami perasaan dan kebutuhan satu sama lain, menyentuh kembali kasih yang mungkin tertutupi oleh kekecewaan, serta mengambil langkah menuju pemulihan hubungan. Sesi tersebut ditutup dengan Hugging Meditation atau meditasi berpelukan, ketika para pasangan saling memeluk dengan penuh kesadaran, hadir sepenuhnya di sini dan saat ini. Pelukan itu menjadi ungkapan sederhana bahwa di balik perbedaan dan kesulitan, mereka masih memiliki kesempatan untuk saling memahami dan kembali terhubung.

Kegiatan yang diikuti oleh sembilan pasangan Buddhis ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.00. Turut hadir Pembimas Agama Buddha Provinsi Riau, Bapak Wiriyanto beserta istri, yang memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Penyegaran Perkawinan sebagai salah satu upaya memperkuat kehidupan keluarga yang berlandaskan Dharma.

Melalui kegiatan ini, para pasangan diharapkan dapat membawa pulang bukan hanya pengalaman yang menyegarkan, tetapi juga tekad untuk terus mempraktikkan kesadaran penuh dalam kehidupan sehari-hari. Dengan belajar berhenti sejenak, kembali kepada napas, berbicara dengan penuh kasih, dan mendengarkan secara mendalam, setiap pasangan memiliki kesempatan untuk mengubah kesalahpahaman menjadi pengertian, merawat luka dengan kelembutan, dan menyirami benih-benih kebahagiaan dalam hubungan mereka.

Sebab, cinta kasih bukan hanya sesuatu yang dirasakan, melainkan juga latihan yang perlu dirawat setiap hari. Semoga setiap keluarga Buddhis dapat menjadi tempat bertumbuhnya pengertian, kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan, sehingga kehidupan rumah tangga sungguh menjadi perjalanan bersama yang sarat makna dan membawa kesejahteraan bagi seluruh anggota keluarga.

Penulis: Livia; 真雨幸福, True Rain of Happiness, anggota Ordo Interbeing Indonesia; diedit oleh Br. Pháp Tử.

Buddha Wanita: Sebuah Revolusi untuk Biksuni Tradisi Plum Village

Buddha Wanita: Sebuah Revolusi untuk Biksuni Tradisi Plum Village
Biksuni tradisi Plum Village

Pada tahun 2005, Thich Nhat Hanh, Sister Chan Kong, dan delegasi monastik serta perumahtangga pergi ke Vietnam untuk pertama kalinya sejak Thay diasingkan 39 tahun yang lalu.

Ketika perayaan tahun baru lunar, Thay berdiri paling depan di barisan para biksu tetua, sementara para biksuni duduk dengan tangan beranjali. Seorang biksu membacakan teks yang mengagungkan kehadiran Awalokiteshwara – bodhisatwa penuh welah asih – di dalam setiap biksuni, dan mendeklarasikan tekad berlatih winayanya dengan sungguh-sungguh demi melindungi dirinya sendiri juga biksuni lain.

Thay kemudian bernamaskara tiga kali di hadapan para biksuni – hal ini membuat biksu-biksu tetua yang berdiri di samping Thay terkejut. Para biksu tidak pernah terpikir untuk menunjukkan rasa hormat kepada biksuni, namun mereka mengikuti teladan Thay. Walaupun ini merupakan latihan standar di wihara-wihara Plum Village, bernamaskara kepada biksuni merupakan momen yang hebat, merendahkan hati, momen transformasional bagi tradisi monastik di Vietnam.

Thay, Sister Chan Khong dan monastik-monastik Plum Village lainnya sudah membuat perubahan-perubahan revolusioner untuk biksuni di Plum Village, antara lain menyetarakan status, suara dan pengaruh sehingga sama dengan para biksu. Berikut beberapa perubahan utama untuk biksuni di komunitas Plum Village:

  • Sementara banyak biksuni di komunitas-komunitas Buddhis lain tidak bisa menerima penahbisan penuh, biksuni-biksuni di Plum Village ditahbiskan sampai ke level yang sama dengan saudara-saudara monastik lainnya.
  • Semua monastik saling berbagi tugas, di dalam maupun di luar wihara. Biksu dan biksuni bertanggungjawab untuk mengajar, menyusun perencanaan, memasak, membersihkan wihara, mengurus keuangan, dan lain sebagainya. Dalam pengambilan keputusan di wihara, pendapat biksu dan biksuni sama-sama dihargai secara setara melalui prosedur demokrasi Sanghakarman.
  • Secara tradisional, biksuni yang paling senior akan ditempatkan di belakang biksu yang paling muda saat meditasi duduk dan jalan, serta dalam upacara dan prosesi. Di wihara-wihara Plum Village, biksu dan biksuni duduk, berjalan dan melakukan namaskara secara berdampingan.
  • Secara tradisonal, hanya biksu yang memberikan wejangan Dharma, mereka juga jarang melibatkan biksuni dan wanita. Di wihara-wihara Plum Village, biksu dan biksuni secara begantian memberikan wejangan Dharma, dan wejangan ini ditujukan untuk seluruh komunitas. Ketika para monastik belum memiliki pengalaman untuk memberikan wejangan sendirian, maka mereka mengajar dalam kelompok dengan jumlah biksu dan biksuni yang seimbang.
  • Tiga murid utama yang ditahbiskan oleh Thay adalah biksuni: Sister Chan Kong, Sister Chan Duc dan Sister Chan Vi. Sekarang, lebih dari separuh praktisi monastik Plum Village adalah wanita.
  • Ajaran-ajaran Thich Nhat Hanh itu inklusif. Ajaran dan latihan-latihan untuk monastik ditujukan untuk biksu dan biksuni secara setara, demikian juga ceramah, buku dan latihan yang diberikan kepada perumahtangga juga untuk semua orang. Thay selalu cermat dalam frekuensi pengunaan kata ganti orang ketiga wanita (she), kata ganti orang ketiga pria (he) dan ‘seseorang’ yang netral, serta ‘mereka’ dalam buku maupun ceramah Dharmanya.
  • Kebanyakan wihara tidak memiliki kondisi biksu dan biksuni berlatih berdampingan. Namun, Thay mengatur wihara Plum Village supaya para biksu dan biksuni berlatih, belajar, bekerja dan bermain bersama. Pengaturan ini mendorong para monastik untuk melihat satu sama lain sebagai saudara dan saudari dari keluarga yang sama, mengurangi fantasi dan persepsi salah yang dapat menciptakan jarak, serta membantu para monastik menghadapi energi seksual secara langsung alih-alih menghindari atau menahannya.
  • Dalam latihan Touching the Earth (Menyentuh Bumi), yaitu latihan menghormati para leluhur dan senior, Thay menambahkan beberapa figur wanita kehormatan lainnya: Mahagotami, biksuni yang ditahbiskan pertama kali; Awalokiteshwara, bodhisatwa penuh welas asih; serta Ibu Pertiwi.
  • Ajaran-ajaran, seremoni dan kaligrafi Thay berpusat pada Ibu Pertiwi, mengakui beliau sebagai seorang bodhisatwa. Penekanan Thay mengacu pada ajaran mengenai Hakikat Kebuddhaan dan guru terkandung dalam femininitas.
  • Thay menciptakan delapan “Guru Dharma” untuk biksu, serupa dengan sekumpulan tata acara yang diciptakan oleh Buddha mengenai bagaimana biksuni berinteraksi dengan biksu. Delapan Gurudharmas untuk biksu bisa diakses melalui Mindfulness Bell di sini (halaman 19).
  • Untuk pertama kalinya sejak masa Buddha, Thay membantu merevisi Pratimoksha, kode etik monastik untuk biksu dan biksuni yang sudah menerima penahbisan penuh.
  • Secara tradisional, biksuni dan teman perumahtangga tidak diizinkan membaca vinaya biksu. Di wihara Plum Village, Thay membuat vinaya biksu dan biksuni tersedia untuk kalangan umum.
  • Menurut Pratimoksha (sila monastik), seorang biksu boleh lepas jubah sampai tujuh kali. Namun jika seorang biksuni yang sudah ditahbiskan penuh lepas jubah, ia hanya bisa kembali sebagai samaneri dan tidak bisa menerima penahbisan penuh kembali. Dalam tradisi Plum Village, Thay mengizinkan biksuni untuk menerima penahbisan ulang penuh.

Secara keseluruhan, Thay menekankan bahwa anggota sanggha berlapis empat harus dihargai dan dihormati karena latihan dan kapasitas mereka untuk hidup dalam harmoni, bukan karena gender mereka. Posisi revolusioner biksuni-biksuni di Plum Village menarik banyak wanita untuk ditahbiskan di komunitas tersebut, baik perumahtangga wanita maupun samaneri yang telah berlatih di tradisi-tradisi lain.

Latihan dan cara hidup di Plum Village telah mendorong pemberdayaan biksuni muda dalam latihan mereka, serta mengubah cara mereka memandang diri sendiri. Latihan-latihan ini akan mempengaruhi cara pelatihan murid-murid di masa yang akan datang, sehingga menyediakan banyak ruang gerak, kepercayaan dan suara bagi wanita.

Terima kasih, Thay dan komunitas terkasih, atas daya upaya yang berkelanjutan untuk mendukung saudari-saudari monastik kita. Kami merunduk penuh rasa syukur kepada Sister Dang Nghiem dan Sister Hien Nghiem atas kontribusinya untuk daftar ini. (Alih bahasa: Aya Muhartono)

Sumber: Female Buddhas: A Revolution for Nuns in the Plum Village Tradition